Indonesiainside.id- Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari, mengungkapkan, salah satu masalah yang dihadapi Indonesia saat ini adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Dia menyebut banyak angkata kerja muda yang menganggur dan tidak terlatih.
Peran inovasi teknologi dalam meningkatkan sistem kesejahteraan sumber daya manusia di Indonesia sangat dibutuhkan. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan dengan adanya program Kartu Prakerja, yang ditujukan untuk mendorong peningkatkan penyerapan tenaga kerja dan kewirausahaan di Indonesia.
Denni menyebutkan, dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar angkatan kerja, perlu dilakukan dengan pendekatan baru yang berbeda. Hal ini tentunya membutuhkan inovasi dan teknologi yang mampu beradaptasi dengan situasi yang dihadapi.
Kebutuhan akan sebuah cara baru tersebut bermula pada masalah yang dihadapi terkait SDM dan lapangan kerja.
“Kita menghadapi jumlah signifikan angkatan kerja muda yang mengganggur dan tidak terlatih,” kata Denni dalam Annual Conference on Indonesia Economic Development (ACIED) 2024 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, dikutip Jumat (2/8/2024).
Dia menguraikan, pada 2019, sebesar 20,5 persen angkatan kerja di Indonesia masuk dalam kategori Youth NEET (Not in Education, Employment, or Training). Selain itu, sebanyak 76% pekerja di sektor informal hanya mendapat gaji Rp3 juta. Ini menjadi masalah di sektor tenaga kerja Indonesia.
“Kita berusaha investigasi apa masalahnya dari produktivitas rendah SDM ini,” ujar Denni.
Dari hasil surveyi, walaupun pekerja mengerti pentingnya training vokasi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi mereka tidak pernah melakukan atau mengikuti kursus atau pelatihan tertentu. Hal tersebut disebabkan karena terbatasnya dana, waktu dan informasi (tidak tahu pelatihan apa yang harus diambil).
Saat mengembangkan program Kartu Prakerja, Denni menyebut permasalahan muncu baik si sisi pekerja (demand) maupun penyedia (supply) baik itu pemerintah maupun perusahaan. Mulai dari materi training yang kurang relevan dan berkualitas, tidak tersedianya akses pelatihan, pilihan trainers yang kurang bervariasi, dan sebagainya.
Maka untuk menaikkan jumlah angkatan muda terlatih, dilakukanlah melalui pendekatan baru program Kartu Prakerja. Peraturan Presiden nomor 36 tahun 2020 tentang Pengembangan Kompetensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja kemudian disahkan beberapa minggu sebelum Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19.
“Bisa dibayangkan saat itu desain kartu prakerja butuh berbagai macam penyesuaian yang melibatkan banyak pihak. Program ini harus mengadaptasi current social context saat itu. Sebagai teknokrat kita harus memberikan saran terbaik bagaimana melakukannya secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi saat itu. Good program must be able to adapt and flexible with situation,” ujar Denni.
Program Kartu Prakerja sendiri menyediakan akses untuk pelatihan berkualitas yang mendorong konsep pembelajaran sepanjang hayat, mulai dari usia 16 sampai 64 tahun. Akses terhadap program dibuka bagi siapapun termasuk current workers supaya mereka dapat relevan, produktif dan beradaptasi dengan lingkungan kerja.
Program ini menawarkan berbagai training keterampilan mulai dari hard skill, soft skill dan entrepreneurship yang dapat meningkatkan kompetensi dan produktivitas. Sehingga, dengan mengikuti training tersebut peserta memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik.
Denni menyebutkan, aplikasi mobile Prakerja telah dirancang sedemikian rupa supaya user-friendly dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, sederhana dan tidak rumit. Di sini ia menegaskan, peran teknologi sangat diperlukan dalam merancang aplikasi tersebut, terlebih karena target sasarannya adalah pengguna yang belum terlatih.
