Jakarta, CNN Indonesia —
Beranjak remaja, anak sudah mulai penasaran dengan dunia asmara, bahkan tak sedikit di antara mereka yang ingin coba-coba pacaran.
Bagi orang tua, menangani anak remaja dalam fase ini tentu menantang. Di satu sisi, orang tua ingin anaknya terhindar dari masalah, di sisi lain ingin sang anak menikmati masa remajanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sedikit pula orang tua yang berprinsip anak tak boleh berpacaran sama sekali dan itu perlu dihormati. Namun jika Anda adalah tipe orang tua yang membolehkan anak untuk pacaran, perhatikan beberapa hal berikut ini!
Kapan idealnya anak remaja boleh pacaran?
Tidak ada usia yang berlaku sama bagi setiap anak untuk mulai pacaran. Mengutip WebMD, American Academy of Pediatrics mencatat anak mulai berkencan rata-rata pada usia 12,5 tahun untuk perempuan dan 13,5 tahun untuk laki-laki.
Namun, sebagian dokter anak menyarankan agar remaja menunggu hingga usia 16 tahun sebelum menjalani kencan.
Angka tersebut bisa menjadi bahan awal untuk berdiskusi dengan anak remaja Anda, bukan aturan mutlak. Soalnya, kesiapan setiap anak berbeda, tergantung dari kematangan emosional, tanggung jawab, lingkungan, dan nilai keluarga yang diterapkan.
Ada pula remaja yang menyebut kegiatan bersama teman sebagai ‘jalan bareng’, meskipun belum menganggapnya sebagai hubungan serius.
Sebaiknya, Anda membicarakan topik pacaran sebelum anak mulai penasaran. Tanyakan pandangan anak tentang hubungan, lalu sampaikan nilai keluarga dengan tenang.
Dengan begitu, obrolan mengenai batasan terkait pacaran tidak terasa seperti larangan mendadak.
Cara membimbing anak remaja yang mulai pacaran
Jika keinginan anak remaja untuk pacaran sulit dibendung, Anda sebagai orang tua membimbingnya untuk memiliki hubungan sehat. Berikut ini beberapa tipsnya:
1. Bangun komunikasi yang terbuka
Bangun komunikasi dengan anak remaja agar mereka lebih terbuka terhadap orang tua mengenai hubungan yang dijalaninya. (iStockphoto/shironosov)
Mengutip laman All Pro Dad, cara pertama ajak anak berbicara dengan sejumlah pertanyaan sederhana. Misalnya, apa yang ia sukai dari pacarnya atau kegiatan apa yang biasa mereka lakukan bersama.
Dengarkan jawabannya tanpa buru-buru menghakimi. Ketika anak merasa aman untuk bercerita, ia lebih mungkin meminta bantuan jika menghadapi masalah.
2. Hargai perasaan anak
Bagi orang dewasa, hubungan yang baru berjalan beberapa minggu mungkin tampak sepele dan menggelikan. Namun bagi anak remaja, perasaan tersebut bisa terasa sangat serius.
Hindari mengejek, meremehkan, atau memutar mata saat anak bercerita. Anda tetap dapat mengingatkan agar ia menjalani hubungan dengan perlahan, tetapi sampaikan dengan penuh empati.
3. Kenali pacar anak
Berusahalah mengenal orang yang sedang dekat dengan anak Anda, misalnya dengan menyapa atau mengundangnya dalam kegiatan keluarga.
Sikap ramah membantu membangun kepercayaan dan memberi Anda kesempatan melihat bagaimana mereka berinteraksi.
4. Nilai kesiapan anak dan sepakati batasan
Tips lain dari Dokter Anak Elizabeth R. Henry, perhatikan apakah anak mampu bertanggung jawab, mengelola emosi, dan memahami persetujuan serta batas pribadi.
“Jika orang tua merasa anak remaja mereka belum sepenuhnya siap, doronglah untuk melakukan percakapan yang jujur mengenai kekhawatiran tersebut,” tulis Henry di laman American Academy of Pediatrics.
Adapun bila anak mulai pacaran, sepakati aturan yang jelas, seperti jam pulang setelah kencan, tempat bertemu, cara menghubungi orang tua, serta perilaku yang pantas. Tekankan setiap orang berhak mengatakan tidak dan wajib menghormati batasan fisik pacarnya.
5. Dampingi saat patah hati
Dampingi anak di masa-masa tersulitnya ketika putus cinta atau patah hati. (Istockphoto/Antonio Guillem)
Tak cuma ketika asmara sedang berseri-seri, Anda juga perlu bersiap menghadapi anak remaja yang patah hati. Putus cinta terasa sangat berat, terutama bagi anak yang baru pertama kali mengalaminya.
Anda bisa validasi perasaannya dan beri waktu untuk sedih, marah, atau bingung. Jangan mendesak anak untuk segera melupakan hubungan tersebut.
Ajak ia mencari cara sehat untuk mengatasi emosi, seperti berbicara dengan teman tepercaya, menulis jurnal, atau menekuni hobi. Jika kesedihannya berlarut-larut atau mengganggu keseharian, pertimbangkan bantuan profesional.
Mendampingi anak remaja yang pacaran, berarti menjaga keseimbangan antara aturan dan kepercayaan. Kehadiran Ayah dan Ibu yang mau mendengar bakal membantu anak belajar membangun hubungan sehat.
(rti)







