Scroll untuk baca artikel
Otomotif

Ini yang Bikin Degdegan Kalau Beli Mobil Listrik! Kenali Jenis, Risiko, hingga Hitung-hitungan Biayanya

66
×

Ini yang Bikin Degdegan Kalau Beli Mobil Listrik! Kenali Jenis, Risiko, hingga Hitung-hitungan Biayanya

Share this article

Ingin beralih ke mobil listrik? Kenali jenis baterai baterai mobil listrik, harga penggantian, hingga tips perawatan agar awet dan aman dari risiko terbakar. Baca selengkapnya!

OLX News – Banyak orang mengira kalau mobil listrik adalah teknologi yang baru ditemukan belakangan ini. Padahal, jika ditengok sejarahnya, mobil listrik sudah mulai wara-wiri sejak tahun 1830-an. Bahkan sudah ada jauh sebelum mobil bensin merajai jalanan.

Example 300x600

Para insinyur di zaman itu sudah mencoba menggerakkan roda dengan aliran setrum.

Namun, yang membuat mobil listrik zaman sekarang jauh lebih canggih dan diminati adalah teknologi baterai mobil listrik yang kian efisien.

Tentunya memahami urusan baterai menjadi wajib bagi banyak orang yang berencana memiliki mobil listrik agar tidak menyesal nantinya.

Baca Juga:

Baterai Mobil Listrik Paling Kuat, Golden Shield Battery, Hadir di CHANGAN Deepal S07

Mengenal Jenis Baterai Mobil Listrik yang Populer

Tips Merawat Baterai Mobil Listrik

Saat ini, tidak semua mobil listrik menggunakan jenis baterai yang sama. Di pasar Indonesia, ada dua jenis yang paling banyak digunakan:

  • Lithium-Ion (NMC): Banyak dipakai merek besar seperti Tesla atau Hyundai. Kelebihannya punya kepadatan energi tinggi sehingga jarak tempuh lebih jauh, namun harganya lebih mahal karena menggunakan kandungan nikel.
  • Lithium Iron Phosphate (LFP): Populer karena digunakan oleh produsen asal Tiongkok seperti Wuling atau BYD. Jenis ini lebih awet, tahan panas, dan harganya lebih terjangkau, meski kelemahannya ada pada bobot yang lebih berat.

Rentan Terbakar? Ini Faktanya! 

Kebakaran baterai lithium

Harus diakui, setiap teknologi pasti selalu punya tantangan. Tidak terkecuali baterai mobil listrik.

Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 ini, tercatat beberapa kasus kebakaran mobil listrik di Indonesia yang patut jadi pelajaran:

  • Penjaringan, Desember 2025: Sebuah ledakan terjadi saat pengisian daya di sebuah permukiman. Diduga karena prosedur yang tidak standar, api menyambar bahan mudah terbakar di sekitar lokasi saat mobil sedang melakukan pengisian daya (home charger).
  • Bandung, Juli 2025: Sebuah unit Wuling Air EV terbakar di jalan raya setelah muncul suara ledakan dari bagian depan, diduga akibat masalah pada sistem kelistrikan.
  • Mei 2025: Kasus BYD Seal yang mengeluarkan asap tiba-tiba saat terparkir di garasi.
  • Tol JORR, Jan 2026: Sebuah DFSK Gelora E terbakar, namun setelah diperiksa, api tidak berasal dari baterai utama melainkan dari bagian lain di bawah jok.

Fakta penting yang bisa kita jadikan catatan dari kasus-kasus di atas adalah sebagian besar bukan disebabkan oleh baterai yang “meledak” sendiri, melainkan korsleting pada sistem pengisian daya atau kabel yang tidak standar.

Kebakaran EV Butuh Penanganan Khusus

Baterai mobil listrik memiliki karakteristik thermal runaway. Jika sel baterai rusak akibat benturan yang sangat keras, akan terjadi reaksi kimia panas, dan bahayanya lagi karena baterai yang terbakar bisa menghasilkan oksigen sendiri.

Itulah sebabnya pemadam kebakaran butuh waktu lebih lama untuk mendinginkan suhu baterai agar api tidak muncul kembali.

Saat ini baterai mobil listrik modern sudah dilengkapi perlindungan standar IP68 (tahan air dan debu) serta sensor suhu sensitif.

Rata-rata pabrikan mobil listrik juga melakukan tes baterai secara ekstrem untuk membuktikan kepada calon konsumen bahwa teknologi baterai mobil listrik yang mereka gunakan sudah jauh lebih aman.

Namun, penggunaan alat pengisian daya (charger) yang asli dan instalasi listrik rumah yang mumpuni adalah kunci keselamatan utama.

Baca Juga: 

Wuling Siap Produksi Baterai Mobil Listrik “MAGIC Battery” di Indonesia

Biaya Penggantian Baterai Mobil Listrik Mahal, Jadi Momok Menakutkan

Sumber: Mobil123

Satu hal yang menjadi momok menakutkan bagi mereka yang berencana memiliki mobil listrik adalah: “Berapa sih harga baterainya kalau rusak?”

Jujur saja, baterai memang merupakan komponen termahal dari sebuah mobil listrik. Harganya bisa mencapai 40% hingga 60% dari harga jual mobilnya.

Untuk mobil listrik kelas menengah, dengan harga jual Rp200 jutaan hingga Rp400 jutaan, biaya penggantian baterai bisa mencapai harga Rp100 juta hingga Rp200 jutaan.

Itu juga alasan mengapa banyak merek merasa wajib untuk memberikan garansi baterai untuk jangka waktu yang sangat lama, rata-rata 8 tahun atau 160.000 kilometer.

Bahkan, Wuling berani memberikan garansi seumur hidup untuk pemilik pertama.

Tapi juga harus diingat, namanya garansi tidak semudah itu dalam proses klaim. Tentu pabrikan akan melihat penyebab kerusakan baterai.

Jika kerusakan karena umur pakai, kemungkinan besar pemilik mobil akan selamat dari urusan merogoh kocek lebih dalam.

Tapi jika ditemukan kesalahan pemilik dalam penggunaan sehari-hari, seperti sering dan dengan sengaja menerobos banjir, lebih sering melakukan pengisian daya secara tidak normal, pemasangan aksesori di luar ketentuan pabrikan, tentu ini jadi batu sandungan dalam urusan klaim garansi.

Tips Merawat Baterai Agar Tahan Hingga 15 Tahun

Menurut keterangan tertulis yang diambil dari website resmi Wuling Motors, baterai mobil listrik umumnya bisa tahan hingga 10–15 tahun atau pemakaian hingga 200 ribu kilometer.

Baterai ini bisa diisi ulang penuh sekitar 1.000 kali. Seiring waktu, kualitasnya memang akan turun perlahan dan setelah melewati 1.000 kali pengisian, performanya biasanya berkurang hingga 40 persen.

Agar baterai mobil listrik bisa awet, ikuti kebiasaan ini:

  • Jaga Level Daya: Usahakan baterai tetap di rentang 20% hingga 80%. Jangan sering membiarkannya sampai 0% atau diisi penuh 100% setiap hari.
  • Batasi Fast Charging: Gunakan pengisian daya cepat hanya saat darurat atau perjalanan jauh. Untuk harian, pengisian daya biasa di rumah lebih ramah bagi umur baterai.
  • Parkir di Tempat Teduh: Suhu ekstrem yang terlalu panas bisa mempercepat penurunan kualitas sel baterai.

Mobil Listrik vs Mobil Konvensional: Mana Lebih Untung?

Sebelum memutuskan, ada baiknya konsumen melihat untung rugi dalam urusan memilih antara mobil listrik dan konvensional. Mari kita hitung pengeluaran jangka panjangnya:

1. Biaya Operasional

Mengisi daya listrik jauh lebih murah dibanding membeli BBM. Untuk jarak yang sama, biaya pengisian daya biasanya hanya sepertiga dari biaya isi bensin. Belum lagi pajak tahunan mobil listrik yang jauh lebih rendah berkat insentif pemerintah.

2. Biaya Servis

Mobil bensin punya ratusan komponen bergerak (oli, filter, busi). Mobil listrik tidak punya itu semua. Anda hanya perlu rutin mengecek ban, kampas rem, dan filter AC. Ini bisa memangkas biaya servis hingga 50%.

3. Untung-Rugi di Jalanan

  • Keuntungan EV: Senyap, tarikan spontan, dan bebas aturan ganjil-genap di Jakarta.

  • Kerugian EV: Waktu pengisian daya lebih lama dibandingkan dengan isi bensin, dan stasiun pengisian di daerah pelosok belum merata.

Kesimpulan

Kesimpulannya, baterai mobil listrik adalah investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan secara finansial, namun menuntut kedisiplinan dari pemiliknya.

Baterai menjadi alasan utama orang beralih ke mobil listrik karena efisiensi biayanya yang bisa memangkas pengeluaran operasional hingga 70% jika dibandingkan dengan mobil bensin.

Namun, harus diingat! Jika kebutuhan beli mobil adalah untuk penggunaan jarak jauh seperti sering ke luar kota atau pergi liburan bersama keluarga, mobil listrik bukan pilihan bijak.

Kecuali kalau penggunaannya hanya untuk mobilitas di perkotaan saja, mungkin mobil bertenaga baterai sudah cukup dan menguntungkan.

Secara keseluruhan, memahami karakteristik baterai bukan hanya soal teknis, melainkan strategi cerdas untuk mendapatkan kenyamanan berkendara yang maksimal sekaligus menjaga kesehatan kantong dalam jangka panjang. (Z)