Scroll untuk baca artikel
GenZ

Dulu Malu, Sekarang Bangga: Kenapa Thrifting Masih Jadi Pilihan Anak Muda di 2026?

6
×

Dulu Malu, Sekarang Bangga: Kenapa Thrifting Masih Jadi Pilihan Anak Muda di 2026?

Share this article
dulu-malu,-sekarang-bangga:-kenapa-thrifting-masih-jadi-pilihan-anak-muda-di-2026?
Dulu Malu, Sekarang Bangga: Kenapa Thrifting Masih Jadi Pilihan Anak Muda di 2026?

Data menunjukkan thrifting bukan cuma soal harga, tapi juga gaya, identitas, dan tren.

Dulu Malu, Sekarang Bangga: Kenapa Thrifting Masih Jadi Pilihan Anak Muda di 2026?

Example 300x600

Pernah nggak sih kamu menemukan jaket, kemeja, atau celana bekas  tren 90 an yang modelnya justru lebih menarik daripada pakaian baru di toko, eh terus harganya jauh lebih murah lagi? Thrifting sekarang memang berasa beda ya … Kalau dulu memakai baju bekas bisa dianggap memalukan, kini menemukan pakaian secondhand yang unik malah bisa menjadi cerita tersendiri, atau item yang bikin penampilan makin fashionable.
Hal ini juga dibuktikan dengan sejumlah penelitian beberapa tahun terakhir yang menunjukkan bahwa thrifting memang semakin berkaitan dengan gaya personal, kebutuhan mencari barang yang berbeda, harga, sampai pengaruh media sosial. Bahkan, penelitian terbaru di 2026 secara khusus melihat perilaku Gen Z di Jakarta dalam membeli pakaian thrift ini.

Lantas, apa yang sebenarnya membuat thrifting tetap dipilih anak muda pada 2026?

Thrifting Sudah Bukan Sekadar Baju Murah

Salah satu data yang cukup menarik datang dari penelitian terhadap 400 responden Gen Z di Jakarta yang diterbitkan pada 2026 . Penelitian tersebut menguji pengaruh harga, keterlibatan terhadap fashion, dan kesadaran lingkungan terhadap minat membeli pakaian thrift.
Hasilnya, ketiga faktor tersebut sama-sama berpengaruh signifikan terhadap minat membeli pakaian thrifting. Bahkan, ketiganya secara bersama-sama menjelaskan 75,9 persen variasi minat beli dalam model penelitian tersebut. Garuda Kemdik Saintek
Artinya, alasan anak muda memilih thrifting memang nggak bisa disederhanakan menjadi “karena lebih murah”. Ada faktor fashion dan kepedulian lingkungan yang ikut bermain.
Menariknya, penelitian ini menggunakan responden Gen Z di Jakarta, sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai gambaran pada kelompok yang diteliti, bukan berarti seluruh anak muda Indonesia pasti punya perilaku yang sama.

Banyak yang Mencari Gaya yang Nggak Pasaran

Kalau kamu pernah sengaja mencari jaket vintage, kaus dengan desain lawas, atau celana dengan potongan yang sudah jarang ditemukan di toko, alasan ini mungkin terasa relate.
Penelitian terhadap 200 Gen Z di Indonesia menemukan bahwa social environmental awareness, kebutuhan untuk tampil unik (need for uniqueness), dan brand awareness berpengaruh terhadap niat membeli pakaian secondhand. Sebaliknya, prasangka terhadap pakaian bekas dan gengsi sosial tidak terbukti memengaruhi niat membeli dalam penelitian tersebut. Nur Science Institute Journals
Temuan ini menarik karena memperlihatkan perubahan cara memandang pakaian bekas. Bagi sebagian anak muda, thrifting justru memberi kesempatan untuk menemukan barang yang terasa lebih personal.
Jadi, kebanggaan memakai baju thrift nggak selalu berarti ingin menunjukkan status. Bisa saja justru karena pemakainya merasa menemukan sesuatu yang sesuai dengan karakter dan gaya mereka.

Data 2024 Juga Menunjukkan Minat yang Tinggi

Gambaran serupa muncul dalam penelitian lain yang melibatkan 345 responden berusia 18–27 tahun dari sejumlah kota di Indonesia. Setelah proses pembersihan data, 86,09 persen responden mengaku pernah membeli pakaian bekas. Kelompok usia terbesar dalam penelitian tersebut adalah 21–23 tahun.

Penelitian tersebut memang tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa 86 persen seluruh Gen Z Indonesia melakukan thrifting, karena responden dipilih menggunakan metode purposive sampling. Namun, angkanya menunjukkan bahwa membeli pakaian bekas bukan sesuatu yang asing bagi kelompok muda yang diteliti.

Studi yang sama juga menemukan bahwa 90,43 persen responden pernah memperoleh informasi tentang sustainable fashion. dinastischolars.org
Dengan kata lain, anak muda sekarang bisa mengenal pakaian bekas bukan hanya dari pengalaman berbelanja, tetapi juga dari pembicaraan tentang fashion berkelanjutan.

Media Sosial Ikut Bikin Thrifting Makin Terlihat

Coba buka TikTok atau Instagram dan cari konten berburu pakaian vintage. Rasanya gampang sekali menemukan video thrift haul, rekomendasi toko, sampai orang yang menunjukkan hasil berburu pakaian bekas.

Fenomena ini ternyata juga diteliti. Studi 2026 terhadap 114 pengguna TikTok Gen Z di Indonesia menemukan bahwa intensitas mengakses konten thrifting di TikTok berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat membeli pakaian thrift. Ketika intensitas konten thrifting di TikTok dan komunikasi kelompok sebaya dianalisis bersama, keduanya menjelaskan 37,2 persen variasi niat beli dalam model penelitian tersebut. Namun, ketika diuji secara terpisah, komunikasi dengan kelompok sebaya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Jadi, media sosial bukan cuma tempat memamerkan hasil thrifting. Konten yang terus muncul juga bisa membuat pakaian bekas semakin familiar dan terlihat sebagai pilihan fashion yang normal.

Gen Z Nggak Cuma Mengejar Harga

Penelitian terbaru yang terbit pada September 2026 juga melihat praktik thrifting pada Gen Z di kawasan Jabodetabek. Penelitian kualitatif ini melibatkan tujuh partisipan melalui wawancara mendalam.
Hasilnya, partisipan mengaitkan pakaian secondhand dengan beberapa hal, seperti keterjangkauan harga, kualitas produk, ekspresi identitas, kesadaran lingkungan, dan media digital. Instagram dan TikTok juga menjadi ruang tempat mereka menemukan informasi tentang fashion berkelanjutan dan toko thrift. Frontiers
Temuan ini memperkuat satu hal: thrifting sudah punya makna yang lebih luas daripada sekadar membeli pakaian dengan harga murah.
Ada unsur berburu barang, menemukan gaya yang sesuai dengan diri sendiri, sekaligus mengikuti percakapan soal konsumsi fashion yang lebih berkelanjutan.

Jadi, Kenapa Thrifting Bisa Dibanggakan?

Kalau melihat berbagai data tersebut, perubahan citra thrifting sebenarnya cukup masuk akal.
Dulu, pakaian bekas bisa dikaitkan dengan keterbatasan ekonomi sehingga sebagian orang merasa perlu menyembunyikannya. Sekarang, konteksnya berbeda. Anak muda bisa memilih pakaian secondhand karena harganya, tetapi juga karena ingin mencari barang unik, mengikuti gaya tertentu, menunjukkan identitas, atau menemukan fashion item yang nggak mudah ditemui di toko biasa.
Namun, ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Penelitian tentang Gen Z di Indonesia tadi justru menemukan bahwa gengsi sosial tidak menjadi faktor yang berpengaruh terhadap niat membeli pakaian secondhand. Nur Science Institute Journals
Jadi, istilah “bangga” dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan penerimaan terhadap pakaian bekas dan kebebasan menjadikannya bagian dari gaya personal, bukan berarti semua anak muda menganggap memakai baju thrift sebagai simbol status.

Thrifting 2026, Masih Jadi Pilihan?

thrifting 2026

belanja baju thrift-pinterest

Jawabannya, masih. Setidaknya data penelitian yang terbit hingga 2026 menunjukkan bahwa thrifting tetap punya tempat di kalangan anak muda, terutama ketika harga, fashion, keunikan, lingkungan, dan media sosial bertemu dalam satu kebiasaan belanja.
Tapi ada konteks penting di Indonesia. Thrifting bukan berarti bebas mengimpor pakaian bekas dari luar negeri. Pemerintah masih melarang impor pakaian bekas, sementara perdagangan pakaian bekas dalam negeri memiliki konteks hukum yang berbeda. Kementerian Keuangan pada Juni 2026 juga melaporkan penindakan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal. WIP Kemenkeu
Artinya, ketika membicarakan thrifting 2026, kita juga perlu membedakan antara membeli dan menjual pakaian bekas di dalam negeri dengan pakaian bekas impor ilegal.

Baju bekas nggak lagi otomatis berarti baju yang harus disembunyikan. Bagi sebagian anak muda, justru ada kepuasan ketika berhasil menemukan pakaian unik, cocok dengan gaya pribadi, dan punya cerita sendiri. Thrifting juga nggak lagi sekadar soal membeli pakaian dengan harga lebih murah. Bagi sebagian anak muda, baju bekas justru menjadi cara untuk menemukan gaya yang lebih personal, unik, dan sesuai dengan karakter mereka.
Gimana menurutmu? Kalau kamu merasa pembahasan soal thrifting 2026 ini menarik dan ada temanmu yang juga suka berburu baju thrift, jangan lupa share artikel ini ke mereka, ya! Jangan lupa baca juga nih, rekomendasi tempat berburu thrifting di Jogja untuk  kalian yang tinggal di Jogja, atau sedang berlibur.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.