
Foto: Getty Images
Teknologi.id – Memasuki dunia kerja seolah menjadi medan benturan budaya yang nyata bagi Generasi Z (Gen Z). Sebuah survei terbaru dari Intelligent mengungkapkan realita yang cukup mengejutkan: enam dari 10 perusahaan (60 persen) mengaku telah memecat karyawan Gen Z hanya dalam beberapa bulan setelah mereka direkrut.
Profesor dari New York University (NYU), Suzy Welch, menilai fenomena ini bukan sekadar masalah kompetensi teknis, melainkan cerminan dari pergeseran fundamental terkait nilai dan prioritas hidup yang dianut oleh tenaga kerja muda saat ini.
Krisis Keselarasan: Hanya 2 Persen Gen Z yang Memenuhi Kriteria
Melalui riset yang melibatkan sekitar 200.000 responden selama setahun terakhir menggunakan alat pemetaan The Values Bridge, Welch menemukan adanya jurang pemisah yang sangat lebar antara apa yang dicari perusahaan dan apa yang diprioritaskan oleh Gen Z.
Data menunjukkan bahwa hanya 2 persen dari Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan ekspektasi manajer perekrutan. Benturan nilai ini terlihat jelas dari prioritas masing-masing pihak:
Prioritas Utama Karyawan Gen Z:
-
Perawatan diri (self-care) dan kesehatan mental.
-
Kebebasan untuk mengekspresikan diri secara autentik.
-
Keinginan untuk membantu orang lain.
Prioritas Utama Manajer Perekrutan (Perusahaan):
-
Prestasi: Dorongan dan keinginan kuat untuk menang atau mencapai target.
-
Fokus: Dedikasi penuh terhadap pekerjaan.
-
Ruang Lingkup: Keinginan untuk terus belajar, beraktivitas, dan mengambil tantangan profesional.
“Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya—itu angka kesenjangan yang sangat besar,” ungkap Welch, dilansir dari USA Today.
Trauma Generasional: Menolak Hustle Culture

Foto: ASBILL
Meskipun perusahaan menuntut fokus pada pencapaian dan pekerjaan, pekerja muda memiliki alasan kuat mengapa mereka lebih memilih keseimbangan hidup.
Menurut Welch, Gen Z melihat bahwa pola kerja “gila-gilaan” yang dianut generasi sebelumnya tidak selalu menjamin kehidupan yang stabil di masa tua. Mereka melihat orang tua mereka mendedikasikan hidup untuk perusahaan, namun berujung terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di usia paruh baya.
Baca juga: Digantikan AI, Pekerja Terancam Turun Gaji Hingga 10 Tahun
“Gen Z pada dasarnya mengatakan, ‘Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Orang tua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun’,” jelas Welch mengilustrasikan pola pikir pekerja muda.
Oleh karena itu, Welch menegaskan bahwa nilai yang dianut Gen Z pada dasarnya tidak salah. Namun, mereka harus menyadari konsekuensinya: mempertahankan prinsip tersebut berarti mereka mungkin akan kesulitan mendapatkan pekerjaan konvensional yang sejalan dengan gelar sarjana mereka. Di sisi lain, perusahaan kini harus berjuang keras memperebutkan 2 persen talenta muda yang sesuai dengan standar korporat.
Baca juga: Survei: 70 Persen Pekerja Siap Gunakan AI, Perusahaan Justru Belum Siap
Lonjakan Pengangguran Lulusan Baru di Era AI
Tantangan bagi Gen Z tidak hanya datang dari perbedaan budaya kerja, tetapi juga dari kondisi makroekonomi dan disrupsi teknologi.
Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir tahun 2025, tingkat pengangguran untuk lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen. Angka ini 1,5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok usia produktif lainnya.
Peningkatan angka pengangguran ini sangat dipengaruhi oleh perubahan struktural di dalam perusahaan dan adopsi masif teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang mulai menggantikan posisi-posisi tingkat pemula (entry-level).
Menghadapi realita ini, para lulusan baru disarankan untuk lebih pragmatis. Mereka didorong untuk membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan dan tidak hanya terpaku pada jalur karier yang secara kaku mengikuti jurusan saat kuliah.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)







