Indonesiainside.id- Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, mengungkapkan, biang kerok bergugurannya industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional karena serbuan impor pakaian jadi asal China.
Berdasarkan data API, terdapat selisih pencatatan untuk kode HS 61, HS 62, HS 63 atau kode impor produk tekstil dan garmen yang semakin lebar setiap tahunnya.
“Selisih pencatatan yang kita tidak tahu kenapa selisihnya cukup lebar, kalau kita lihat dari deklarasi harganya itu hanya sepertiga. Ya jadi bisa kita bayangkan kenapa industri TPT satu-satu berguguran,” jelas Jemmy saat rapat dengan DPR di Jakarta, dikutip Kamis (11/7/2024).
Utilisasi industri TPT yang kini semakin mengalami penurunan hingga di bawah 50%, diantaranya industri serat utilisasinya 45%, industri spinning 40%, industri weaving/knitting 52%, industri finishing 55%, dan industri pakaian jadi utilisasinya 58%.
Harga jual produk China di Indonesia sangat murah. Hal itu yang membuat Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri terpuruk. Bagaimana tidak, harga produk yang dijual ke Indonesia sangat murah.
“Kita tarik terdapat 31 HS dari 44 HS yang harga ekspor Tiongkok ke Indonesia, jauh lebih murah Tiongkok ke Indonesia dibandingkan ke berbagai negara lainnya,” kata dia.
Jemmy memberikan data perbandingan harga ekspor pakaian China ke Indonesia dengan ke negara seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Jerman. Harga impor produk pakaian China ke Indonesia pada 2021 US$ 6,10, sementara harga pakaian impor dari China ke Amerika Serikat (AS) US$ 11,18, selisihnya pun 45,49%.
Harga impor produk pakaian China ke Indonesia tahun 2021 US$ 6,10, sementara harga pakaian impor dari China ke Jerman US$ 26,47. Selisih harganya mencapai 76,97%.
“Tahun 2019 HS code 61, Amerika mengimpor dengan harga US$ 13,56. Indonesia mengimpor US$ 7,09 (per kg) (selisihnya 47,71%). Tahun 2020 juga China mengekspor ke Indonesia, harga lebih murah,” terangnya.
Dengan begitu, China terbukti melakukan dumping karena menjual pakaian dengan harga yang sangat murah. Apalagi, saat ini produksi tekstil di China juga sedang berlebih, sehingga harga pun cukup murah.
“Dengan kata lain kita simpulkan dumping itu benar-benar terjadi seperti kata Menteri Keuangan, China mendumping produk TPT pakaian jadi,” ujarnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Bambang Heryadi, menjelaskan, jumlah serapan tenaga kerja di Industri TPT tersebut terus menurun. Saat ini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan 2019 yang pernah menyerap hingga 3,5 juta orang.
“Seiring dengan kondisi geopolitik global saat ini keberlangsungan Industri TPT masih terus menghadapi berbagai ancaman, utilisasi industri TPT di sektor hulu maupun hilir terus menurun,” ujar Bambang.
Gelombang PHK di industri TPT ini juga terkait dengan adanya ketidakefisienan terhadap produktivitas atau running capacity di bawah 50 persen. Harga eberapa komponen produksi terus meningkat ditambah lagi ketergantungan impor yang tinggi menyebabkan daya saing industri TPT semakin rendah.
“Bahkan komisi VII dapat laporan terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai pabrik tekstil sebagai imbas dari inefisiensi produksi,” ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Berdasarkan data dari API, di pusat-pusat industri TPT yang berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah, total PHK terjadi sejak awal tahun hingga akhir 2023 mencapai 7.200 tenaga kerja. Pada periode januari hingga Mei 2024, korban PHK di industri TPT semakin bertambah sekitar 3.600 tenaga kerja. Sehingga total secar akeseluruhan ada sekitar 10.800 tenaga kerja yang terkena PHK.







