Kenapa label “pelakor” lebih sering diarahkan kepada perempuan dalam kasus perselingkuhan?
Pembahasan perselingkuhan, baik di dunia maya maupun nyata, sepertinya nggak pernah ada habisnya. Mau melibatkan publik figur ataupun orang biasa, persoalan ini tetap bisa terjadi. Dalam berbagai percakapan tentang perselingkuhan, fenomena pelakor pun sering muncul. Tapi, pernah nggak kamu bertanya, kenapa kemarahan publik justru lebih cepat diarahkan kepada perempuan yang disebut sebagai “pelakor”, sementara laki-laki yang terlibat dalam hubungan tersebut kadang hanya menjadi bagian dari cerita?
Untuk melihat persoalan ini dengan lebih hati-hati, kita perlu membedakan antara penilaian moral terhadap tindakan perselingkuhan dan pola sosial ketika perempuan dijadikan sasaran utama. Disini, hipwee mengambil data dan kajian yang tersedia dari Komnas Perempuan, BPS, serta penelitian tentang penggunaan istilah pelakor. Jadi, angka yang disajikan bukan hasil polling Hipwee sendiri dan tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh masyarakat Indonesia.
Fenomena pelakor dalam data dan kajian
Fenomena pelakor tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memberi label pada perempuan dalam konflik perselingkuhan. Komnas Perempuan pernah mencatat bahwa perempuan dapat menjadi sasaran stigma dan bullying dalam konteks perselingkuhan, poligami, dan persoalan perkawinan lainnya. Dalam kajiannya, lembaga tersebut juga menyoroti budaya menyalahkan perempuan, sementara laki-laki yang terlibat dapat lolos dari penghakiman sosial.
Temuan itu penting dalam memahami fenomena pelakor karena menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar soal satu istilah yang viral. Ada pola sosial yang lebih luas ketika perempuan lebih mudah ditempatkan sebagai pihak yang dianggap bertanggung jawab atas persoalan relasi.
Komnas Perempuan juga menjelaskan bahwa fenomena pelakor perlu dilihat dalam konteks bahwa norma budaya dapat membentuk stigma dan sanksi sosial terhadap orang yang dianggap melanggar nilai tertentu. Dalam konteks perempuan, stigma tersebut dapat berkelindan dengan anggapan mengenai bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap dalam relasi dan keluarga.
Istilah pelakor lebih banyak dicari
suami berselingkuh saat istri tidur-canva via canva.com
Salah satu hal yang membuat fenomena pelakor menarik dilihat dari sisi data adalah ketimpangan pencarian istilah. Kajian Nelly Martin Anatias yang diterbitkan Inside Indonesia pada 2020 menelusuri penggunaan kata “pelakor” dan “pebinor” di Instagram. Hasil pencarian yang dilaporkan menunjukkan sekitar 232 ribu unggahan menggunakan kata pelakor, sedangkan kata pebinor sekitar 1.164 unggahan. Artinya, istilah pelakor muncul sekitar 200 kali lebih banyak dalam pencarian yang dilakukan penulis tersebut.
Angka itu tentu bukan survei nasional ya. Data tersebut berasal dari penelusuran Instagram pada saat penelitian dilakukan sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat memiliki pandangan yang sama. Namun, perbedaan frekuensi itu memberi petunjuk dalam membaca fenomena pelakor tentang betapa jauh lebih populernya label yang diarahkan kepada perempuan dibandingkan istilah untuk laki-laki.
Fenomena pelakor kemudian menjadi menarik karena sebuah istilah bukan cuma berfungsi sebagai sebutan. Label tertentu bisa membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor utama dalam sebuah kejadian. Ketika laki-laki yang sudah memiliki pasangan digambarkan seolah-olah “direbut”, posisi aktif laki-laki dalam mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa menjadi kurang terlihat.
Perempuan bisa disalahkan dari dua arah
istri memergoki suami selingkuh lewat hp-canva via canva.com
Yang sering luput ketika membahas fenomena pelakor adalah perempuan tidak selalu hanya disalahkan ketika menjadi pihak ketiga. Perempuan yang diselingkuhi juga dapat menerima tudingan, misalnya dianggap kurang menarik, kurang merawat pasangan, atau tidak mampu menjaga rumah tangga.
Kajian psikologi BINUS University tentang perselingkuhan juga mengutip psikolog klinis Pingkan Rumondor yang menjelaskan bahwa istilah pelakor kurang tepat jika digunakan untuk menyederhanakan perselingkuhan. Menurut penjelasan tersebut, perselingkuhan umumnya merupakan interaksi dua orang yang dilakukan tanpa paksaan. Karena itu, melihat perempuan sebagai satu-satunya pihak yang “merebut” pasangan dapat mengaburkan keterlibatan orang yang sudah memiliki komitmen.
Poin ini bukan berarti dalam pembahasan fenomena pelakor setiap perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan otomatis bebas dari tanggung jawab. Kalau seseorang mengetahui bahwa orang yang didekatinya sudah memiliki pasangan dan tetap memilih melanjutkan hubungan, perilaku tersebut tetap bisa dinilai secara moral oleh masyarakat. Namun, tanggung jawab tidak otomatis hilang dari pasangan yang juga membuat keputusan untuk berselingkuh.
Ada konteks gender di balik stigma
istri melihat noda lipstik di kemeja suami-canva via canva.com
Fenomena pelakor juga berkaitan dengan cara norma gender bekerja. Komnas Perempuan menjelaskan bahwa budaya dapat membentuk norma baik dan buruk sekaligus memberikan stigma atau sanksi sosial kepada orang yang dianggap melanggar norma tersebut.
Dalam beberapa kajian Komnas Perempuan, perempuan juga digambarkan sebagai kelompok yang lebih rentan menjadi sasaran stigma ketika menyangkut moralitas, seksualitas, dan relasi personal. Bahkan, dalam pembahasan tentang pemberitaan, Komnas Perempuan mencatat bahwa perempuan kerap diberitakan dalam konflik rumah tangga, perselingkuhan, dan isu seksual, lalu menghadapi penghakiman publik.
Itulah sebabnya fenomena pelakor tidak cukup dijelaskan dengan kalimat “netizen memang suka menghujat”. Ada struktur sosial dan kebiasaan bahasa yang ikut membentuk siapa yang menjadi sasaran kemarahan.
Data kekerasan menunjukkan masalahnya lebih luas
istri melabrak suami dan selingkuhan-canva
Data nasional memang tidak secara khusus mengukur fenomena pelakor, menghitung berapa banyak perempuan yang disebut pelakor atau berapa kasus perselingkuhan yang berujung pada stigma. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar fenomena pelakor tidak dipaksakan menjadi angka yang sebenarnya tidak tersedia.
Namun, data tentang kekerasan berbasis gender tetap relevan ketika membahas fenomena pelakor karena memberikan konteks penting. CATAHU 2025 Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang 2025. Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen berada di ranah personal, yang mencakup relasi seperti rumah tangga dan hubungan intim.
Angka tersebut tidak berarti seluruh kasus berkaitan dengan perselingkuhan. Data itu juga tidak bisa digunakan untuk menghitung jumlah korban akibat fenomena pelakor. Tetapi, angka tersebut menunjukkan bahwa relasi personal memang menjadi salah satu ruang penting dalam persoalan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan.
BPS juga melaporkan data yang dapat menjadi konteks untuk membaca fenomena pelakor melalui Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Survei nasional ini digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai prevalensi kekerasan terhadap perempuan dan menjadi salah satu dasar dalam merumuskan kebijakan serta program pencegahan dan penanganannya.
Kenapa perempuan lebih cepat jadi sasaran?
suami gaslight saat ketahuan selingkuh-canva via canva.com
Fenomena pelakor memperlihatkan bagaimana sebuah konflik yang sebenarnya melibatkan lebih dari satu orang dapat disederhanakan menjadi cerita tentang satu perempuan sebagai “perusak rumah tangga”.
Ada beberapa mekanisme yang membantu menjelaskan fenomena pelakor yang bisa menjelaskan pola tersebut:
- Pertama, istilah “pelakor” secara bahasa langsung menunjuk perempuan sebagai pihak yang dianggap merebut.
- Kedua, norma gender yang menempatkan perempuan sebagai penjaga moral dan keharmonisan keluarga dapat membuat kesalahan perempuan lebih mudah dipersoalkan.
- Ketiga, pemberitaan dan percakapan media sosial sering membutuhkan tokoh yang jelas untuk ditempatkan sebagai “penjahat” dalam sebuah konflik yang sebenarnya kompleks.
Padahal tidak semua kasus perselingkuhan bisa disederhanakan menjadi siapa yang “merebut” dan siapa yang “direbut”. Ada keputusan, komitmen, kebohongan, relasi kuasa, dan kondisi hubungan yang berbeda-beda di setiap kasus.
Jangan ubah perselingkuhan jadi perang antarsesama perempuan
Fenomena pelakor juga memperlihatkan persoalan lain: kemarahan terhadap laki-laki dan perempuan yang terlibat bisa menjadi tidak seimbang. Ketika seluruh kemarahan diarahkan kepada perempuan, laki-laki dengan posisi pasangan yang telah berkomitmen justru dapat kehilangan sorotan sebagai pihak yang ikut bersalah dalam membuat keputusan.
Komnas Perempuan dalam kajiannya mengenai pemberitaan perempuan pernah menyoroti bagaimana stigma dapat membuat perempuan diposisikan sebagai “penggoda”, “perusak rumah tangga”, atau aktor utama dalam persoalan perzinahan. Pola semacam ini membuat persoalan relasi yang kompleks terlihat seperti kesalahan satu gender saja.
Membicarakan fenomena pelakor dengan lebih kritis bukan berarti membenarkan perselingkuhan. Justru sebaliknya, pembahasan yang lebih adil memungkinkan tanggung jawab dilihat berdasarkan tindakan masing-masing orang, bukan semata-mata berdasarkan jenis kelamin.
Yuk, Lihat Konflik Relasi Secara Utuh dan Adil!
Fenomena istilah “pelakor” menunjukkan bahwa penggunaan bahasa turut memengaruhi arah sanksi sosial masyarakat. Data dan kajian yang ada memang tidak menyimpulkan bahwa publik selalu membebankan kesalahan pada satu pihak saja. Namun, dokumentasi Komnas Perempuan dan kajian riset mencatat adanya ketimpangan fokus penghakiman yang kerap menutupi peran pihak lainnya.
Oleh karena itu, saat kasus perselingkuhan terjadi, sorotan tidak sepatutnya berhenti pada pertanyaan “siapa orang ketiganya?”. Publik juga perlu melihat siapa yang memegang komitmen pernikahan dan aktif mengambil keputusan untuk melanggarnya, agar setiap pihak yang terlibat menanggung sanksi moral sesuai porsi kesalahan masing-masing.
Intinya,
Fenomena pelakor seharusnya dilihat lebih berimbang. Bukan hanya tentang menyalahkan perempuan, sementara laki-laki yang sudah berkomitmen justru luput dari tanggung jawab. Namun, sebagai gender yang selama ini kerap ditempatkan sebagai pemegang moral, perempuan juga punya tanggung jawab untuk menjaga batas. Ketika tahu seorang laki-laki sudah beristri, kita punya pilihan untuk tidak menerima, tidak tergoda, dan tidak sengaja membuka akses yang seharusnya tidak dibuka.
Bukan berarti seluruh kesalahan perselingkuhan dibebankan kepada perempuan. Justru sebaliknya, ini tentang mengingatkan bahwa moral dan tanggung jawab berlaku bagi kedua pihak. Karena kalau kita ingin laki-laki belajar menghargai komitmen perempuan lain, perempuan juga perlu belajar menghormati batas dalam hubungan yang bukan miliknya.
Kalau menurutmu pembahasan ini menarik dan penting, yuk share artikel ini supaya lebih banyak orang bisa melihat isu perselingkuhan dari sudut pandang yang lebih berimbang. Sebagai tambahan pengetahuan, jangan lupa baca juga jenis-jenis perselingkuhan di sini.
Penulis
Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.
Editor
Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
Tim Dalam Artikel Ini







