Lifestyle

Dua Malam Rehat Berkualitas di Luwansa Hotel & Convention Center Manado

179
dua-malam-rehat-berkualitas-di-luwansa-hotel-&-convention-center-manado
Dua Malam Rehat Berkualitas di Luwansa Hotel & Convention Center Manado
Dua Malam Rehat Berkualitas di Luwansa Hotel & Convention Center Manado
Reception area di Luwansa Hotel & Convention Center Manado
Baku Dapa Lobby lounge yang luas dan nyaman. Tempat yang sangat pas untuk menerima tamu bagi para penginap.

Sudah puluhan tahun saya tidak menginjakkan kaki di Sulawesi Utara. Sebelum kunjungan di 2023 ini, saya pernah pelesir ke Manado bersama beberapa orang teman dekat (baca: teman kantor). Saat itu kami menikmati short weekend (tiga hari dua malam) dengan prioritas melakukan snorkling di Bunaken. Tapi kunjungan sekali ini dalam rangka ngintil suami, saya rubah konsepnya. Selain menikmati dua malam rehat berkualitas di Luwansa Hotel & Convention Centre Manado, saya melakukan perjalanan ke beberapa kabupaten tanpa menyentuh aktivitas apa pun yang berhubungan dengan tirta.

Panas kejengkang menyambut saya dan suami saat tiba di bandara internasional Sam Ratulangi Manado. Matahari begitu bersinar mencorong. Bergembira ria dengan kekuatan hakikinya. Silau dan tanpa segan menyentuh kulit siapa pun yang berada di bawahnya. Saya merasakan peluh yang mengucur di badan. Bikin dehidrasi dan cepat capek (halah lebay). Perjalanan udara sekitar 3.5 jam cukup menguras tenaga karena terlebih dahulu, untuk menggapai bandara Soetta saya dan suami harus berangkat dari rumah sekitar empat jam sebelumnya. Hal ini biasa kami lakukan agar rentang waktu yang tersedia tidak terlalu mepet dan tidak bikin deg-degan karena takut akan macet yang biasanya terjadi dari dan ke bandara. Lebih baik nunggu, nyantai leha-leha di bandara kan daripada jantungan mengejar waktu.

Suami kebetulan ada penugasan ke luar kota selama sekitar lima hari empat malam. Lumayan lama juga. Kesempatan. Daripada bergelut terus dengan pasukan tiga anak bulu, mendingan ikut ngelencer. Emak-emak pengacara ini pun tandem, nebeng, turut meramaikan suasana. Maklum. Pengacara. Pengangguran banyak acara yang selalu menantikan colongan waktu untuk rekreasi ke banyak tempat dengan sponsor dari suami.

Keceriaan itu kemudian makin menjadi-jadi saat saya tahu akan ke Manado. Salah satu kota di Indonesia Timur yang ingin saja injak kembali setelah belasan tahun lamanya. Saya juga semakin bersemangat saat tahu bahwa dari Manado saya bisa melakukan perjalanan darat menuju Likupang. Salah satu destinasi wisata prioritas yang ditetapkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2023. Bahkan diharapkan bisa menjadi Bali baru dalam darah perkembangan pariwisata di tanah air. Setidaknya keindahan pantai yang ada di Likupang, Minahasa Utara, sudah dipertimbangkan sebagai obyek wisata yang memiliki prospek tinggi dalam perkembangan wisata dari tanah air yang akan mendunia. Para pelancong pun tidak hanya fokus pada Bali semata.

Satu lagi yang bikin seru adalah bahwa suami memutuskan untuk menyewa mobil dalam posisi lepas kunci. Jadi kami berdua bergerak murni dengan mengandalkan Google Maps sebagai petunjuk arah dan pendamping perjalanan. Cus lah. Menyadari istrinya jago membaca peta (baca: Dora) kami pun meluncur dari bandara internasional Sam Ratulangi menuju Luwansa Hotel & Convention Center yang berada di Tikala, kota Manado.

Tentang Manado : Surga Oleh-oleh Manado di Kawanua

Disambut dengan Kemegahan dan Properti yang Bersih

Perjalanan darat dari bandara menuju Luwansa Hotel & Convention Center Manado yang memakan waktu sekitar satu jam, membawa saya dan suami menikmati makan siang terlebih dahulu di salah satu resto seafood yang kami lewati. Resto muslim yang cukup besar dan menyajikan bakwan jagung yang super duper enak dan renyah. Memang sih ya dan entah kenapa bakwan jagung ala Manado tuh selalu jempolan rasanya. Apalagi di resto ini bakwannya digoreng tipis melebar. Jadi kegaringannya begitu terasa di lidah. Kriuknya sungguh mengasikkan.

Selesai makan siang, perjalanan kami tersambung dengan jalan dengan rute yang lumayan menanjak. Lebar jalan pun cukup hanya untuk dua jalur yang saling berdampingan. Tidak ada kemacetan tapi jalanan cukup padat. Hingga di satu titik saya melihat signage Luwansa Hotel & Convention Center dari kejauhan yang di sebelahnya persis ada outlet Indomaret yang cukup luas. Fasadnya yang jangkung dengan lobby yang tinggi, membuat hotel ini sangat menarik perhatian selintas saat kita lewat. Jadi di ground floor memang diperuntukkan bagi parkir kendaraan, sementara tempat drop in dan pick up para tamu dilakukan di lantai atas. Strategi yang jempolan agar hotel memiliki area parkir yang lebih luas dari biasanya.

Suami menurunkan saya terlebih dahulu di area tersebut untuk check in. Ceiling yang tinggi serta marmer mewah yang bertebaran memberikan nuansa megah yang mengesankan. Di salah satu sudut yang cukup mencolok, Luwansa Hotel & Convention Center Manado meletakkan sebarisan dan setumpuk penuh bunga-bunga artificial berwarna-warni dan langsung menonjok perhatian. Di hadapannya tersedia banyak tempat duduk untuk tamu menunggu lalu Baku Dapa Lounge yang didominasi oleh furniture dan nuansa abu-abu serta coklat pada peralatan, cat dinding, gold listing, dan banyak ornamen lainnya. Semua diatur tanpa pembatas yang langsung memberikan kesan luas serta lapang.

Saya membayangkan betapa asiknya bercengkrama di lounge ini sembari menikmati kopi. Pihak hotel bahkan menyediakan beberapa tempat duduk di teras luar lounge dengan posisi terbuka untuk para tamu beranjangsana sembari merokok. Pemandangannya pun asik. Bisa melihat kolam renang dan stuktur bangunan di sekelilingnya serta beberapa taman di bawah yang terjaga kebersihannya.

Saya kembali ke dalam dan mengamati lobby sembari menunggu antrian memproses check in. Begitu pintu utama terbuka, tempat kerja para penerima tamu ada di sisi kanan. Kemudian jika kita berbelok ke kanan lagi, kita akan terhubung dengan berbagai function rooms yang memang disewakan kepada publik. Ada dua escalator di menempel ke salah satu dinding yang menghubungkan lantai ini dengan area parkir.

Kuy sekarang saya ajak lihat kamar yang saya pesan.

Tentang Manado : Bentenan. Mahakarya dari Minahasa Utara

Kamar yang Adem dan Nyaman

Satu kata yang langsung merangsek ke dalam pikiran saya saat pertama masuk kamar adalah adem. Kenapa? Karena warna kamar dengan sentuhan alam dan lampu-lampu yang dibuat dengan cahaya senada, membuat kesan adem langsung mencuat. Kamar superior seluas 25m2 ini tampak cukup lapang untuk skala atau tipe kamar terbawah.

Kehadiran kamar mandi yang bergaya bohemian dengan dinding kaca penghubung dengan tempat tidur, memberikan kesan lega. Kaca dengan garis/lis hitam, lampu gantung bercahaya coklat dan rain shower yang cukup besar, melahirkan kesan lega. Wastafelnya juga besar dan bersih. Luwansa Hotel & Convention Center sepertinya ingin agar penginap kamar superior turut merasakan kemewahan khas hotel bintang 4.

Fasilitas lain yang bisa dinikmati di kamar tipe ini adalah televisi 43′ dengan puluhan channel dalam dan luar negeri, working desk yang cukup luas, area khusus untuk menaruh barang-barang serta koper dan complimentaries yang biasa kita dapatkan saat menginap di hotel. Kamarnya bersih dan rapi saat saya masuk. Tak ada satu pun sudut berdebu. Begitu pun saat saya kembali ke hotel di hari berikutnya. Fasilitas atau sambungan internetnya pun lancar jaya. Saya tak mengalami hambatan saat melanjutkan nonton KDrama dengan tablet yang saya bawa. Atau saat suami harus melanjutkan pekerjaan kantor di dalam kamar.

Selain warna ruangan yang membumi, satu hal yang membuat nyaman adalah kasur empuk dan bedding nya yang terasa hangat. One of the best yang pernah saya rasakan saat staycation di hotel bintang 4. Tau gak sih, saat pendingin ruangan bekerja dengan sempurna dan kita kruntelan di balik selimut tapi tetap bikin kasurnya hangat tuh bisa membuktikan bahwa sprei dan bed cover nya super duper nyaman. Untuk saya yang terbiasa dengan suhu ruangan antara 18-23’C, tidur di kamar ini seperti mendapatkan kenyamanan hakiki meski tidak sedang berada di rumah. Teman-teman yang biasa ngelencer dan menginap di hotel, pasti pernah sesekali merasakan ini kan ya?

Hanya ada satu yang kurang dari tempat tidurnya. Tidak ada bed runner. Padahal sprei dan bed cover putih bersih itu akan semakin ciamik jika dihadirkan bed runner bermotif kain Bentenan. Kain otentik milik Sulawesi Utara. Gak perlu tenun asli. Printing kain tebal pun sudah cukup menurut saya. Setidaknya ada sentuhan etnik yang membuat tamu semakin memahami budaya wastra milik provinsi Sulawesi Utara.

Bed head nya unik. Dindingnya dihiasi oleh motif tenun dengan sudut-sudut yang tak beraturan. Tak ada yang sama meski ada beberapa patahan bentuk yang menyebar tak rata. Saat saya menyusur beberapa tipe kamar lewat official website Luwansa Hotel & Convention Centre, saya juga melihat motif ini terpasang cantik di setiap dinding di atas bed head. Pun termasuk di working cubical receptionist di lobby tadi.

Review Hotel : Dua Malam Bertandang di Mercure Hotel Bengkulu

Kamar yang hadir dengan warna adem dan menenangkan hati
Bersih dengan pelengkap ruangan yang tidak berlebihan

Sarapan di Rempah Resto yang Luas dan Estetik

Kalau gak ingat sudah ada janji dengan Axel yang akan menjemput saya pagi-pagi, enggan rasanya bangun dan meninggalkan kasur yang nyaman itu. Apalagi antara rumah dan Manado ada selisih waktu dua jam karena kota nyiur melambai ini masuk dalam kawasan Indonesia Timur. Jadi saat janjian jam 8 pagi di hari itu, berarti saya berada di pkl. 06:00 wib dan kudu bangun, mandi, serta sarapan setidaknya sebelum pkl. 06:00 wib. Lumayan juga perubahan jam aktivitas tubuhnya.

Sebenarnya terbangun saat subuh (sekitar pkl. 04:30 wib) sudah biasa buat saya. Hanya waktu sarapannya aja yang cukup mengagetkan untuk perut karena tidak terbiasa langsung makan besar setelah subuh. Lambung langsung kaget dong. Akibatnya saya harus berulang kali nabung dan banyak minum air hangat untuk menenangkan pencernaan. Tapi wangi menggoda yang mengempur saat berapa langkah masuk ke Rempah Resto di lantai dasar, mendadak membuyarkan konsentrasi.

Persis di counter depan pelayanan, mata langsung dihajar oleh deretan produk bakery dan menu american breakfast yang berlimpah ruah. Beuh wangi rotinya semerbak menembus indera penciuman. Mata yang tadi masih kriyep-kriyep pun langsung terbuka lebar.

Seperti biasa, setelah menandai meja yang akan ditempati dengan kunci kamar, saya berjalan menyusur setiap sudut resto. Berusaha menyortir diri sendiri untuk memilih masakan atau asupan apa yang sekiranya nyaman untuk lambung agar tidak mendadak menjerit minta tolong karena disuruh bekerja di waktu yang tidak biasanya.

Setelah melewati berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk mengambil Tinutuan (bubur Manado) yang terlihat mengepul dari wadahnya. Jaminan kehangatannya kemudian dilengkapi dengan telur rebus well done. Ini benar-benar klop banget. Kekentelannya buburnya pas dengan pilihan topping yang menyesuaikan konsep Tinutuan. Lebih banyak sayurnya. Sayangnya wadah untuk bubur ini terlalu kecil menurut saya. Mangkok dengan kuping dua itu cocoknya untuk sup. Kurang puas jika digunakan untuk bubur. Apalagi bubur dengan isian banyak serta padat. Saya sampai tiga kali bolak-balik ngambil saking enaknya dan kecil wadahnya. Kesempatan banget makan Tinutuan yang gak pernah saya temukan di lingkungan rumah. Mumpung lagi di Manado kan?

Melengkapi rasa dan biar sarapannya sehat, suami mengambilkan saya setumpuk buah-buahan dan salad yang segar dan membuat sarapan (sangat) pagi tersebut tidak menganggu jadwal biologis.

Review Hotel : Semalam Menginap di Hotel Santika Bengkulu

Semangkok kecil Tinutuan yang berhasil menghangatkan lambung di pagi hari
Sederetan sajian buffet yang tertata sangat rapi dan dengan pilihan yang banyak

Menutup sarapan dengan beberapa kue dan secangkir kopi, saya menebarkan pandangan ke berbagai sudut Rempah Resto yang tampak luas dan sangat lega. Tadi saat pertama masuk dan terjerambab pada kesan dan wangi khas deretan roti dan kue, saya melihat dominasi warna abu berpadu coklat muda dan sentuhan emas di beberapa lis dinding. Ada sederetan keramik dengan garis motif dan warna yang begitu senada dengan kelir tempat duduk dan meja. Lampu-lampu gantung dengan bohlam putih dan tangkai berwarna emas serta hitam, menambah lengkap sentuhan artistik Rempah Resto.

Ada ruang/area VIP di salah satu sudut lalu sederetan meja dan kursi yang diletakkan di teras luar resto. Teras ini menghadap langsung ke arah pegunungan. rumah-rumah penduduk dan beberapa hutan kecil yang ada di belakang hotel. Pagi kedua saat saya sarapan di Rempah Resto, saya menyempatkan diri melangkah keluar sebentar. Lumayan asik nongkrong-nongkrong di sana jika sedang tidak terburu-buru atau kita memang benar-benar berada di Manado dalam rangka liburan semata. Menikmati roti bakar, omelette, dan bercangkir-cangkir minuman hangat, bisa melengkapi pagi yang indah. Apalagi jika langit tampak cerah dengan awan putih yang menyelimuti puncak gunung yang terhidang di depan mata.

Spot presentasi masakannya pun ditata melebar dan diatur di beberapa titik. Ruangnya lega jadi tidak terjadi penumpukan tamu di tempat tersebut. Area khusus minuman pun disebar. Seperti biasa ada minuman hangat (teh dan kopi) serta aneka juice, susu yang menemani cereal atau bisa diminum langsung.

Tapi yang paling mengesankan buat saya itu adalah dessert kue, puding, dan rotinya. Pilihannya berlimpah. Jadi bagi yang menyukai American Breakfast, sarapan di Rempah Resto bakal puas dan kenyang maksimal. Sayangnya perhatian saya, selama dua pagi sarapan di Luwansa Hotel & Convention Center Manado ini terkuras pada Tinutuan. Bubur dengan isi banyak sayuran yang dicampur tersebut. Jadi kesempatan untuk mencoba aneka bakery dan beberapa cake khas Manado tidak bisa saya lakukan. Lambung terasa sudah terlalu penuh meski dipaksakan sekalipun. Karena biasanya kalau sudah mengkonsumsi asupan tepung terigu dan teman-temannya itu, saya tak bakal mampu mengunyah yang lain. Kenyangnya sungguh maksimal.

Mie goreng yang tasty. Bumbunya mantab meski isian campurannya tidak banyak.

Hotel Review : Rehat Berkelas di Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh

Perpaduan hitam, abu-abu, gold, putih, dan coklat ternyata cukup mengesankan
Kolam renang yang saya foto dari teras Rempah Resto.

Blu Bar Roof Top

Sarapan pagi pertama di hari ke dua kami berada di Luwansa Hotel & Convention Centre Manado, saya mengajak suami untuk memotret di beberapa sisi dan lantai. Dari kanal informasi on-line yang saya dapatkan di hari pertama ketibaan saya dan suami, hotel ini memiliki roof top yang stunning dengan nama Blu Bar.

Sentuhan interior designnya senada dengan Rempah Resto. Hanya tentu saja suasana dengan outdoor space nya berbeda. Jika tadi Rempah Resto hanya memiliki sejumput teras, di Blu Bar fasilitas itu terasa begitu dominan. Langit cerah dengan warna biru yang cantik terhampar beberapa langkah setelah saya keluar dari lift. Udara segar pagi hari menyeruak ke indera penciuman meski panas mulai menyerang kulit dengan garangnya.

Tapi tak apa, saya justru merasakan kegembiraan karena bisa mendapatkan langit cerah agar bisa memotret setiap sudut roof top dengan langit terang. Hasil foto pun jadi clear and clean. Tinggal kita pandai-pandai mencari sudut foto yang estetik hingga hasil jepretannya bisa maksimal. Apalagi jika jelas-jelas venue nya sendiri istagenic dengan vibes yang unik dan jarang bisa kita nikmati. Satu kesempatan yang jarang terulang atau susah untuk diulang.

Selain meja persegi empat dengan tempat duduk biasa di bagian dalam bar, di teras roof top kita bisa duduk di beberapa kursi tinggi yang menemani meja panjang yang juga sama jangkungnya. Di barisan ini terpasang bohlam bulat menggantung yang saya yakin bakal indah saat mereka benderang, dinyalakan saat matahari beristirahat. Di salah satu space terluas, Blu Bar menghadirkan beberapa sofa bambu besar. Yang terpikirkan oleh saya saat mencoba duduk di sini adalah membawa bantal-bantal empuk dan beberapa buku. Membaca di sore hari saat sore hari atau menjelang sunset pasti berkesan banget gak sih?

Saat saya datang ke Blu Bar, tempat ini tentu saja masih tutup. Tidak ada petugas yang berjaga. Tamu pun tidak ada. Jadi saya betul-betul puas merekam keindahan roof top tanpa gangguan dan bocor sedikit pun. Terlintas pengen kongkow-kongkow bersama suami di malam harinya. Tapi ternyata tubuh terlalu capek untuk melakukan itu. Perjalanan saya hari itu ke Likupang ternyata cukup menguras tenaga.

Hotel Review : Semalam Bertandang di Harris Hotel Batam Center

Dua Malam Rehat Berkualitas yang Tak Terlupakan

Hotel yang memiliki sekitar 134 kamar dengan dua diantaranya adalah tipe suite ini, selain dilengkapi dengan children playground, family size swimming pool, gym and spa, in-room dining, juga menyediakan ballroom and meeting rooms untuk keperluan bisnis. Berada di satu jalan yang cukup sibuk, hotel ini dilengkapi oleh beberapa fasilitas umum dan publik. Di sampingnya ada mini market. Sangat membantu jika kita hendak membeli/menikmati camilan atau mie cup yang asik dinikmati sehabis berenang atau tetiba kelaparan malam-malam.

Sekitar 200 meter dari hotel juga ada Warung Kobong. Warung yang menyediakan banyak opsi kuliner khas Manado. Warungnya luas dan selalu ramai. Saya sempat mengajak suami untuk makan di sini setelah Axel mengajak saya ngopi sebelum berangkat ke Likupang. Ragam kue otentik Sulawesi Utara pun bertebaran. Suami pun langsung suka dan girang menikmati semangkok besar Tinutuan yang hangat di malam hari yang bersiap menyambut hujan. Karena cahaya yang tidak begitu terang, sayangnya saya tidak bisa memotret asupan yang kami pesan. Dan baru tersadar tidak memiliki satu pun foto sebagai rekam jejak telah mampir di Warung Kobong. Padahal biasanya foto-foto ini saya gunakan untuk kenang-kenangan di Google Maps.

Saya sangat menikmati dua malam rehat berkualitas yang tak terlupakan di hotel ini. Meskipun jalanannya lumayan sibuk, suara bising kendaraan teredam dengan baik. Dan seperti yang sudah saya ceritakan, kamarnya yang adem dan nyaman membuat kenangan itu menjadi sangat berkesan. Rasa lelah berkeliling dan berwisata kemudian luruh dengan rasa super leluasa yang disediakan oleh Luwansa Hotel & Convention Center Manado. Para petugas juga ramah dan fungsional meski terlihat tidak banyak beredar atau berada di dekat kita.

Salah satu hotel bintang 4 yang saya rekomendasikan untuk liburan keluarga.

Review Hotel : Hotel Grand Arabia. Strategis di Tengah Kota Banda Aceh

Inside bar yang ada di Blu Bar Roof top. Ciamik penataannya.
Salah satu sudut tempat duduk yang luas untuk bercengkrama. Pemandangan kota menghiasi dinding kacanya.
Inside bar yang sangat luas
Salah satu sudut duduk yang paling asik di Blu Bar. Pemandangan kota dan pegunungan sangat memanjakan mata.
What a wonderful morning. Blu Bar Hotel Luwansa & Convention Center Manado
Sajian roti, cake dan kue yang ada di Rempah Resto. Pilihannya banyak banget.
Sarapan di pagi pertama saya di Luwansa Hotel & Convention Center Manado
Exit mobile version