Scroll untuk baca artikel
Misteri

Gundukan Emas yang Membalikkan Takdir Atahualpa

1
×

Gundukan Emas yang Membalikkan Takdir Atahualpa

Share this article
gundukan-emas-yang-membalikkan-takdir-atahualpa
Gundukan Emas yang Membalikkan Takdir Atahualpa

Seorang pria naik ke sebuah kapal sambil membawa seluruh kekayaannya, sekarung besar koin emas. Beberapa hari setelah pelayaran dimulai, badai dahsyat menerjang kapal. Alarm peringatan berbunyi, memerintahkan semua orang untuk segera meninggalkan kapal. Dengan tergesa, pria itu naik ke geladak dan mengikatkan karung besar emas di pinggangnya. Lalu, tanpa ragu ia melompat dan seketika tenggelam ke dasar laut.

Example 300x600

“Apakah ia yang tenggelam bersama emasnya? Atau justru emas itulah yang menyeretnya hingga ke dasar lautan?”

Berbulan-bulan sudah Atahualpa, kaisar Inca, ditahan Spanyol setelah kalah dalam Pertempuran Cajamarca. Berharap segera dibebaskan, ia memberi tahu pria paruh baya dengan berewok di wajahnya yang tak lain adalah Francisco Pizarro, gubernur Spanyol, kalau dirinya akan menyerahkan semua barang emas dan perak yang mereka inginkan asalkan Pizarro bersedia membebaskannya.

Atahualpa memberi isyarat pada penerjemah dan kemudian pada Pizarro. Kaisar Inca itu berjalan ke salah satu ruangan dengan kapur di tangannya, menggambar seekor singa putih di tembok tinggi melebihi kepalanya. 

Gubernur menanyakan berapa banyak yang akan diberikannya dan dalam waktu berapa lama. Atahualpa menjawab bahwa ia akan memberikan seruangan penuh emas yang berukuran panjang tujuh meter, lebar lima meter, dan tinggi lebih dari dua setengah meter. Tidak hanya itu saja, ia juga menjanjikan akan mengisi penuh ruangan itu dua kali lipat dengan perak, dan semua itu akan terwujud dalam waktu 12 bulan.

Atahualpa menjelaskan bahwa sebagian besar emas-emas itu ada di Cuzco, ibukota Inca, yang berada jauh di selatan sehingga ia perlu waktu setahun untuk mengumpulkan semua yang dijanjikannya.

Pizarro lalu mengirim Martin Bueno dan Pedro Martin de Moguer, dua pelaut buta huruf dari Andalusia, dan notaris dari Basque bernama Juan Zarate. Pizarro mengancam bila terjadi sesuatu pada orang-orang Spanyol itu maka Atahualpa akan dihabisi.

Perjalanan ke selatan benar-benar butuh waktu cukup lama. Orang-orang Spanyol akhirnya sampai dan segera mengambil alih kota itu. Bangunan-bangunan di Cuzco begitu indah, sebagian berlapis emas, sampai-sampai begitu menyilaukan saat terkena sinar matahari. Yang paling menakjubkan dari semua itu adalah kuil Qoricancha.

Para pendeta kuil terperangah menyaksikan orang-orang Spanyol memasuki kuil matahari, sebutan untuk kuil Qoricancha, kuil paling keramat di seluruh kekaisaran Inca, sesuka hati mereka. Dengan sepatu bot kulit yang lusuh, orang-orang Spanyol itu mondar-mandir di tempat yang hanya boleh dikunjungi oleh pendeta-pendeta khusus dan para perawan kuil yang bertapa. Tak perlu menunggu lama, mereka segera menyadari kalau kuil itu tidak hanya berkilau dari kejauhan, tapi memang sungguh dilapisi emas di bagian luar sampai dalam.

Mereka mulai menjarah lempeng-lempeng emas, mencongkel dengan kasar tembok-tembok bangunan paling suci di seluruh kekaisaran itu. Dengan linggis, mereka berhasil menggasak lempengan-lempengan emas yang berbobot sekitar dua ribu gram tiap lempengnya. Para pendeta termangu-mangu hanya bisa menyaksikan dengan gusar. Akhirnya orang-orang Spanyol berhasil mengumpulkan tumpukan dari sekitar tujuh ratus lempengan emas.

Setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan menjarah Cuzco, orang-orang itu kembali ke Cajamarca. Iring-iringan ratusan ilama bermuatan emas dan perak tiba. Masing-masing ilama membawa puluhan kilogram emas. Ruangan yang dijanjikan Atahualpa itu akhirnya benar-benar penuh dengan emas dan perak.

Emas-emas itu mulai dilelehkan ke tungku pembakaran. Kilogram demi kilogram patung-patung emas, perhiasan, sampai ornamen dan bejana semua dilebur ke dalam api. Lalu cairan emas itu dituangkan ke dalam cetakan-cetakan untuk dibentuk batangan. Rombongan orang-orang Spanyol menyaksikan proses ini dengan kegembiraan yang meluap-luap.

Setelah emas dan perak terakhir berhasil diangkut, nasib Atahualpa ditentukan. Namun bukannya membebaskan, Pizarro mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia menuduh Atahualpa telah berkhianat, melakukan pemberontakan, menyembah berhala, dan juga membunuh saudaranya, Huascar. Pizarro memerintahkan untuk menghukum mati kaisar Inca itu.

Atahualpa menangis memohon belas kasihan untuk nyawanya. Ia bahkan mencoba menawar pada para penahannya kalau dia akan memberikan emas dan perak lebih banyak lagi kalau dia dibebaskan. Tapi tampaknya semua itu tak ada gunanya.

Sore hari itu, Sabtu, 26 Juli 1533, mereka menggiring kaisar ke lapangan utama. Orang-orang Spanyol meniupkan terompet sebagai bagian dari upacara eksekusi dan mulai membacakan dengan keras tuduhan atas kaisar.

Orang-orang pribumi menyaksikan kaisar mereka diikat di tonggak. Sementara itu beberapa orang Spanyol mulai mengumpulkan kayu bakar dan beberapa yang lainnya menumpuknya di sekitar kaki Atahualpa. Kaisar Inca itu mengenakan tunik dan mantel tenun warna-warni, terus memohon belas kasihan atas anak-anaknya yang masih kecil.

Matahari mulai terbenam, langit berubah menjadi merah. Beberapa orang Spanyol mengikatkan tali di leher Atahualpa, ikatan juga dipasang di tonggak yang apabila dgelindingkan akan seperti roda sehingga akan mengetatkan tali itu di leher, membuat aliran darah melalui urat leher ke otak otomatis akan terhambat.

Sewaktu padri mulai melagukan ritual terakhir, salah satu orang Spanyol mulai memutar tonggak itu. Tali yang menjerat leher Atahualpa langsung mengetat dan mencekiknya. Bola mata sang kaisar langsung mendelik. Begitu kerasnya cekikan itu sampai-sampai urat nadi di dahinya bertonjolan seolah akan keluar. Api kemudian dilemparkan, berkobar-kobar bersama kayu bakar dengan cepat menjilati pakaian kaisar dan dengan sekejap membakar tubuhnya. Orang-orang pribumi meraung-raung menyaksikan akhir hidup kaisar mereka.

Malam itu tubuh kaisar Inca yang telah kaku dan berasap dibiarkan begitu saja di lapangan, sehingga semua orang dapat menyaksikan jasadnya.

***

Emas dan perak yang telah dilebur menjadi batangan, dimasukkan ke dalam peti-peti kayu, lalu dinaikkan ke atas kapal yang akan membawanya ribuan mil menyeberangi lautan Atlantik menuju Spanyol. Negeri Charles V itu kaya mendadak, kebanjiran emas dan perak dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tetapi kekayaan itu tidak mendatangkan kemakmuran, melainkan petaka.

Emas membanjiri pasar Eropa dengan cepat, membuat nilai logam mulia itu perlahan merosot. Harga-harga kebutuhan melonjak tak terkendali. Gilanya, Charles V, raja Spanyol sekaligus kaisar Romawi suci, malah memperparah keadaan dengan menghabiskan emas-emas itu untuk membiayai perang. Monarki Spanyol bangkrut di akhir abad ke-16.

Akhirnya, gundukan emas yang luar biasa itu tidak hanya gagal menyelamatkan nyawa Atahualpa, tapi juga menghancurkan negeri yang menjarahnya.