Lifestyle

Bestah Coliving Denpasar Bali. Menginap Serasa di Rumah Sendiri

72
bestah-coliving-denpasar-bali.-menginap-serasa-di-rumah-sendiri
Bestah Coliving Denpasar Bali. Menginap Serasa di Rumah Sendiri
Kamar yang saya tempati di Bestah Coliving. Nuansa apartment tipe studio pun sangat terasa.

Usai menuntaskan agenda menyusur Karangasem bersama Mega, salah seorang sahabat baik di Bali, saya memutuskan untuk meluangkan waktu 2 hari 1 malam untuk stay di Denpasar dan mengatur waktu untuk bertemu para sahabat. Setelah penyusuran berhari-hari akhirnya menemukan Bestah Coliving yang berada di Denpasar. Sebuah tempat menginap berkonsep apartment dan menghadirkan suasana serasa di rumah sendiri

Sepanjang perjalanan menuju Bestah Coliving di Renon, hampir sebagian besar kawasan Denpasar diserbu oleh hujan angin. Hujan yang terus mengiringi saat saya dan Mega berkendara meninggalkan Karangasem. Yang cukup menantang dihadapi adalah angin yang menyertainya. Di dalam mobil pun saya bisa merasakan hantaman angin yang cukup keras terutama saat melihat kaca depan mobil dan wiper yang bergerak cepat.

Mata saya sudah kriyep-kriyep sebenarnya. Tapi membiarkan Mega nyetir sendirian tanpa diajak ngobrol membuat kesadaran saya harus tetap terjaga. Gak sopan banget membiarkan teman berjuang nyetir sendirian dengan kondisi cuaca tak karuan dan dengan jarak sejauh itu kan?

Mobil kami pun merayap perlahan.

Sapuan wiper yang berderit kencang itu nyatanya tak seimbang dengan hantaman air dan angin sekaligus. Kondisi yang membuat Mega harus ekstra pelan melajukan kendaraan. Dalam beberapa titik jalur, Mega sempat berhenti untuk meyakinkan bahwa kami sudah berada di jalur yang tepat. Menyusur jalan-jalan sempit perumahan yang biasa tertata di antara sekian banyak kediaman penduduk saat menggapai kawasan Renon di mana Bestah Coliving berada.

Tak berapa lama, dari sebuah kejauhan lantai tertinggi Bestah Coliving mulai terlihat. Bentuknya yang kotak memanjang membuatnya berbeda dari banyak rumah yang berada di sekeliling. Mega pun melambatkan laju mobil dan tampak semringah saat membaca signage Bestah Coliving dari salah satu ujung jalan.

Tentang Bali : Mempererat Silaturahim Bersama Para Sahabat di Neun Cafe Bali

Dapur yang bisa digunakan bersama di lantai dasar Bestah Coliving (kiri foto) | Saya dan Fuli Nandhina. Sahabat rasa adik yang sudah bersama saya sejak 2011 (kanan foto)
Ruang makan di lantai dasar Bestah Coliving (kiri foto) | Langit-langit di atas ruang makan (kanan foto)

Tentang Bali : Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera

Disergap oleh Kenyamanan

Hujan deras mendadak menjadi rintik saat Mega memarkirkan mobil persis di halaman depan Bestah Coliving. Tak banyak yang bisa dinikmati dari fasad tempat menginap ini. Hanya sederet kecil halaman parkir yang cukup hanya untuk sekitar 4 mobil dan 2 deret sepeda motor, dinding bangunan tiga lantai dengan warna coklat abu, taman kecil di sisi depan, dan signage sederhana yang menempel di salah satu dinding.

Setidaknya ada penanda bahwa kita sudah menggapai tempat yang benar.

Tidak ada concierge, bell boy, satpam atau dorongan koper beroda, yang biasa kita lihat saat datang seperti halnya di hotel-hotel. Tak ada juga teras bagian luar yang selesa untuk nongkrong. Hanya ada sebuah space minim, tanpa tempat duduk, yang langsung terhubung dengan pintu masuk.

Pintu berkaca tebal dan cukup berat untuk digeser ini dipasangi kunci digital dan hanya bisa dibuka dengan akses tertentu. Serangkaian nomor akses pintu ini diberikan oleh petugas saat kita menyelesaikan proses check-in. Nomor ini wajib kita catat karena hanya dengan kode akses inilah kita bisa masuk saat berada di luar lebih dari pkl. 22:00 wita.

Sekali lagi ini jadi faktor penting yang harus kita catat karena Bestah Coliving tidak memiliki petugas yang 24 jam ready melayani tamu.

Signage Bestah Coliving yang berada di area depan (kiri foto) dan sebuah kolam kecil yang berdampingan dengan area penerimaan tamu (kanan foto)

Saya bergegas masuk dan tak menemukan siapa pun di meja depan hingga beberapa menit kemudian. Meja kerja kecil yang petugasnya hanya melayani check in dan check out.

Persis di depan area kecil ini ada ruang tamu dengan hiasan dinding yang unik, beberapa sofa, dan sebuah meja yang cukup luas untuk menaruh banyak barang. Posisinya yang setengah terbuka langsung terhubung dengan utilities area seperti halaman kecil yang sudah disemen, dapur dan ruang makan.

Sementara persis di sebelahnya ada sebuah kolam kecil dengan gentong semen yang terus mengatur aliran air. Gemercik air yang lamat terdengar mengingatkan saya akan sebuah ruang baca di rumah seorang teman. Ruang tersebut ditata tenang hingga kita bisa menikmati suara air dalam keheningan.

Saya langsung merasa disergap oleh serangkaian kenyamanan.

Saya kemudian menengok ke arah dapur dan ruang makan yang berada tak jauh dari area kedatangan.

Di area dapur semua perlengkapan masak dan makan disediakan lengkap. Gratis dan bisa digunakan oleh semua penghuni. Menilik luas dan rancang industrial di area ini, saya yakin yang doyan masak pasti pada betah. Jarang-jarang kan bisa masak di tempat menginap non-villa sambil, mungkin, bersenda gurau dengan teman seperjalanan.

Saya sendiri memanfaatkan dapur ini hanya untuk menikmati secangkir kopi di pagi dan malam hari karena memang di dalam kamar tidak disediakan teko penanak air. Sementara di dapur ada dispenser besar yang mengoperasikan air panas (hampir mendidih) dan air dingin.

Kopi dan teh di sini gratis ya. Tapi akan lebih asyik jika kita membawa kopi sendiri. Biar lebih terasa pas di lidah dan selera.

Berdampingan dengan dapur tentu saja ada ruang makan. Mejanya banyak dengan opsi tempat duduk beragam. Ada sofa panjang dengan banyak bantalan. Ada juga tempat duduk kayu yang terlihat well furnished dan cantik.

Area makan ini memiliki mural cantik dengan langit-langit yang tinggi menjulang mengikuti tingginya bangunan. Lega dan sangat menyenangkan.

Di depan area ini ada sebuah halaman dengan beberapa tempat duduk yang dikelilingi oleh tanaman yang rindang. Ada juga sebuah kolam renang dengan ukuran memanjang dan dinding menjulang yang diisi dengan wall mural. Di kanan dan kiri kolam ini terdapat dua sisi bangunan berderet vertikal dengan tiga lantai.

Satu yang sangat menarik perhatian saya adalah kamar-kamar yang ada di lantai dua. Ada beberapa kamar di posisi ini memiliki balkon yang terlihat nyaman, lengkap dengan dua kursi dan satu meja kecil. Apalagi kamar ini memiliki akses langsung untuk melihat semua sajian pemandangan yang mengarah ke kolam renang dan beberapa fasilitas yang ada di ground floor.

Tentang Bali : Melali ke Little Talks Ubud Bali

Dapur dan area makan di lantai dasar Bestah Coliving
Sebuah taman kecil di depan area makan (kiri foto) dan area penerimaan tamu di Bestah Coliving (kanan foto)

Kamar yang Bikin Betah

Kamar yang saya pesan ada di lantai 3. Tidak ada lift. Hanya tangga yang cukup tinggi untuk mencapai 2 lantai di atas lantai dasar. Seorang petugas tampak cekatan membantu mengangkat koper yang saya bawa.

Sudah dalam kondisi bersih dan pendingin ruangan yang sudah menyala, rasa lelah berjam-jam yang barusan dilewati setelah berkendara dari Karangasem, mendadak luruh. Rasa adem melihat kamar yang tertata rapi dan dengan earth tone memberikan kesan yang begitu menawan.

Kamar ini persis seperti sebuah apartemen tipe studio dengan dekorasi dan perlengkapan yang cukup untuk 2 orang penginap. Ada sebuah kasur king size, meja panjang, TV yang terhubung dengan beberapa aplikasi seperti Youtube dan Netflix, kursi kerja, 2 nakas di samping tempat tidur dan lemari terbuka. Ada sebuah hiasan dinding berupa topi dengan lingkar besar yang ditemani oleh sebuah kalung yang juga sama besarnya.

Lantai parquette menambah suasana adem yang langsung menyergap. Tidak ada compliments seperti teh, kopi, dan gula sachets. Hanya ada sebotol air dan 2 gelang beling. Mendadak saya teringat pesan petugas bahwa di lantai ini ada dispenser jika saya butuh lebih banyak minuman.

Melangkah ke kamar mandi yang ada di sisi kanan pintu masuk, saya menemukan sebuah kamar mandi yang cukup luas lengkap dengan bath complimentary. Semua terisi penuh. Shower air panas dan biasa berfungsi dengan sangat baik. Dan ini benar-benar sangat membantu untuk setidaknya meluruhkan rasa lelah dan capek karena perjalanan jauh yang barusan saya alami.

Karena hujan kembali menerjang saat maghrib saya tiba, saya memutuskan untuk beristirahat total di kamar yang sungguh bikin betah ini. Apalagi sudah berganti pakaian tidur dan di luar hujan lebat tak henti menghujan bumi. Nikmat berada di dalam kamar seadem ini tentunya tak akan saya lewatkan dalam sedetik pun.

Untuk makan malam saya memutuskan untuk menghabiskan beberapa jajanan yang masih ada saat menjelajah Karangasem bersama Mega. Ada roti, pop mie, berbungkus-bungkus kopi dan teh, dan camilan yang menunggu untuk ikut dihabiskan.

Semua lahap saya habiskan sembari menonton beberapa film dan KDrama yang sedang saya ikuti di Netflix dan sempat saya tinggalkan saat berkelana ke Karangasem dan Amed bersama Mega.

Kangen Ingin Kembali

Dalam sebuah kesempatan saat ingin bersantai di salah satu sisi luar Bestah Coliving serta mengambil air di dispenser, saya bertemu Mas Rofit. Salah seorang penanggung jawab atas kelancaran operasional tempat ini.

Sapaan ramah dan obrolan menarik pun saya dapatkan saat kami saling bertukar sapa. Dari Mas Rofit saya mendapatkan informasi bahwa sejatinya konsep keberadaan Bestah Coliving awalnya adalah untuk long staying. Mirip seperti apartment atau kost exclusive yang disediakan bagi mereka yang sedang bekerja atau memiliki waktu panjang tertentu yang dihabiskan untuk sekolah atau bekerja di Denpasar. Karena itu di tempat ini tidak disediakan restoran beserta chef yang melayani makan atau pesanan masakan seperti layaknya hotel biasa.

Yang ada adalah sebuah tempat tinggal dengan fasilitas lengkap agar para penginap merasakan ritme hidup layaknya sedang berada di rumah. Persis seperti kost lama saya saat masih bekerja di Jakarta dulu. Meskipun bangunannya bukanlah gedung bertingkat seperti yang ada di Bestah Coliving. Pihak penyewa menyediakan beragam living utilities agar semua yang tinggal bisa melengkapi kebutuhan tinggal sehari-hari.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan occupancy yang ada, konsepnya berubah. Bestah Coliving memberikan kesempatan kepada publik untuk tinggal dalam jangka waktu pendek layaknya sebuah hotel atau penginapan biasa.

Sempat menikmati masa remaja di kota yang sama (Malang) obrolan kami menjadi semakin seru dan menarik. Perbedaan generasi lah yang justru akhirnya membuat tawa kami semakin berderai-derai.

Tapi diantara semua obrolan tersebut, saya sempat menyampaikan keinginan agar Bestah Coliving bisa menyediakan sarapan sederhana agar para penginap tidak harus keluar atau memesan makanan dari luar. Saya sendiri sesungguhnya sangat menikmati masa-masa sarapan sebagai bagian penting dan terbaik saat menginap. Apalagi jika diliputi oleh keseganan untuk bersengaja keluar, mencari makan pagi, yang terkadang belum tentu ada di sekitar lokasi menginap.

Yang pasti dua malam menginap di Bestah Coliving sudah membuat saya betah. Khususnya untuk suasana kamar yang mengademkan hati. Kasur empuk dan in house entertainment bikin saya enggan untuk beranjak.

Di kunjungan berikut, saya ingin mencoba tinggal di kamar yang memiliki teras depan yang menghadap ke kolam renang itu. Pengen duduk di sana sembari menyeruput bergelas-gelas kopi, minuman dingin, camilan, dan membaca. Plus tentu saja ngobrol kembali dengan Mas Rofit membahas banyak hal menarik di dunia digital dan kepenulisan.

Pengen juga membawa baju renang supaya bisa menikmati kolam yang bersih dan tampak menyenangkan itu. Tentu saja dengan membawa kebutuhan untuk tinggal layaknya pindah rumah kecil-kecilan. Gak banyak sih tapi setidaknya membuat saya lebih betah lagi berlama-lama di dalam Bestah Coliving.

Tentang Bali : Mengunjungi Produksi Garam Tradisional di Kusamba Klungkung Bali

Saya dan Bestah Coliving. Dijepret oleh Fuli Nandhina
Exit mobile version