
Sajian atau menu bakmi tuh gak pernah ada matinya ya. Penggemarnya berlimpah ruah. Termasuk untuk Bakmi Roxy, bakmi legendaris di Cikini Jakarta. Saya mampir ke sini dalam rangka malam mingguan bersama suami serta si bungsu dan menginap di salah satu apartemen yang ada di kawasan Cikini. Kedainya padat pengunjung. Kami bertiga bahkan harus menunggu beberapa waktu agar dapat tempat duduk. Petugas kebersihan tampak kedodoran melaksanakan tugasnya karena lalu lintas konsumen yang begitu cepatnya.
Lokasi di Kawasan Wisata Strategis Jakarta
Saat teman-teman dari luar daerah menanyakan banyak referensi wisata di Jakarta, khususnya first visitor, saya selalu mengusulkan kawasan Cikini, Jakarta Pusat, sebagai salah satu kawasan yang wajib dikunjungi terlebih dahulu. Termasuk untuk urusan menginap karena di sini, sepanjang Jl. Cikini Raya, berjejer hotel-hotel dan apartemen yang beroperasi dengan baik. Mulai dari sekelas losmen hingga bintang 5 (lima). Akses kendaraan umum pun relatif mudah. Khususnya kereta api. Ada stasiun Cikini dan Gondangdia. Jika ingin menggunakan taxi on-line, Cikini selalu siap dengan banyak armada yang berseliweran.
Cikini nyatanya bertaburan dengan beragam destinasi wisata yang apik dan highly recommended without any hesitations. Berlebihan? Tentu tidak dong. Bertahun-tahun bekerja di Jakarta serta menyusur banyak bagian dari ibu kota negara kita ini, Cikini nyatanya punya banyak hal untuk dikenang dan disambangi. Ada wisata pendidikan seperti Perpustakaan Jakarta dan Taman Ismail Marzuki lengkap dengan jejak-jejak bangunan zaman Belanda yang masih dipertahankan hingga kini.Bangunan-bangunan lawas yang masih tetap terjaga dan lestari. Dalam satu waktu, saat Anies Rasyid Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, beliau memerintahkan pemkot setempat untuk merapihkan kawasan Cikini dari kabel-kabel yang berseliweran di jalan-jalan sepanjang kawasan ini. Jadilah Cikin tambah cantik, tertata lebih apik, dan estetik untuk difoto.
Untuk wisata kuliner apalagi. Berlimpah ruah dengan berbagai jenis pilihan. Dari sebuah pusat perbelanjaan kecil, kedai sederhana, rumah makan yang legendaris, bahkan hingga gerobakan sekalipun. Beberapa diantaranya yang sudah saya sambangi adalah Perpustakaan Jakarta yang berada di kawasan Taman Ismail Marzuki, Bakmi Ayam Gondangdia, Bubur H. Sulaiman, Kikugawa, Bubur H. Sulaiman, Gado-gado Bonbin, Good Folks, Resto Dua Nyonya, dan masih banyak lagi. Dari beberapa penelusuran tertulis yang saya baca, beberapa diantara sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun dan tetap eksis hingga saya menyusun tulisan ini.
Nah untuk Bakmi Roxy posisinya bersebarangan dengan Menteng Huis. Salah satu pusat pertokoan yang berada di pojokan lampu merah. Gak besar sih pertokoan yang satu ini. Tapi lumayan akomodatif untuk menitipkan mobil karena persis di depan Bakmi Roxy parkiran mobilnya sangat terbatas. Jika pun ada, slot lahannya sudah dikuasai oleh motor. Jadi kalau mau ke Bakmi Roxy, mending parkir di Menteng Huis atau di Taman Ismail Marzuki lalu sambung dengan berjalan kaki. Gak jauh kok. Apalagi sembari jalan kaki kita bisa menikmati pedestrian yang lebar dan banyak tempat-tempat yang asik untuk dilihat.
Tentang Bakmie Ayam Gondangdia : Bakmie Ayam Gondangdia. Merindu Bakmie Legendaris di Gondangdia, Cikini, Jakarta
Tentang Perpustakaan Jakarta : Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Tentang Kikugawa : Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Tentang Good Folks Jakarta : Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Pilihan Menu yang Sangat Beragam
Saya sempat menunggu sekian menit untuk mendapatkan meja yang sudah dibersihkan. Itu pun masih seadanya karena penuh dan padatnya pengunjung. Terlihat banget abang-abang yang bertugas tampak kewalahan.
Gerobak untuk memasak sebanyak 2 (dua) buah ada di bagian depan. Merapat ke selasar jalan utama. Pancinya terlihat besar-besar dengan asap membumbung diiringi dengan desis api yang terdengar cukup kencang. Di salah satu sudut pintu masuk ada gerobakan khusus minuman olahan dengan jenama Sinar Garut. Gerobakan ini melayani es teler, es campur, es alpukat, es kelapa muda, dan apa pun yang sesuai request tamu. Tampaknya jenama ini cukup punya nama dan tersebar di banyak tempat. Sering banget saya ketemu di area tongkrongan jajanan di Jakarta.
Usai membersihkan meja, salah seorang petugas memberikan daftar menu berupa kertas panjang yang sudah dilaminating dengan beberapa sisinya sudah terkelupas. Pilihan makanannya bererot. Bakmi ayam biasa, dengan pangsit, dengan bakso, dengan ceker, yang edisi spesial, pangsit ceker, bakso ceker, dan spesial ceker. Begitu pun dengan kwetiau atau bihun. Pilihannya persis sama. Jika ingin mi versi manis, Bakmi Roxy juga menawarkan edisi yaminnya. Harganya berkisar antara Rp19.000,00 hingga Rp32.000,00.
Asiknya lagi Bakmi Roxy menawarkan setiap menu dalam 3 (tiga) pilihan porsi. Yang saya sebutkan di atas adalah rangkaian harga untuk porsi satuan (standard). Jika merasa gak yakin akan habis dengan porsi standard, kita bisa memesan porsi setengah. Atau jika memang punya lambung karet dan nafsu makan membludak, ada juga tawaran dalam porsi jumbo. Tentu saja dengan range harga yang lebih mahal. Yah sekitar Rp5.000,00 – Rp7.000,00 untuk porsi setengah atau plus/ditambah dengan angka yang sama untuk porsi jumbo.
Karena pernah ke sini dua kali bareng teman-teman dan menimbang lambung tua saya yang mulai kisut, saya memilih untuk mengambil porsi setengah tapi dilengkapi dengan pangsit kuah dan ceker. Dua materi tambahan Bakmi Roxy yang tingkat kematangan, gurih, dengan kualitas rasa yang adalah salah satu yang terbaik sejagat jajanan mi di ibukota.


Jajanan yang Memanjakan Lidah
Di awal-awal, saat saya baru kenal dengan Bakmi Roxy, sempat ada pertanyaan yang menggelitik di hati. Kenapa pakai nama Roxy ya? Salah satu area/kawasan yang ada di Jakarta Pusat, yang jaraknya tidak jauh dari Cikini. Ternyata memang asal muasalnya dari sana. Setelah mapan beroperasi di Roxy sejak 1990-an, bakmi ini kemudian merambah beberapa tempat lain di Jakarta. Nah yang ada di Cikini ini adalah kedai kedua mereka.
Secara visual, saat bakminya dihidangkan di hadapan kita, potongan topping ayamnya tampak pucat. Tidak seperti bakmi-bakmi lain yang toppingnya terlihat kecoklatan karena proses marinasi. Tapi jangan khawatir, rasanya tetap umami. Gurih dan begitu memanjakan lidah. Tanpa tambahan sambal, kecap, atau apa pun, gurihnya terasa pas. Begitu pun kuah kaldu yang menyertainya. Komplit sedapnya.
Saya juga memesan semangkok es teler Sinar Garut untuk sebagai dessert. Sengaja tanpa gula karena menurut saya campuran susunya sudah mengakomodir rasa manis yang kita inginkan. Yang pasti semua buah yang tercampur kematangannya pas. Khususnya si kelapa muda dan alpukatnya. Mantab pisan. Tidak lembek pun tidak keras.
Kualitas makanan dan pelayanan sudah sesuai ekspektasi lah. Yang masih harus dikasih koreksi adalah soal tempatnya. Kedai ini sejatinya adalah sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan meja dan kayu panjang-panjang. Setidaknya dalam satu barisan meja bisa memuat 6-8 orang. Bisa 10 orang kalau mau berdempet-dempetan. Jika dalam kondisi sepi, berada di dalam kedai masih terasa nyaman. Tapi kalau dalam situasi padat, sesaknya begitu terasa. Udara di dalam ruangan terasa memutar di situ-situ aja meskipun sudah terpasang banyak kipas angin yang dipasang di beberapa sudut dinding. Jadi jika berniat mau makan dengan rasa lebih nyaman serta tidak terburu-buru, berlama-lama sambil ngobrol, lebih baik datang di bukan jam-jam makan. Dan karena lahannya lumayan sempit, petugas juga tak punya waktu cukup untuk bebersih.
Tapi yang pasti Bakmi Roxy Cikini masih asik banget kok buat jajan bakmi. Rasanya yang lezat tetap jadi andalan untuk berwisata kuliner saat kita berada di kawasan Cikini. Hayuk kapan-kapan cobain ya.










