PSS berusaha menjadikan set piece sebagai satu di antara sumber gol. Huistra tak ingin timnya sekadar berharap pada keberuntungan ketika mendapatkan tendangan bebas maupun sepak pojok.
“Kami juga ingin mengejutkan lawan dan mencetak gol dari tendangan bebas. Jika tidak dilatih, kami hanya mengandalkan keberuntungan. Dengan berlatih, kami bisa menciptakan keberuntungan itu sendiri,” katanya.
Menariknya, pada musim ini PSS punya sejumlah pemain dengan postur menjulang. Satu di antaranya ialah penyerang anyar, Matheus Fornazari, yang memiliki tinggi badan 2,03 meter.
Matheus juga memberikan variasi berbeda di lini depan PSS. Karakter pemain asal Brasil tersebut tidak sama dengan Gustavo Tocantins, yang menjadi andalan musim lalu.
“Sekarang kami punya dua striker bagus atau tiga jika menghitung Dimas Drajad. Itu penting karena ketika menjalani banyak pertandingan, kami harus melakukan rotasi,” ucap Huistra.
“Musim lalu kami punya Tocantins, jadi musim ini kami butuh tipe striker yang berbeda. Matheus memiliki tipe yang berbeda dengan Toca dan variasi ini bagus untuk tim serta menyulitkan lawan untuk beradaptasi,” tambahnya.