
Foto: Wikipedia
Teknologi.id – Empat kasus hantavirus tercatat di wilayah DKI Jakarta sepanjang tahun 2026. Kabar ini sempat memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa dari total temuan tersebut, tiga orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh, sementara satu orang masih berstatus suspek.
Merespons rentetan kasus ini, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk memahami hantavirus secara tepat. Pemahaman yang benar mengenai sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan dinilai sangat penting agar masyarakat tetap tenang dan waspada.
Sumber Utama Penularan Hantavirus
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus liar. Berbagai jenis tikus diketahui dapat menjadi reservoir atau inang bagi hantavirus, antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan.
Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus. Varian ini ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus), spesies umum di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut.
Reservoir utama penyebaran virus ini adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Baca juga: Kapal Pesiar MV Hondius Dihantam Wabah Hantavirus, 7 Kasus Terdeteksi
Menjawab Potensi Penularan Antarmanusia
Foto: UK Health Security Agency
Di tengah kekhawatiran publik, pertanyaan utama yang kerap muncul adalah apakah hantavirus dapat menular dari satu manusia ke manusia lainnya.
Menanggapi hal ini, Arief Mulyono, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, menjelaskan bahwa meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun Covid-19.
“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” jelas Arief melalui laman resmi BRIN, Minggu (10/5).
Temuan kasus pada pasangan intim juga tidak otomatis menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Penularan ini lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.
Baca juga: Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kelompok Rentan dan Protokol Pencegahan
Mengingat cara penularannya, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus di antaranya adalah pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.
Risiko penularan ini akan meningkat tajam pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah paparan hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Saat membersihkan area tersebut, masyarakat disarankan menyemprot cairan disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung menyapu kotoran kering agar partikel debu tidak berterbangan di udara.
“Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” tutup Arief.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)
