Ketika orang-orang yang hidup dalam kemewahan adalah yang paling pantas untuk bersyukur, maka mereka juga yang paling berhak mendapatkan balasan saat ingkar.” (Mushaf at-Tadabbur)
INDONESIAINSIDE.ID – Allah SWT dalam Al-Qur’an memberikan peringatan keras mengenai akibat dari kemewahan yang berlebihan dan ketidaktaatan. Salah satu ayat yang mengandung peringatan tersebut adalah:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra [17]: 16).
Dalam tafsir Al-Jalalain dijelaskan: “(Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) yakni orang-orang kaya yang dimaksud para pemimpinnya, yaitu untuk taat kepada Kami melalui lisan rasul-rasul Kami (tetapi mereka melakukan kefasikan di negeri itu) maka menyimpanglah mereka dari perintah Kami (maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami) azab Kami (kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya) artinya Kami binasakan negeri itu dengan membinasakan penduduknya serta menghancurkan negerinya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kehancuran suatu negeri adalah perilaku orang-orang yang hidup dalam kemewahan. Mereka adalah kelompok yang seharusnya paling bersyukur, namun sering kali justru menjadi yang paling ingkar dan durhaka.
Di antara hidayah yang bisa diambil dair ayat ini: “Ketika orang-orang yang hidup dalam kemewahan adalah yang paling pantas untuk bersyukur, maka mereka juga yang paling berhak mendapatkan balasan saat ingkar.”
Dalam sejarah umat manusia, banyak contoh yang bisa kita lihat. Saat orang-orang yang hidup dalam kemewahan meremehkan nilai-nilai agama, terjerumus dalam perbuatan haram, dan tidak ada yang menegur atau menghentikan tindakan mereka, maka kerusakan moral akan menyebar. Hal ini menyebabkan umat kehilangan vitalitas dan kekuatannya, yang pada akhirnya membawa kehancuran.
Selain itu, yang tidak kalah penting hidayahnya: “Ketika orang-orang yang hidup dalam kemewahan meremehkan nilai-nilai, berkubang dalam hal-hal yang diharamkan, dan tidak menemukan seseorang yang menahan tangan mereka dari melakukan keburukan, maka kemaksiatan akan menyebar, umat menjadi lemah dan kehilangan vitalitas serta elemen kekuatannya sampai akhirnya hancur.” (Mushaf at-Tadabbur)
Perilaku para penguasa dan orang-orang kaya memiliki dampak yang sangat besar terhadap masyarakat. Ketika mereka tidak menjalankan amanah dengan baik, mengabaikan hukum-hukum Allah, dan malah mencontohkan kedurhakaan, maka masyarakat luas akan mengikuti jejak mereka. Ketidakadilan dan kerusakan moral akan merajalela, dan hal ini yang menjadi salah satu alasan Allah menurunkan azab-Nya.
Selanjutnya, Allah SWT menegaskan dalam ayat berikutnya: “Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka kaum yang lain.” (QS. Al-Isra [17]: 17).
Syekh Sayyid Ath-Thanthawi dalam tafsir al-Wasiith menerangkan: “Bahwa desa yang hancur ini disebabkan oleh kefasikan penduduknya dan ketidaktaatan mereka terhadap perintah Kami, bukanlah satu-satunya desa yang telah ditimpa azab Kami. Sesungguhnya Kami telah membinasakan banyak desa setelah zaman Nabi Nuh ‘alaihis-salam, seperti kaum ‘Ad dan Tsamud serta yang lainnya yang lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, memilih kekafiran daripada keimanan, dan kesesatan daripada kebenaran.”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah banyak membinasakan negeri-negeri yang zalim di masa lalu dan menggantinya dengan kaum yang lain. Ini merupakan peringatan bahwa siapa pun yang menempuh jalan yang sama, akan menghadapi konsekuensi yang sama.
Kita bisa melihat contoh-contoh ini dalam sejarah umat terdahulu seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Nabi Luth. Mereka semua hancur karena tidak mengindahkan peringatan Allah dan terus berada dalam kemewahan dan kedurhakaan.
Sebagai umat Islam, kita diingatkan untuk selalu bersyukur dan menjaga amanah yang diberikan Allah. Kemewahan dan harta benda adalah ujian dari Allah. Jika kita tidak bisa menjaganya dengan baik, maka itu bisa menjadi sebab kehancuran kita.
Oleh karena itu, marilah kita menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya, menjaga nilai-nilai moral, dan selalu mengingat bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah yang harus kita pertanggungjawabkan kelak. (MBS)
