Momen keberhasilan kolaborasi lintas latar belakang demi mewujudkan kemandirian energi berbasis komunitas di Kepulauan Mentawai. (Sumber foto : Enter Nusantara)
PADANG, 23 April 2026 — Pemanfaatan teknologi energi terbarukan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) kini dipandang tidak hanya sebagai solusi teknis penyediaan listrik, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam membangun kedaulatan energi yang berpihak pada masyarakat lokal. Di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dinilai semakin relevan karena mampu menjawab tantangan geografis sekaligus mendorong pengelolaan energi berbasis komunitas.
Hal ini menjadi sorotan dalam diseminasi riset bertajuk “Sinergi Transisi Energi Berkeadilan: Diseminasi Hasil Riset dan Instalasi PLTS Enter Nusantara di Mentawai” yang diselenggarakan Enter Nusantara di Favehotel Padang, Kamis (23/4). Kegiatan ini merangkum hasil riset lapangan sekaligus refleksi atas program Sekolah Energi yang dilaksanakan pada Oktober hingga November 2025.
Dalam forum tersebut, teknologi PLTS dipaparkan sebagai solusi yang lebih adaptif dibandingkan proyek energi sebelumnya. Peneliti Enter Nusantara, Gianluigi Grimaldi Maliyar, menjelaskan bahwa hasil riset menunjukkan sistem energi surya lebih sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan dibandingkan proyek biomassa yang sebelumnya sempat berjalan namun akhirnya terhenti akibat ketidaksiapan ekosistem lokal.
Menurutnya, keberhasilan teknologi energi terbarukan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam memahami, mengelola, dan merawat infrastruktur tersebut secara mandiri.
Foto bersama narasumber dan perwakilan komunitas dalam kegiatan “Sinergi Transisi Energi Berkeadilan”. (Sumber foto : Enter Nusantara)
Kepala Dinas ESDM Sumatera Barat, Helmi Heriyanto, mengakui bahwa tantangan utama dalam pengembangan teknologi energi di wilayah terpencil terletak pada transfer pengetahuan yang berkelanjutan kepada masyarakat. Untuk itu, pemerintah menawarkan opsi Kerjasama Operasi (KSO) dengan PLN guna memastikan kepastian tarif listrik serta standarisasi layanan bagi warga di kawasan kepulauan.
Di sisi lain, Enter Nusantara menilai bahwa implementasi teknologi energi tidak dapat dilepaskan dari perlindungan hak masyarakat atas ruang hidup mereka. Perwakilan Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Rifai Lubis, menegaskan bahwa pembangunan energi harus dijalankan dengan pendekatan sosial dan budaya yang kuat.
“Pembangunan energi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan ruang hidup masyarakat setempat. Jika kita berbicara partisipasi, maka yang harus diajak dialog adalah mereka yang terdampak langsung, bukan sekadar perwakilan administratif,” ujar Rifai Lubis.
Sejalan dengan itu, Enter Nusantara secara konsisten mendorong pemerintah untuk memastikan proses pemenuhan hak atas tanah masyarakat dilakukan melalui prosedur yang transparan dan berkeadilan. Langkah ini dinilai penting agar penerapan teknologi energi bersih benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat.
Penguatan kapasitas lokal juga menjadi fokus utama melalui program Sekolah Energi. Salah satu hasilnya adalah lahirnya pionir muda seperti Ignasius, lulusan program asal Mentawai yang kini memiliki kemampuan teknis dalam pengelolaan PLTS. Kehadiran generasi muda terampil dinilai menjadi faktor penting agar teknologi energi tidak terus bergantung pada dukungan teknis eksternal.
Sebagai tindak lanjut, Enter Nusantara memaparkan rencana peremajaan infrastruktur PLTS di Desa Matotonan yang telah beroperasi lebih dari satu dekade. Program ini menjadi bagian dari strategi perluasan akses teknologi energi bersih ke dusun-dusun terpencil melalui model pengelolaan berbasis komunitas.
Strategi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi berbasis diesel yang rentan terhadap fluktuasi harga global dan kendala distribusi geografis. Di tengah target nasional menuju energi terbarukan, Mentawai dinilai dapat menjadi contoh bagaimana teknologi dapat berjalan selaras dengan pemberdayaan masyarakat.
Melalui diseminasi ini, Enter Nusantara berharap hasil riset dapat menjadi pijakan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan transisi energi yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga adil secara sosial dan menghormati hak-hak mendasar masyarakat adat di Indonesia.







