Jakarta, CNN Indonesia —
China mendesak Jepang untuk “merenungkan secara mendalam” apa yang disebut Beijing sebagai “kejahatan perang” masa lalu dan memutus hubungan dengan militerisme, pada Senin (17/8).
Desakan itu muncul setelah pidato Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam upacara peringatan korban perang pada Sabtu (15/8) yang menandai 81 tahun menyerahnya Jepang pada Perang Dunia II.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Juan, menilai pidato Takaichi sebagai upaya “memutar balik roda sejarah”. Ia meminta pemerintah Jepang mendengarkan suara rakyat dan komunitas internasional serta tidak melangkah lebih jauh ke arah yang menurut Beijing salah.
“Kami kembali mendesak mereka yang memimpin pemerintah Jepang untuk mendengarkan suara rakyatnya dan komunitas internasional, merenungkan secara mendalam kejahatan perang, memutus hubungan dengan militerisme, dan berhenti melangkah lebih jauh di jalan yang salah,” kata Lin, dilansir Anadolu Agency.
Takaichi, yang untuk pertama kalinya menghadiri acara tahunan itu sejak menjabat pada Oktober lalu, menyampaikan komitmen terhadap perdamaian.
Namun, ia tidak menggunakan istilah yang dipakai pendahulunya, Shigeru Ishiba, pada peringatan 2025 lalu. Ishiba kala itu menegaskan “penyesalan” Jepang atas perang dan menyatakan “tekad kuat untuk menolak perang.”
Menurut Lin, Takaichi juga menghindari kata “penyesalan” dan “pelajaran yang dipetik,” serta berbicara secara ambigu mengenai kejahatan perang Jepang.
Beijing menilai sikap itu menunjukkan keinginan pemerintahan Takaichi untuk memutihkan sejarah agresi Jepang dan membalikkan putusan sejarah tersebut.
“Hanya dengan menghadapi dan belajar dari sejarah, seseorang dapat menghindari pengulangan kesalahan masa lalu,” ujar Lin.
Dalam pernyataan yang sama, Lin juga menyinggung kunjungan sejumlah anggota kabinet dan tokoh politik Jepang, termasuk Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi, ke sebuah kuil yang dianggap China sebagai simbol dukungan terhadap “perang agresi.”
Tahun ini juga menandai 81 tahun kemenangan China dalam Perang melawan Jepang yang kedua (1937-1945).
(rti)







