Gegara Digigit Kutu Kecil, Wanita Ini Tak Bisa Makan Daging Selamanya
CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 23:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia —
Seorang wanita asal Nova Scotia, Kanada, harus merelakan dirinya tak bisa makan daging merah dan produk susu selamanya. Semua ini gara-gara gigitan seekor kutu kecil. Kok bisa?
Melissa Baines didiagnosis mengalami Alpha-gal syndrome pada Mei lalu, sebuah alergi langka terhadap daging merah dan berbagai produk turunan mamalia. Kondisi ini membuatnya tak bisa lagi makan es krim, susu, dan daging seperti dahulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelakunya adalah seekor lone star tick (Amblyomma americanum) alias kutu bintang tunggal. Kisah Baines menjadi pengingat bahwa gigitan serangga kecil pun dapat memicu masalah kesehatan serius.
Gigitan kutu bintang tunggal bisa sebabkan alergi susu dan daging
Pada jenis betinanya, kutu berukuran sangat kecil ini memiliki bercak putih di punggung menyerupai bintang, sehingga disebut sebagai bintang. Kutu ini disebut ditemukan di berbagai wilayah Kanada, tetapi sebagian besar masih bersifat insidental.
Baines sendiri menduga ia mendapat gigitan kutu ini pada bulan Mei, saat ia sedang mengurus kebun di rumahnya.
“Saya sedang berada di kebun, mengerjakan bagian ini, lalu saya digigit. Saya kira itu lalat kuda,” kata Baines, seperti diberitakan The Weather Network pada Kamis (23/7).
Dalam beberapa minggu setelah digigit, kondisi Baines mulai memburuk. Ia mengalami brain fog berat, mual hebat, dan tubuh terasa sangat tidak seimbang.
Saat mencoba makan produk susu sebanyak dua kali, Baines langsung merasa mual dan muncul bentol pada kulit. Gejalanya terus memburuk hingga akhirnya ia harus menelepon ambulans dan dirawat di rumah sakit.
“Kalau saya menunggu satu atau dua hari lagi, Tuhan tahu apa yang akan terjadi,” kata Baines yang mengaku sangat sakit dan bersyukur masih bisa hidup.
Saat menjalani perawatan di rumah sakit, Baines bercerita seorang pria melaporkan pernah hampir digigit kutu bintang tunggal di halaman rumah wanita tersebut. Pria tersebut bercerita ada kutu yang merayap naik ke kakinya.
“Saat dilihat, dia sangat terkejut karena berkata, ‘Ada titik putih di atasnya.’ Dia mengambilnya, membunuhnya, dan membuangnya. Dia tidak terpikir untuk menyimpannya,” ucap Baines.
Sejak kejadian itu, Baines mengaku tidak lagi berani masuk ke kebunnya. Ia pun harus menyesuaikan diri dengan pola makan barunya yang bebas daging dan bebas produk susu.
Adapun Baines masih belum memutuskan untuk menyemprot kebunnya dengan pestisida. Selain ia tak percaya dengan pestisida, ia sendiri takut penyemprotan tersebut berdampak buruk pada kucing peliharaannya atau satwa liar lainnya.
Tak endemik di Indonesia
Gigitan kutu ini memang berbahaya, tetapi Anda tak perlu khawatir bakal menemukannya di Indonesia. Kutu ini tak endemik di Indonesia. Adapun menurut Wikipedia, kutu ini banyak ditemukan di sebagian besar wilayah timur Amerika Serikat dan Meksko.
Habitat umum kutu ini berada di area hutan, terutama hutan sekunder dengan semak belukar yang lebat. Kutu ini juga ditemukan di kawasan peralihan antara hutan dan padang rumput.
Kutu ini bisa menggigit tanpa disadari karena biasanya tidak menimbulkan rasa sakit saat menempel di kulit.
Meski kutu bintang tunggal tak ditemukan di Indonesia, kita tetap perlu waspada dengan gigitan serangga jenis lain. Setiap gigitan dapat membawa risiko berbeda, mulai dari iritasi ringan hingga reaksi alergi atau infeksi tertentu.
Kisah Baines menunjukkan, satu gigitan kecil dapat membawa perubahan besar dalam hidup. Oleh karena itu, jika mengalami gigitan kutu atau serangga yang tidak biasa, segera periksa ke klinik atau puskesmas terdekat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
(rti)
