Jakarta, CNN Indonesia —
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait isu kerja sama nikel antara Indonesia dan Filipina yang mencuat menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Manila pekan ini.
Bahlil menegaskan hingga saat ini belum ada kerja sama resmi antarpemerintah atau government to government (G2G), namun peluang kolaborasi bisnis tetap terbuka jika dinilai saling menguntungkan.
“Dalam konteks kerja sama G2G itu tidak ada. Tetapi kalau memang ada B2B yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, saya pikir opsi itu selalu ada aja,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil menjelaskan Indonesia saat ini memang sedang mendorong agenda besar hilirisasi dan industrialisasi sumber daya mineral, termasuk nikel.
Dalam peta kawasan, Filipina menjadi salah satu negara yang juga memiliki cadangan nikel, meski volumenya disebut tidak sebesar Indonesia.
“Negara kita sekarang kan masuk dalam negara yang menggaungkan hilirisasi dan industrialisasi. Nah, salah satu negara yang mempunyai cadangan nikel itu kan Filipina. Tapi dia kan jumlahnya enggak banyak sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Bahlil, kondisi itu membuat peluang kolaborasi lebih terbuka pada level antarbisnis dibandingkan antarpemerintah. Artinya, kerja sama yang mungkin terjalin nantinya akan bergantung pada kebutuhan industri masing-masing pihak dan hitung-hitungan keekonomian.
Skema business to business (B2B) tersebut dinilai lebih memungkinkan karena Indonesia saat ini tengah memperkuat posisinya sebagai pusat hilirisasi nikel, sementara Filipina juga memiliki cadangan bahan baku yang dapat masuk dalam rantai pasok industri.
Isu kerja sama ini sebelumnya mencuat seiring agenda kunjungan Presiden Prabowo ke Filipina pada 7-8 Mei 2026. Dalam lawatan itu, salah satu pembahasan yang disebut berpotensi muncul adalah pengembangan industri berbasis nikel antara kedua negara.
Namun hingga kini pemerintah belum merinci bentuk kolaborasi yang akan dijajaki, termasuk apakah menyangkut suplai bahan baku, investasi smelter, atau pengembangan industri turunannya.
(del/sfr)
