
Bakso Bintang Asia. Destinasi Kuliner Bagi Penjelajah Rasa di Cihapit Bandung | Culinary Review & Travel | Maret 2026
Sarapan baru saja lewat saat saya dan suami meninggalkan rumah untuk menuju ke Bandung. Ada acara keluarga yang harus kami hadiri sekaligus menuntaskan penasaran saya akan Bakso Bintang Asia yang belakangan sungguh bikin saya penasaran
Medsos tuh memang kejam ya (nulisnya sambil senyam senyum). Entah mana yang memengaruhi duluan, tapi yang pasti keinginan saya untuk kembali ke Cihapit benar-benar tak bisa ditunda karena beberapa unggahan provokatif di Instagram. Liputan tentang kedai bakso yang bolak-balik lewat di timeline IG saya dan dihadirkan oleh banyak content creator yang fokus pada ulasan makanan dan resto dari berbagai sudut negeri, membuat rasa ingin tahu itu menjadi-jadi.
Nama kedai yang dituju itu adalah Bakso Bintang Asia. Salah satu destinasi kuliner bagi penjelajah rasa yang berlokasi di Jl. Sabang No. 63, Cihapit, Bandung Wetan.
“Cihapit? Yah macet banget ini mah.” Sahut suami gentar saat ide ini saya sampaikan. Saya langsung senyum kecut. Iya sih. Setelah berkali-kali ke Cihapit, masalah utama selalu jatuh pada soal kemacetan dan parkiran. Pe-er banget sih kalau berkunjung ke sana.
Tapi setelah beberapa menit menyusur salah satu akun food blogger yang membahas tuntas tentang kedai bakso ini, dia pun jadi ikut penasaran. Kabarnya kuah bakso di kedai ini serupa dengan Pho. Masakan berkuah ala Vietnam yang kaya kaldu dengan kuah bening dan rempah-rempah yang membangkitkan selera. Salah satu menu kesukaan suami.
Hiruk Pikuk yang Seru
Saya dan suami tiba di kawasan Cihapit sekitar pukul 10.00 WIB setelah melewati serangkaian kemacetan dan kesibukan khas pasar yang luar biasa. Parkir mobil padat berjejer di pinggir jalan bahkan ada posisi berlapis yang membuat kemacetan begitu susah untuk ditembus dan terjadi hingga ratusan meter. Akhirnya kami terpaksa parkir di satu tempat yang lumayan jauh dari Pasar Cihapit. Itu pun dengan posisi mobilnya miring agar tidak menghalangi jalan masuk sebuah rumah besar yang ada di salah satu jalan.
Sekitar beberapa meter menu pintu masuk kedai bakso ini, terlihat antrian yang mengular. Padat tak terkira. Waduh.
Saya bahkan sempat hampir membatalkan kunjungan. Tapi suami dan si sulung yang ikut saat itu inginnya tetap bertahan. Justru malah jadi semakin penasaran. Yoweslah kalo gitu. Saya pasrah dan mengalah. Semoga cerita tentang kelezatan bakso di sini benar adanya.
Setelah mendaftar ke salah seorang petugas yang berjaga di depan, sesiangan itu saya mendapatkan nomor antrian puluhan yang diperkirakan baru akan mendapatkan tempat duduk sekitar 20-30 menit kemudian. Si sulung akhirnya memutuskan untuk duduk di deretan bangku yang tersedia di selasar depan sementara suami belanja banyak sayuran dan buah untuk kami bawa pulang. Sementara saya memanfaatkan waktu luang ini untuk berkeliling resto.
Sejatinya ruang makan di kedai bakso ini tuh cukup luas tapi semua bangku sudah penuh dan padat oleh konsumen. Tak ingin menyia-nyiakan waktu saya memutuskan untuk sekalian memotret. Sebisanya aja. Sungkan rasanya memotret setiap sudut di antara tamu yang begitu banyak. Namun saya sempat membuat video yang mengarah ke dapur terbuka yang memakan sepertiga dari total area yang ada.
Selain sempat memvideokan proses pembuatan kwetiau yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya sempat memperhatikan betapa sibuknya seorang chef mengatur pembuatan pesanan sesuai dengan nomor urut yang diberikan oleh seseorang. Mengamati kesibukan yang terjadi dan bagaimana ligat nya para petugas bekerja mengikuti serangkaian catatan di kertas kecil yang sudah dicetak. Pakaian yang dikenakan para petugas ini sungguh profesional. Mengenakan sarung tangan, celemek, masker, dan penutup kepala. Beberapa hal penting yang menjamin kebijakan higienitas yang ditetapkan Bakso Bintang Asia. Dapur khusus bakso ini sepertinya sengaja ditaruh di sisi depan karena sesuai dengan nama jenama nya, bakso tentunya jadi pusat perhatian.
Di belakang area bakso ini, ada serangkaian petugas yang melayani menu lainnya termasuk untuk urusan minum.
Seru banget. Jarang-jarang kan konsumen bisa secara terbuka melihat kegiatan dapurnya resto. Open kitchen yang mengajak tamu untuk mengikuti proses memasak dan penyajian pesanan secara real time. Kita juga jadi tahu bagaimana kesibukan orang di belakang layar (di dalam dapur) yang terlihat begitu melelahkan.
Sajian yang Menggugah Selera
Tadi, sewaktu menunggu, petugas yang menyambut tamu memberikan sehelai kertas berukuran panjang yang berisikan pilihan menu. Tulisannya kecil-kecil banget. Untuk saya yang menjelang lansia, kertas ini sungguh meresahkan. Untung ngajak si sulung jadi dia bisa membantu membacakan.
Memanfaatkan waktu yang lumayan panjang saat menunggu, apalagi ini adalah kunjungan pertama, saya pun berinisiatif untuk menanyakan menu terlaris yang menjadi kegemaran konsumen. Baiklah.
Pesanan kami bertiga adalah bakso urat polos sebanyak empat buah (36K) ditambah ceker (7.5K) dan tetelan (7.5K). Lalu sepiring bihun goreng sengkel telor bebek (34K), mie goreng (25K), tiga siomay original (20.4K), lumpia vietnam (23K), cireng saos kacang (20K), dengan minuman teh lemon dingin (18K), teh tawar dingin (7.5K), dan teh tawar panas (7.5K) yang free flow.
Saat bakso uratnya datang, saya gak bisa menahan diri untuk segera mencoba. Bener loh seenak itu dan semirip itu dengan Pho. Kuahnya ngaldu banget. Mantab betul. Apalagi di dalamnya ada potongan ceker ayam, irisan daging sapi, dan tetelan. Tapi meskipun dijejali oleh sumber lemak yang lengkap, kuah baksonya tetap terasa ringan di lidah. Terlihat bening, beraroma, dilengkapi dengan kehadiran tauge yang terlihat segar. Tekstur baksonya sendiri terasa crunchy di luar tapi lembut di dalam. Jadi meskipun bakso urat, gak ada selipan daging yang tertinggal di sela-sela gigi. Semua hancur lebur lewat beberapa kunyahan. Kwetiau nya juga lembut banget. Tak butuh usaha dan perjuangan khusus untuk melumatkannya di dalam mulut.
Seusai saya mencoba, suami pun kemudian menambahkan potongan cabe dan sambal pedas yang dibuat sendiri oleh pihak resto. Saya sempat mencoba kembali kuah lalu mengernyitkan dahi. Berkat racikan suami, kuahnya memang tambah enak. Tapi karena saya tak kuat pedas karena masalah lambung, saya memutuskan untuk tak mencoba lagi.
Perhatian kemudian berpindah ke bihun goreng sengkel telor bebek yang saya pesan. Duh lima jempol deh pujian saya. Minyak gorengnya tak berlebihan sama sekali. Potongan sengkelnya sempurna begitu pun telor bebek yang sudah terolah menjadi satu. Taugenya besar-besar dan tetap krenyes-krenyes saat dikunyah. Sepiring bihun goreng ini kemudian dilengkapi dengan potongan acar dan segenggam kerupuk kuning. Tampilan sajian mie gorengnya juga sama. Semua hadir dengan kualitas terbaik tanpa cela. Persis seperti apa yang sudah diuraikan oleh beberapa food blogger dan content creator.
Panganan tambahan yang kami pesan pun tak kalah enaknya. Siomay nya berukuran besar (meski tidak termasuk jumbo) dan dikukus dengan kematangan yang pas. Lumpia vietnam dan cireng saus kacang nya layak dapat pujian. Gorengannya gak berlebihan minyak, garing, dan gampang dikunyah. Bumbu kacang juga mantab. Semua tandas kami habiskan tanpa terkecuali.
Beneran serangkaian sajian yang sungguh menggugah selera.
Pengen Balik Lagi
Duh rasanya kalimat ini sering banget saya tuliskan ya. Setiap sukses berkuliner di tempat yang highly recommended, saya tuh selalu aja pengen balik lagi. Pengen nyobain sajian lain yang sekiranya tampak lezat untuk dicoba. Apalagi setelah mendengar pujian selangit yang dilontarkan oleh serombongan ibu-ibu yang mejanya bersebelahan dengan kami.
Perpaduan konsep asian street food dan sentuhan melokal tampaknya jadi poin penting dari Bakso Bintang Asia. Banyak teman saya yang juga pernah makan di sini mereferensikan bahwa rasa enak itu bukan hanya di sajian utama baksonya tapi juga di beberapa menu selain itu. Gak heranlah ya. Pengalaman grup Burger Mountain Boys – pemilik jenama Bakso Bintang Asia – punya mengelola pabrik daging sejak 1996, tentunya sudah kenyang dengan segala resep per-bakso-an yang gak kaleng-kaleng.
Bakso Bintang Asia yang di kawasan Cihapit ini baru beroperasi sejak Juli 2024. Masa yang belum begitu lama dengan saat saya menuliskan ini. Tapi kejelian mereka mensosialisasikan eksistensi lewat media sosial didukung oleh asupan yang umami, membuat perhatian publik dan mouth to mouth sales and promotion pun berjalan dengan sendirinya.
Selain berharap parkiran kawasan Pasar Cihapit bisa lebih luas dan lebih lega (ini pe-er banget untuk pemkot Bandung), saya pun mengusulkan agar Bakso Bintang Asia bisa menyediakan ruang makan ber-AC. Terasa banget euy panasnya. Apalagi saat duduk bersebelahan dengan area dapur dan tamunya berlimpah ruah. Semoga ya nanti-nantinya resto ini bisa mempertimbangkan untuk punya ruang makan yang lebih nyaman ya. Biar betah dan gak kepanasan. Meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk listrik.
Yang ingin menilik kegiatan Bakso Bintang Asia, bisa loh ngintip IG @baksobintangasia atau mampir ke official website mereka baksobintangasia.shop. Mau berkunjung? Mereka buka loh setiap hari dari pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB.
IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com
