Lingkungan

Hari Pangan Sedunia 2025: Jaga Pangan Lewat Hutan Lestari

87
hari-pangan-sedunia-2025:-jaga-pangan-lewat-hutan-lestari
Hari Pangan Sedunia 2025: Jaga Pangan Lewat Hutan Lestari

Setiap 16 Oktober, diperingati Hari Pangan Sedunia untuk menegaskan pentingnya akses terhadap pangan yang sehat, cukup, dan berkelanjutan bagi semua orang.

Tahun ini, FAO mengusung tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future” sebuah ajakan global untuk berkolaborasi membangun sistem pangan yang adil, inklusif, dan ramah lingkungan.

Di Indonesia, semangat ini sejalan dengan berbagai upaya konservasi dan keberlanjutan, termasuk yang dilakukan oleh LindungiHutan. Sebab, di balik setiap jenis pangan yang kita nikmati, ada peran penting ekosistem hutan, pesisir, dan masyarakat lokal yang menjaga keseimbangan alam.

Melalui aksi nyata menjaga hutan, daerah aliran sungai, dan mangrove, LindungiHutan berkontribusi menjaga sumber daya alam yang menjadi fondasi sistem pangan berkelanjutan. Namun, apa sebenarnya kaitan antara pangan dan hutan?

Apa Itu Hari Pangan Sedunia?

Hari Pangan Sedunia diperingati tiap 16 Oktober untuk memperingati berdirinya FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1945. Peringatan ini menjadi simbol kepedulian global terhadap isu pangan dan ketahanan hidup manusia di seluruh dunia.

Tujuan utamanya adalah mengajak dunia menyoroti persoalan kelaparan, ketimpangan akses pangan dan keberlanjutan sistem pangan.

Melalui momen ini, FAO mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk memastikan setiap orang memiliki akses terhadap makanan yang sehat dan bergizi.

Tahun 2025 mengusung tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”. Tema ini menegaskan perlunya kerja sama global untuk menciptakan masa depan pangan yang lebih adil, inklusif, dan ramah lingkungan.

Hubungan Hutan dengan Ketahanan Pangan

Hutan dan pangan memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya saling menopang menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia. Tanpa hutan, sistem pangan akan rapuh karena kehilangan penopang utama ekosistemnya.

1. Hutan Menopang Ketahanan Pangan Daratan

Hutan adalah sumber pangan alami yang sering dilupakan. Dari sana lah masyarakat bisa mendapatkan buah-buahan hutan, madu, jamur, rotan muda, hingga satwa liar yang menjadi bagian dari ketahanan pangan.

Lebih dari itu, hutan juga bisa menjaga siklus air dan kesuburan tanah yang menjadi dua unsur penting bagi pertanian. Ketika hutan hilang, lahan pertanian akan rentan terhadap erosi, banjir, dan kekeringan.

Melalui kegiatan reboisasi dan restorasi lahan kritis, LindungiHutan turut menjaga rantai pasok pangan alami. Dengan menjaga hutan tetap hidup, kita juga menjaga sumber pangan yang tumbuh dari daratan.

2. Mangrove dan Pangan Laut: Dapur Alam Masyarakat Pesisir

Tak hanya di darat, ekosistem pesisir juga memiliki peran penting dalam sistem pangan. Hutan mangrove berfungsi sebagai “dapur alami” bagi berbagai biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting.

Akar mangrove menjadi tempat bertelur dan berlindung bagi satwa laut. Tanpa ekosistem ini, populasi ikan dan hasil laut bisa menurun drastis. Melalui program penanaman mangrove, LindungiHutan membantu melindungi pesisir sekaligus menjamin sumber protein masyarakat lokal.

Menurut studi dari CIFOR – ICRAF (2024), masyarakat di sekitar mangrove mengonsumsi hingga 28% lebih banyak ikan segar dibanding wilayah tanpa mangrove.

Selain menjaga pangan laut, mangrove juga punya manfaat besar bagi lingkungan.
Ekosistem ini menahan abrasi, menyerap karbon, dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.

Hal ini diperkuat oleh Laporan dari World Bank (2023) yang menegaskan, penanaman mangrove di Indonesia terbukti memberikan dampak sosial dan ekologis yang nyata.

Konservasi Hutan = Sistem Pangan Berkelanjutan

Menurut studi yang dipublikasikan oleh FAO (2013), krisis pangan dunia tidak bisa lepas dari masalah degradasi lingkungan dan deforestasi. Ketika hutan rusak, produktivitas tanah menurun, air sulit diserap, dan rantai pangan alami ikut terganggu.

Artinya, menjaga hutan sama dengan menjaga ketahanan pangan manusia. Itulah mengapa konservasi hutan menjadi fondasi sistem pangan berkelanjutan. Hutan yang sehat menjaga ekosistem seimbang, menopang keanekaragaman hayati, dan memastikan sumber pangan tersedia.

Melalui berbagai inisiatifnya, LindungiHutan berkontribusi langsung pada pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan. Program seperti Green Skilling dan EducaTree menjadi sarana edukasi untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Lewat dua program ini, LindungiHutan mendorong masyarakat agar memahami bahwa ketahanan pangan berawal dari hutan yang lestari.

Selain edukasi, LindungiHutan juga memperkuat kolaborasi melalui program CSR hijau dengan berbagai perusahaan.

Program(inisiatif) ini mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek iklim, kehidupan darat, dan pengentasan kelaparan.

Menanam pohon bukan hanya soal menjaga bumi. Seperti yang ditegaskan oleh World Bank (2023), penanaman pohon dan mangrove membawa manfaat ekonomi sekaligus menjamin masa depan pangan.

Satu pohon yang tumbuh hari ini bisa jadi penopang kehidupan untuk generasi mendatang.

Baca Juga: EducaTree: Inisiatif LindungiHutan untuk Mendukung Solusi Hijau

Pemberdayaan Masyarakat: Kunci Ketahanan Pangan Lokal

Ketahanan pangan dimulai dari komunitas yang berdaya. Melalui Kampanye Alam dan kemitraan dengan petani, LindungiHutan membuka peluang menuju ekonomi hijau yang berpihak pada manusia dan alam.

Masyarakat lokal mendapatkan manfaat dari kegiatan penanaman dan hasil hutan non-kayu. Di saat yang sama, mereka ikut menjaga alam yang menopang kehidupan sehari-hari.

Inisiatif ini memperkuat resiliensi pangan lokal berbasis alam dan komunitas. Ketika masyarakat sejahtera dan alam terjaga, sistem pangan pun menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan.

Aksi Nyata: Kampanye “A Million Tree for Bedono”

Desa Bedono, di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menjadi contoh nyata dampak hilangnya hutan mangrove. Selama bertahun-tahun, wilayah ini terus tergerus abrasi hingga sebagian desa tenggelam.

Namun, harapan tumbuh kembali lewat kampanye “A Million Tree for Bedono” yang digagas LindungiHutan.

Melalui kampanye ini, ribuan pohon mangrove akan ditanam untuk melindungi pesisir dari abrasi dan erosi. Akar mangrove yang kuat tak hanya menahan ombak, tetapi juga menjadi rumah bagi ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber pangan bagi warga sekitar.

Bagi masyarakat Bedono, mangrove bukan sekadar pelindung pantai, melainkan penopang kehidupan dan ketahanan pangan laut. Dengan ikut berdonasi, Anda turut menjaga keberlanjutan pangan dan masa depan di desa Bedono. 

Yuk, ambil bagian dalam aksi nyata di hari pangan sedunia 2025 ini! Donasikan pohonmu untuk Bedono melalui ikut serta berdonasi di kampanye alam bawah ini.

Baca Juga: Desa Bedono Demak dan Upayanya Menolak Tenggelam

Menjaga Hutan, Menjaga Pangan

Ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem. Selama hutan tetap hidup, sumber air, tanah subur, dan keanekaragaman hayati akan terus memberi kehidupan bagi manusia.

Hari Pangan Sedunia bukan sekadar tentang makan. Ini adalah pengingat bahwa menjaga bumi adalah langkah paling nyata untuk memastikan masa depan.

Penulis: Nabila Nur Salma

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Exit mobile version