Lingkungan

Dekarbonisasi: Langkah Nyata Perusahaan Menuju Masa Depan Rendah Karbon

5
dekarbonisasi:-langkah-nyata-perusahaan-menuju-masa-depan-rendah-karbon
Dekarbonisasi: Langkah Nyata Perusahaan Menuju Masa Depan Rendah Karbon

LindungiHutan Insight

  • Dekarbonisasi adalah upaya sistematis perusahaan untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung operasional yang lebih berkelanjutan
  • Tuntutan regulasi ESG, ekspektasi investor dan konsumen, serta risiko perubahan iklim membuat perusahaan perlu segera beradaptasi menuju bisnis rendah karbon
  • Perusahaan dapat memulai dekarbonisasi melalui langkah sederhana seperti efisiensi energi, transisi energi bersih, dan program penanaman pohon

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan di seluruh dunia yang berlomba-lomba menyatakan komitmen iklim mereka. Namun dibalik itu, apakah perusahaan sudah benar-benar memahami fondasinya?

Salah satu fondasi terpenting dari strategi iklim perusahaan adalah dekarbonisasi. Tanpa memahami konsep ini secara tepat, strategi keberlanjutan yang disusun bisa meleset.

Apa itu Dekarbonisasi?

Dekarbonisasi adalah proses sistematis untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO₂) dan gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan industri. Tujuannya untuk menekan laju perubahan iklim dan mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil.

Secara konkret, dekarbonisasi mencakup beberapa tujuan utama:

  1. Mengurangi emisi gas rumah kaca dari operasi bisnis
  2. Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi
  3. Meningkatkan efisiensi energi di seluruh rantai operasional
  4. Mendorong inovasi teknologi yang lebih ramah lingkungan
  5. Mendukung pengembangan infrastruktur berkelanjutan

Berbeda dengan sekedar label ‘eco-friendly’ atau kampanye ramah lingkungan biasa, dekarbonisasi bersifat lebih sistematis dan terukur.

Mengapa Dekarbonisasi Penting bagi Perusahaan?

Dekarbonisasi menjadi sangat penting untuk diterapkan karena beberapa tuntutan dan risiko jika tidak segera mengadopsinya:

1. Tekanan Regulasi dan ESG

Regulasi terkait ESG (Environmental, Social, Governance) semakin ketat di tingkat global maupun nasional. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan komitmen NDC (Nationally Determined Contribution) yang menuntut kontribusi nyata dari sektor swasta.

2. Tekanan dari Investor, Mitra Bisnis, dan Konsumen

Investor kini semakin mempertimbangkan faktor iklim dalam keputusan investasi mereka. Mitra bisnis global, terutama dari Eropa dan Amerika, mulai mensyaratkan komitmen keberlanjutan sebagai bagian dari seleksi vendor.

Begitu pula konsumen, terutama generasi muda kini semakin cermat memilih merek berdasarkan rekam jejak lingkungan.

3. Risiko Perusahaan Jangka Panjang

Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, melainkan risiko bisnis yang nyata. Gangguan operasional akibat cuaca ekstrem, kenaikan biaya energi dan bahan baku, hingga hilangnya akses pasar internasional adalah konsekuensi perusahaan yang abai.

Baca juga: Transportasi Ramah Lingkungan, Solusi Kurangi Emisi Karbon

Sektor Apa Saja yang Paling Perlu Dekarbonisasi?

Secara global, sektor-sektor dengan emisi tertinggi meliputi energi dan pertambangan, manufaktur, transportasi, konstruksi, hingga industri makanan dan minuman.

Masing-masing sektor memiliki urgensinya sendiri:

  1. Energi dan Pertambangan: ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadikan sektor ini menyumbang emisi terbesar
  2. Manufaktur: konsumsi energi intensif dalam proses produksi menghasilkan emisi Scope 1 yang signifikan
  3. Transportasi: emisi dari armada kendaraan operasional menjadi tantangan utama, terutama untuk logistik skala besar
  4. Konstruksi: penggunaan material berat dan mesin bertenaga fosil berkontribusi besar terhadap jejak karbon
  5. Perbankan dan Jasa Keuangan: jejak karbon dari operasional gedung dan infrastruktur teknologi semakin disorot
  6. F&B dan Retail: konsumsi energi harian dari outlet dan gerai menjadi area yang semakin diperhatikan

Pada akhirnya, hampir semua sektor memiliki tanggung jawab dalam agenda dekarbonisasi. Yang membedakan hanyalah skala emisi dan pendekatan yang paling relevan.

Siapa yang Sudah Bergerak?

Beberapa perusahaan dari lintas sektor di Indonesia sudah mengambil langkah nyata dalam komitmen keberlanjutan:

  1. Shell Indonesia (energi): shell luncurkan Shell Card sebagai bagian upaya penghematan BBM dan pengurangan emisi karbon dalam operasional mereka.
  2. PT Timah Tbk (pertambangan): PT Timah menargetkan reduksi emisi sebesar 2% per bulan terhadap Business as Usual (BAU) sebagai bagian dari komitmen net zero emission 2060.
  3. Bank Syariah Indonesia (perbankan): BSI menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi, 2 green building, 11 titik panel surya, 145 kendaraan operasional listrik, 15 stasiun pengisian daya, hingga 70 mesin daur ulang botol plastik.
  4. Bloomery Patisserie (F&B): melalui program #GreenBloomery, mereka mulai beralih ke energi panel surya untuk operasional tokonya, sekaligus berpartisipasi dalam program penanaman pohon bersama LindungiHutan. 

Dari perusahaan tambang skala nasional hingga patisserie lokal menjadi bukti bahwa dekarbonisasi bisa dimulai dari skala bisnis apapun.

Baca juga: Bloomery Patisserie Tanam 1.177 Mangrove di Pesisir Tambakrejo

Bagaimana Perusahaan Bisa Mulai Dekarbonisasi?

Memulai perjalanan dekarbonisasi tidak harus langsung dengan langkah besar. Berikut kerangka awal yang bisa dijadikan panduan:

  1. Identifikasi Sumber Emisi: mengetahui dari mana emisi perusahaan berasal, mencakup emisi langsung (Scope 1) maupun emisi tidak langsung (Scope 2).
  2. Tetapkan Target Terukur: setelah tahu baseline emisi, tetapkan target reduksi yang realistis berbasis data. Target sebaiknya memiliki timeline yang jelas dan dapat diverifikasi secara independen.
  3. Pilih Strategi yang Sesuai: meliputi peningkatan efisiensi energi, transisi ke energi terbarukan, dan offsetting emisi yang belum bisa dikurangi misalnya melalui program penanaman pohon.

Untuk memulainya, perusahaan tidak perlu menunggu semua siap. Fokus dulu pada area yang paling bisa dikontrol langsung oleh perusahaan, seperti konsumsi listrik kantor, armada kendaraan, atau proses produksi utama.

Dekarbonisasi Bukan Beban, Tapi Peluang Bisnis

Masih banyak perusahaan yang memandang dekarbonisasi sebagai beban biaya tambahan. Padahal, beberapa inisiatif dekarbonisasi justru berujung pada penghematan biaya operasional. 

Efisiensi energi dan optimalisasi bahan bakar menjadi contoh nyata di mana langkah hijau juga menguntungkan secara finansial. 

Perusahaan yang lebih dulu bergerak akan lebih siap menghadapi regulasi yang semakin ketat dan ekspektasi pasar yang terus berkembang. Di sisi lain, reputasi dan kepercayaan stakeholder semakin bergantung pada rekam jejak keberlanjutan perusahaan.

Dalam era persaingan global saat ini, komitmen nyata terhadap dekarbonisasi bukan sekadar nilai tambah, melainkan keunggulan kompetitif.

Mulai Perjalanan Dekarbonisasi Anda

Memahami dekarbonisasi adalah langkah awal. Langkah selanjutnya  adalah mengetahui instrumen mana yang paling tepat untuk kondisi perusahaan.

Pelajari lebih lanjut bagaimana program penanaman pohon bisa menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi perusahaan Anda.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Exit mobile version