CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 21:58 WIB
Jakarta, CNN Indonesia —
Selama ini banyak orang tua masih menjadikan nilai rapor dan prestasi akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan anak. Padahal, bekal untuk menghadapi kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kemampuan mengelola emosi dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo, mengatakan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan sosial (SQ) memiliki peran yang sama pentingnya dengan kecerdasan akademik dalam membentuk masa depan anak.
Menurut Ayoe, ketika memasuki usia dewasa, anak akan menghadapi berbagai tantangan yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan berpikir logis atau menyelesaikan soal pelajaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dalam dunia yang penuh tantangan, kelak anak-anak saat dewasa akan dituntut memiliki kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri secara sehat. Begitu juga dengan kecerdasan sosial, di mana anak mampu memahami orang lain, berinteraksi dengan efektif, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain,” ujar Ayoe dalam keterangannya saat sesi edukasi Family’s Days Out Roadshow to Bandung.
Ayoe menjelaskan perkembangan emosi anak bukan hanya ditentukan oleh faktor biologis. Lingkungan keluarga, pola asuh, hingga budaya tempat anak tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kemampuan emosionalnya.
Menurut dia, setiap anak juga memiliki temperamen bawaan yang berbeda. Ada anak yang sejak kecil cenderung mudah beradaptasi, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
“Ada anak yang memiliki temperamen bawaan mudah (easy child), tapi ada juga yang sulit atau lambat dan butuh adaptasi. Ini semua terkait dengan perkembangan otak di lima tahun pertama. Faktor genetik menyumbang kurang lebih 50 persen pada stabilitas emosi. Tetapi pola pelekatan, gaya pengasuhan, stabilitas emosi orang tua, dan kualitas hubungan pernikahan ikut memengaruhi perkembangan emosi anak,” jelasnya.
Karena itu, orang tua perlu memberi perhatian tidak hanya pada kemampuan akademik anak, tetapi juga pada kesehatan mental, kemampuan mengenali emosi, hingga cara anak membangun relasi dengan orang lain.
Pentingnya deteksi dini perkembangan emosi
Ayoe juga menilai deteksi dini terhadap perkembangan mental dan emosional anak menjadi langkah penting agar potensi hambatan dapat diketahui lebih cepat.
Ia menyambut hadirnya fitur skrining perkembangan mental dan emosi anak melalui Psikolog Corner by Teman Bumil & Parenting. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat membantu orang tua memahami karakter sekaligus perkembangan emosional anak.
“Skrining ini bisa menjadi langkah awal jika ditemukan ada penyimpangan atau ada sebagian aspek emosi yang belum berkembang, sehingga orang tua bisa melakukan stimulasi dan terapi sejak dini,” ujarnya.
Manager Teman Bumil & Parenting, Intan Anindyana Hapsari, mengatakan fitur tersebut dirancang agar mudah diakses oleh orang tua.
“Skrining perkembangan mental dan emosi cukup dilakukan dengan menjawab delapan pertanyaan, dan akan langsung keluar hasilnya, yakni normal, perlu konsultasi, atau ada penyimpangan,” kata Intan.
Ia menambahkan, selain hasil skrining, orang tua juga dapat mengakses berbagai materi edukasi mengenai kesehatan mental dan emosional anak melalui artikel, video, hingga kelas edukasi bersama para ahli. Ke depan, platform tersebut juga akan menghadirkan fitur skrining kesiapan sekolah, tes minat dan bakat, serta layanan telekonsultasi psikolog melalui chat dan video call.
(tis/tis)
