Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali

65
×

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali

Share this article
dogol,-melestarikan-wayang-tradisional-kamasan-bali
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Saya dan istri Bli Madra dengan banyak hasil karya dan lukisan Wayang Kamasan Bali

Disadari atau tidak, wayang, salah satu warisan budaya ratusan tahun yang lalu, semakin berkurang penggemar, pembuat, dan pecintanya. Luruh tergerus teknologi, hiburan digital kekinian, dan semakin merebaknya keengganan publik untuk mendalaminya. Bagaimana dengan nasib wayang otentik Bali yang sekarang ada?

Perjalanan Wisata ke Klungkung Bali

Hari mulai beranjak siang saat saya dan Mega, seorang teman blogger yang tinggal di Bali, menyusur jalan menuju Klungkung, Karangasem.  Langit tampak redup dan matahari tidak sepenuhnya menerangi bumi. Meski dalam beberapa waktu sinar mentari terlihat benderang, namun terkadang tiba-tiba menyiramkan air hujan di luar dugaan. 

Cuaca Bali di saat itu memang sedang tidak menentu.  Dan itu sungguh menjadi tantangan bagi kami berdua yang sedang berada di sebuah rangkaian perjalanan wisata dengan tujuan menggali banyak sumber budaya.

Example 300x600

Kami tak punya tujuan khusus atau satu tempat yang sudah diincar sebelumnya. Tapi kami sangat berharap bahwa dengan menyusur beberapa titik sepanjang jalan, kami akan bertemu gerai para pembuat wayang khas Bali. 

Wayang Kamasan namanya.

Wayang tradisional otentik Bumi Dewata yang perajin, pembuat, dan pemasarnya mulai sulit ditemukan.  Kehadirannya pun menjadi semakin eksklusif dengan jejak peninggalan yang tak mudah untuk ditemukan, digali, meski banyak yang menyadari bahwa wayang tradisional ini harus dilestarikan.

Kami berdua sangat berharap bahwa dengan menyusur langsung kawasan Klungkung kami dapat bertemu beberapa tempat yang dapat melontarkan banyak informasi menarik tentang Wayang Kamasan tersebut.

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Beberapa produk dengan sentuhan Wayang Tradisional Kamasan Bali

Dogol dan I Ketut Madra

Tak lama, harapan itu terkabulkan. Semesta menjawab dengan manisnya saat tanpa sengaja mata saya bersirobok dengan beberapa hasil karya lukis di sebuah gerai kecil yang berada persis di pinggir jalan, di kawasan Banjar Sangging.

Karya yang langsung terlihat tersebut tidak hanya satu.  Tapi beberapa produk dengan jenis yang biasa ditawarkan kepada para pewisata.  Seperti lukisan, aneka dekorasi rumah, gantungan kunci, dompet, beragam tas perempuan, ukiran kayu kecil-kecil, dan beberapa produk yang mudah untuk dibawa.

Gerai atau artshop dengan nama Dogol ini tampak hening dan sepi.  Dua buah display  kaca yang padat dengan produk buah tangan yang berada di sisi depan terlihat penuh sesak dan saling berhimpitan.

Saat melangkah masuk, terlihat sepasang suami istri tampak duduk terpekur dalam suatu kegiatan. 

Mereka sedang melukis.

Sang lelaki yang terlihat sudah berusia lanjut dengan rambut keperakan, bekerja di atas sebuah meja kayu usang.  Dia  tampak sedang melukis di atas media kain blacu yang sudah diolah.  Memegang sebuah alat khusus berujung runcing yang kemudian saya tahu bahwa itu adalah alat yang berfungsi layaknya sebuah kuas untuk membuat pola lukisan.

Alat itu mirip seperti sebuah pensil yang terbuat dari bambu dan sudah diserut tajam di bagian ujungnya.  Didekatnya ada sebuah wadah kecil yang menampung cat hitam. Pewarna akrilik yang biasa digunakan untuk membuat konsep dasar sebuah motif lukisan.

Sementara yang perempuan duduk ndeprok di lantai, memegang kuas berujung runcing dengan beberapa mangkuk kecil berisikan cairan pewarna.

Saat saya melangkah masuk, sang ibu menyapa dengan keramahan yang luar biasa.  Dia mengenalkan diri dan menyebut nama I Ketut Madra, sang suami, yang sedang bekerja di meja kayu tersebut.

Saya dan Mega pun turut memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangan kami.  Acara salaman yang terjadi kemudian membuat saya serasa disambut oleh keluarga sendiri. Saya tersenyum sama ramahnya sebelum akhirnya mohon izin untuk berkeliling, melihat dan memotret berbagai produk seni yang ada di artshop mereka terlebih dahulu, sebelumnya akhirnya larut dalam sebuah obrolan panjang yang sangat inspiratif

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
I Ketut Madra dengan hasil karyanya, sebuah draft lukisan Wayang Tradisional Kamasan

Terjebak dalam Kekaguman

Anggukan, sapaan, dan izin dari sepasang suami istri ini begitu terasa nyaman di hati.  Saya pun menyusur setiap sudut dan berusaha mendapatkan foto terbaik dari hampir semua produk yang dijajakan.

Banyak karya handmade mereka yang kemudian terekam indah di gawai saya.  Mulai dari lukisan dalam beberapa ukuran, tas dan dompet dalam berbagai bentuk, hiasan rumah atau dekorasi, hingga beragam buah tangan yang biasa diminati oleh wisatawan seperti kipas tangan, mangkuk kayu dan perlengkapan berbahan dasar kayu lainnya, ikat pinggang, telur hias, dan masih banyak lagi.

Mata saya tak henti menatap setiap produk dengan rinciannya, sebelum dan sesudah memotret. Bahkan berkali-kali terjebak dalam kekaguman yang tak bisa ditolak karena menandai ada sentuhan unik yang tentu saja butuh keahlian khusus. 

Keahlian istimewa yang tentunya tidak dimiliki oleh orang kebanyakan.

Saya melihat berbagai jenis gambar dan rangkaian lukisan indah lewat bertumpuk-tumpuk goresan halus dengan garis-garis tipis.  Gambar dari para tokoh yang menginspirasi yang diambil dari cerita epik dan mitologi Hindu, seperti dari Ramayana, Mahabrata, dan Kitab Sutasoma.  Lukisan klasik yang kemudian divariasikan dan dikombinasikan dengan gambar daun atau bunga.

Saya terjebak dalam kekaguman yang terus merangsek ke dalam hati.  Sebagai seorang penggiat produk handmade, Wayang Kamasan, bagi saya adalah materi yang membutuhkan seorang loyalis seni, pembelajar tak kenal lelah, dengan tumpukan kesabaran yang tidak sedikit.

Bagaimana ya mengerjakannya?  Berapa lama ya setiap produk dikerjakan hingga layak untuk ditawarkan ke hadapan publik?

Goresan dan liukan tipi-tipis serta begitu rinci itu pasti butuh ilmu dan usaha yang tidak sedikit.  Khususnya saat dikerjakan di atas media kecil yang butuh ketajaman penglihatan yang sangat jitu.

Saya mendadak teringat sehari sebelumnya saya dan Mega menjadi tamu dari Taman Kerta Gosa yang ada di Semarapura.  Sebuah kota kecil yang menjadi ibu kota Kabupaten Karangasem.

Saya melihat lukisan dengan jenis yang sama di atap langit-langit Bale Kambang.  Satu bale yang berada di tengah sebuah danau buatan, dibangun di satu ketinggian tertentu, dan kabarnya dulu menjadi pusat atau tempat perundingan Raja Klungkung dan para pejabat kerajaan untuk berdiskusi serta mengambil keputusan penting.

Ah bener banget.  Goresannya sama. Dan itu diyakinkan oleh Bli Madra saat kami terlibat dalam diskusi hangat kemudian.  Wayang Kamasan memang hadir di langit-langit Bale Kambang.  Sebagian besar lukisan yang hadir di sana adalah cerita saat Raja Klungkung berkomunikasi dengan para petinggi, tamu-tamu kerajaan, bahkan bersama rakyat yang datang untuk menghadap sang raja.

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali

Dogol, Sang Pewaris Wayang Kamasan

Bli Madra masih berkutat dengan kuas/pensil lukisnya, saat saya memperhatikan detik demi detik beliau menggoreskan tinta hitam pada pola gambar yang sudah dia buat.  Tarikannya terlihat sangat hati-hati meski sudah ada draft pensil sebelumnya.

Saya menjaga keheningan agar beliau tetap bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Tangannya masih luwes melukis, membuat sketsa lebih tepatnya, dari sebuah bidang kain belacu yang sudah diproses.  Kain yang dicelup ke bubuk beras, dikeringkan, kemudian permukaannya digosok agar rata dan mulus dan mudah menyerap tinta akrilik.

Lewat keahlian yang dia turunkan dari sang ayah, Nyoman Dogol (1873-1963), seorang pelukis Wayang Kamasan legendaris dan sangat terkenal di masanya, Bli Madra meramu setiap tarikan tangan, membentuk satu konsep rancangan yang selanjutnya akan diberi warna.  Dari almarhum ayahnya lah Bli Madra mewarisi semua keahlian untuk tetap setia menjadi pewaris Wayang Kamasan.

Nama panggilan ayahnya inilah, Dogol kemudian menjadi jenama resmi yang beliau daftarkan sebagai merek paten bersertifikat resmi.  Nama atau jenama inilah yang membawa Bli Madra berkarya dan memasarkan hasil karyanya.

Di usia yang sudah berada di angka 70an, Bli Madra, meneruskan tugas sebagai seorang pelukis dan pelestari Wayang Kamasan kepada anak ke-3 nya, I Komang Gede Anugrah Diatmika.  Anak lelaki satu-satunya yang menimba ilmu di Institut Seni Indonesia Bali (ISI Bali) dan mengambil jurusan seni murni.

Dengan menimba ilmu di ISI Bali inilah, Bli Komang, menggali banyak teori dan praktek tentang proses kreatif Wayang Kamasan.  Bermodal kemampuan dan ilmu yang sudah didapatkan, Bli Komang sekarang membantu orang tuanya meneruskan usaha jenama Dogol dari hulu ke hilir.  Baik dari segi konsistensi produksi, manajemen kerja, dan kegiatan pemasaran serta konsep diversifikasi produk.

Kecintaan Bli Komang atas Wayang Kamasan pun semakin bertumbuh dari hari ke hari.  Seorang generasi Z yang nyatanya mampu membawa Dogol ke level yang lebih tinggi dengan manajemen yang lebih tertata.

Lewat pengetahuannya jugalah, Dogol tak hanya berdagang secara off-line lewat galeri yang berlokasi di Banjar Sangging ini tapi juga sudah merambah pasar on-line, khususnya e-commerce, sehingga penjualan bisa menggapai ekspor.

Dogol pun menjadi binaan dari beberapa BUMN.  Lewat jaringan inilah mereka bisa mengikuti beberapa pameran dan membangun jejaring bisnis yang lebih luas.

Bli Madra begitu semangat menceritakan banyak hal tentang Dogol.  Khususnya tentang mengenalkan Wayang Kamasan agar senantiasa mendapatkan perhatian pemerintah daerah setempat.  Diberi banyak kesempatan untuk lebih bersosialisasi dan mengenalkan Wayang Kamasan di beberapa acara atau event yang berskala nasional serta internasional.

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Beberapa produk dengan lukisan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Beberapa produk dengan sentuhan Wayang Tradisional Kamasan Bali

Semangat Produksi Tiada Henti

Sembari melukis, Bli Madra dan sang istri tak henti menghujani saya dengan pengetahuan tentang Wayang Kamasan itu sendiri.

Dengan kemampuan yang terisi sedari muda dari ayahnya, Bli Madra menceritakan tentang eksistensi Wayang Kamasan dari masa ke masa.

Konsisten melukis dan menghadirkan tokoh-tokoh manusia, makhluk mitologi, dewa-dewi, dan prajurit pewayangan, wayang otentik Bali ini awalnya diproduksi menggunakan banyak pewarnaan alami yang diambil dan diolah dari alam.  Warna-warna cerah dan kontras dihadirkan sebagai ciri khas dan kekuatan dari wajah asli Wayang Kamasan itu sendiri. 

Lukisan para tokoh ini biasanya dilengkapi dengan gambar lingkungan di mana tokoh tersebut sedang berada, hiasan bunga dan gambar dedaunan yang rinciannya sangat rumit.

Lukisan Wayang Kamasan juga diaplikasikan ke beberapa perlengkapan sembahyang dan upacara adat seperti bokor dan masih banyak lagi.  Ini juga menjadi pertanda bahwa Wayang Kamasan menggiring makna simbolis tentang ajaran agama, moral, bebajikan, sifat manusia, yang bisa dengan mudah kita lihat saat menghadiri berbagai upacara keagamaan Hindu.

Dalam obrolan lebih lanjut di tengah hujan yang mendadak menghujan bumi, Bli Madra juga menceritakan tentang formula bisnis yang dipraktikkan oleh Dogol.  Memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan produk Wayang Kamasan dengan harga yang lebih ramah di kantong, Dogol melahirkan produk dengan tinta akrilik yang dijual bebas di pasaran, lebih mudah didapat, dan tentu saja lebih murah.

Cara ini nyatanya bisa mengurangi ongkos produksi dan melahirkan harga yang lebih ekonomis.  Pangsa pasar pun tidak melulu terkonsentrasi pada level atas tapi juga bisa menggapai kelas menengah dan di bawahnya.

Saya tertarik dengan salah satu tas tangan wanita dengan bentuk persegi panjang dan kantong serut yang cukup unik.  Tas yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Menggunakan cat akrilik, tas ini saya adopsi di harga Rp250.000,00.  Sementara jika menggunakan pewarna alami harganya bisa mencapai dua kali lipat bahkan lebih.

Istri Bli Madra juga bercerita bahwa mereka sering mendapatkan pesanan dari BUMD dan beberapa institusi lokal untuk menyediakan produk kreatif sebagai buah tangan.  Ada juga beberapa langganan dari Kementerian pusat yang menggunakan produk Dogol sebagai hadiah bagi tamu-tamu istimewa mereka.

Sepasang pasutri ini dengan semangat menceritakan bahwa meskipun penjualan mengalami pasang surut, mereka tetap berkarya.  Banyak waktu mereka habiskan dengan melukis sebagai panggilan jiwa dan pengabdian akan seni budaya Wayang Kamasan. 

Sang Bapak mengerjakan draft atau konsep lukisan sementara sang ibu mengerjakan sebagian besar pewarnaan.  Keduanya saling bekerja sama, saling mengisi, saling mendukung, agar produk-produk Dogol akan tetap eksis sepanjang masa.  Selalu siap dengan stok apabila mendadak mendadak mendapatkan undangan mengikuti eksibisi.

Apalagi sekarang, Bli Komang, anak ke-3 mereka, sudah mendominasi manajemen Dogol, menggantikan kedua orang tua yang sudah sepuh.  Tongkat estafet pun sudah mereka pindahkan.

Lewat ribuan karya yang sudah dihasilkan, sistem kerja serta pemasaran yang sudah terkinikan saat ini, tentu saja menjadi bukti dari serangkaian langkah baik yang selalu dijaga dan dibangun oleh jenama Dogol.

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Tas dan wadah untuk sembahyang dengan sentuhan lukisan Wayang Kamasan Bali
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
DOGOL catatan identifikasi dan plang yang bisa dilihat dari pinggir jalan

Barisan Harapan Untuk Dogol

Hujan mulai mereda saat saya dan Mega berpamitan pulang.  Bli Madra dan sang istri tak putus mengucapkan terima kasih atas kebersamaan, obrolan panjang, dan keakraban yang sudah terbangun.

Saya dan Mega pun menyampaikan hal yang sama.  Tentu saja dibarengi dengan setumpuk harapan baik agar budaya lukis dan Wayang Kamasan yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel di abad ke-14 dan semakin berkembang pesat di abad ke-16 saat dinasti Kepakisan memerintah Bali dan sekitarnya, akan terus lestari.

Akan lahir generasi penerus yang mampu membawa tongkat estafet eksistensi Wayang Kamasan kini dan nanti.  Produk-produk jenama Dogol pun semakin indah, berkualitas, dan menembus selera serta keinginan publik. 

Tak mudah memang.  Tapi saya yakin Bli Madra dan keluarga akan mampu menjalankan misi ini sepanjang hidup di kandung badan. Tentu saja diiringi dengan banyak stakeholders yang juga terlibat dalam kegiatan pelestarian ini.

Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Kipas tangan dengan lukisan Wayang Kamasan Bali (kiri) Alat/pensil Bambu untuk melukis (kanan)
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali
Beberapa produk hasil karya Dogol, Klungkung, Karangasem, Bali
Dogol, Melestarikan Wayang Tradisional Kamasan Bali

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com