Petani mengamati tanaman padi berumur sekitar dua bulan yang mengalami kekeringan akibat kemarau di Desa Pekan Biluy, Kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (12/7/2024) (ANTARA FOTO/Ampelsa)
Indonesiainside.id – Dampak buruk polusi udara yang kian terasa, khususnya saat musim kemarau, menjadi sorotan para pemangku kebijakan. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno, menyerukan agar pemerintah, baik pusat maupun daerah, mengambil langkah proaktif untuk mengatasi lonjakan polusi udara yang telah memasuki tahap mengkhawatirkan.
Dalam sebulan terakhir, beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, dan Tangerang Selatan, tercatat berada dalam daftar 10 besar kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Ini menandakan bahwa kualitas udara di Jakarta tidak aman bagi warga untuk beraktivitas di luar ruangan.
“Kita semua sudah memahami bahaya polusi di musim kemarau dan dampak yang ditimbulkannya terhadap kesehatan warga, khususnya balita dan warga berusia lanjut. Jadi mestinya ada tindakan preventif yang dilakukan jauh hari sebelumnya dan jangan kita seakan tak berdaya menghadapi polusi udara akut,” ungkap dia dalam keterangannya, Senin (12/8).
Politisi dari Fraksi PAN ini mengingatkan bahwa kementerian dan pemerintah daerah harus segera bertindak sebelum polusi udara mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan. “Selama 3 tahun berturut-turut kita mengalami polusi masif di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang sedemikian buruk dan berbahaya untuk kesehatan. Seharusnya menjadi evaluasi dan pemicu agar program pencegahannya dilakukan secara cepat,” tegas Eddy.
Sumber utama polusi udara di kota-kota besar, seperti sektor transportasi, pembangkit listrik, dan industri, menurut Eddy, harus segera diatasi. Ia menyarankan langkah-langkah konkret seperti pembatasan penggunaan kendaraan pribadi nonlistrik, percepatan ekosistem kendaraan listrik, penggunaan bahan bakar berkualitas tinggi atau bahan bakar nabati, serta peningkatan penggunaan panel surya untuk industri dan rumah tangga.
Eddy juga menekankan pentingnya percepatan implementasi co-firing gas di pembangkit listrik di sekitar kota-kota besar, di samping mempercepat pembangunan pembangkit energi terbarukan yang progresnya masih terbilang lambat.
“Solusi bukan sekadar penanganan jangka pendek yang sifatnya sementara. Perlu solusi jangka panjang mengatasi polusi udara, salah satunya dengan percepatan transisi energi yang terencana, dimulai dengan peningkatan penggunaan gas bumi pada PLTU, dilanjutkan dengan pembangunan sumber energi terbarukan lainnya yang sudah direncanakan, namun masih belum terlaksana,” pungkas Eddy.







