
Ilustrasi
Manusia sering kali terjebak dalam godaan duniawi yang dapat mengaburkan niat dan tujuan yang seharusnya mulia. Salah satu godaan yang sangat berbahaya adalah menggunakan agama untuk meraih keuntungan duniawi. Hal ini tidak hanya menodai kesucian agama, tetapi juga mendatangkan murka Allah SWT.
INDONESIAINSIDE.ID – Kisah yang diceritakan dari Utsman bin Abdillah tentang seorang pelayan Nabi Musa ‘Alaihissalam memberikan pelajaran berharga mengenai bahaya ini.
Kisah Pelayan Nabi Musa ‘Alaihissalam
Diceritakan bahwa ada seseorang yang mengabdi kepada Nabi Musa dan belajar darinya. Pada suatu hari, orang tersebut meminta izin kepada Nabi Musa untuk pulang menengok kampung halamannya selama beberapa waktu dengan janji akan kembali lagi. Setelah mendapatkan izin, dia pun pergi.
Selama di kampung halamannya, orang tersebut mulai berceramah dan menyampaikan pelajaran-pelajaran yang pernah dia terima dari Nabi Musa. Setiap kali selesai berceramah, dia menerima “amplop” sebagai imbalan hingga berhasil mengumpulkan banyak harta.
Nabi Musa mulai menanyakan kabar tentang muridnya tersebut, tetapi tidak ada yang bisa memberi jawaban pasti. Suatu hari, ketika Nabi Musa sedang duduk, lewatlah seseorang yang menggandeng seekor kelinci jantan dengan seutas tali yang terikat di lehernya. Musa bertanya kepada orang tersebut dari mana asalnya dan mengetahui bahwa orang tersebut berasal dari kampung muridnya yang hilang.
Orang tersebut mengungkapkan bahwa kelinci yang digandengnya adalah si Fulan, murid Nabi Musa. Musa terkejut dan berdoa kepada Allah agar muridnya dikembalikan ke wujud aslinya supaya bisa bertanya tentang apa yang telah terjadi.
Namun, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa permintaan itu tidak akan dikabulkan, bahkan jika semua nabi dari Adam hingga Muhammad meminta hal yang sama. Allah menegaskan bahwa murid tersebut telah dihukum karena menggunakan agama untuk mencari dunia.
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting:
Pertama, Kemurnian Niat: Dalam menjalani aktivitas keagamaan, niat harus selalu dijaga agar tetap murni karena Allah SWT. Menggunakan agama sebagai alat untuk mencari keuntungan duniawi adalah tindakan yang sangat berbahaya.
Kedua, Peringatan bagi Penceramah dan Pemuka Agama: Mereka yang memiliki ilmu agama dan menyampaikan ajaran kepada orang lain harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam godaan harta dan popularitas. Tugas mereka adalah menyebarkan kebenaran dan bukan mencari keuntungan pribadi.
Ketiga, Hukuman Allah: Allah SWT sangat tegas dalam menghukum mereka yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan duniawi. Hukuman tersebut tidak hanya berlaku di dunia tetapi juga di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an terkait orang yang dengan waktak demikian: “Mereka itu adalah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan azab mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah [2]: 86)
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, namun dia tidak menuntutnya kecuali untuk memperoleh harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Menggunakan agama untuk mencari keuntungan duniawi adalah tindakan yang sangat berbahaya dan mendatangkan murka Allah SWT. Niat yang murni dan ikhlas dalam beribadah dan menyampaikan ajaran agama harus selalu dijaga. (MBS)
