Berita

Anak Bertengkar, Kapan Orang Tua Perlu Turun Tangan?

3
anak-bertengkar,-kapan-orang-tua-perlu-turun-tangan?
Anak Bertengkar, Kapan Orang Tua Perlu Turun Tangan?

Jakarta, CNN Indonesia —

Pertengkaran antara kakak dan adik mungkin menjadi pemandangan yang cukup akrab di rumah. Mulai dari berebut mainan, saling mengejek, hingga berujung pada dorong-dorongan.

Orang tua biasanya refleks langsung melerai atau menentukan siapa yang salah. Padahal, cara orang tua merespons pertengkaran juga dapat memengaruhi bagaimana anak belajar menyelesaikan konflik dengan saudaranya.

Ketika pertengkaran masih sebatas adu mulut ringan, orang tua sebenarnya tidak selalu perlu buru-buru turun tangan. Namun, jika sudah muncul hinaan, makian, ancaman, atau kekerasan fisik, orang tua perlu segera menghentikannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Cleveland Clinic, orang tua dapat berperan sebagai mediator atau pelatih ketika konflik terjadi, bukan sekadar menjadi wasit yang menentukan siapa yang menang atau kalah.

Lantas, bagaimana cara menghadapi kakak dan adik yang sedang bertengkar? Berikut triknya:

1. Tetap tenang dan segera hentikan kekerasan

Ketika melihat kakak dan adik mulai saling mendorong atau memukul, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memisahkan mereka dengan tenang. Hindari ikut berteriak atau menunjukkan kemarahan.

Anak perlu memahami bahwa kekerasan bukan cara yang dapat diterima untuk menyelesaikan masalah. Orang tua dapat mengatakan secara singkat bahwa memukul, menendang, atau menyakiti saudara tidak diperbolehkan. Setelah situasi lebih tenang, barulah orang tua membantu keduanya membicarakan masalah.

Orang tua juga sebaiknya memperhatikan tanda-tanda konflik sebelum pertengkaran berkembang menjadi kekerasan sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal.

2. Jangan langsung menentukan siapa yang salah

Saat dua anak bertengkar, orang tua mungkin tergoda untuk langsung membela anak yang lebih kecil. Misalnya dengan mengatakan, ‘Kamu kan kakaknya, harus mengalah,’ atau, ‘Adik masih kecil, biarin saja.’

Melansir CNN Health, terapis keluarga menyebut cara seperti ini justru dapat memunculkan rasa tidak adil dan membuat anak semakin kesal kepada saudaranya. Karena itu, orang tua sebaiknya menghindari keberpihakan dan mencoba memahami sudut pandang masing-masing anak. Perbedaan usia bukan berarti salah satu anak selalu harus mengalah.

3. Jika masih aman, beri kesempatan mereka menyelesaikannya

Tidak semua pertengkaran harus langsung dihentikan orang tua. Untuk perselisihan ringan, orang tua dapat memberi ruang agar anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak juga dapat diarahkan untuk menggunakan kata-kata daripada terus berteriak atau saling menyalahkan.

Anak di bawah usia 8 tahun umumnya belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola konflik secara mandiri. Karena itu, orang tua dapat membantu sebagai mediator. Biarkan anak tetap memiliki kesempatan belajar menyelesaikan konflik, tetapi pastikan mereka tahu bahwa orang tua siap membantu jika keadaan memburuk.

4. Dengarkan cerita kakak dan adik secara bergantian

Setelah keadaan tenang, jangan buru-buru meminta anak saling meminta maaf. Dengarkan terlebih dahulu apa yang terjadi dari sudut pandang masing-masing.

Mendengarkan bukan berarti membenarkan perilaku anak. Perasaan marah atau kecewa boleh muncul, tetapi tetap perlu ada batas bahwa menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk meluapkannya.

Dengan mendengarkan kedua sisi, orang tua juga dapat membantu anak memahami bahwa saudaranya memiliki perasaan dan sudut pandang yang berbeda.

5. Bantu mereka mencari jalan tengah

Setelah masing-masing anak didengar, orang tua dapat membantu mencari solusi yang bisa diterima keduanya. Jika kakak dan adik berebut satu mainan, misalnya, orang tua bisa membantu menentukan giliran atau mencari aktivitas lain yang dapat dilakukan bersama.

Konflik dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berbagi, berkompromi, dan mencari solusi yang lebih positif. Jadi, tujuan orang tua bukan sekadar membuat pertengkaran berhenti. Lebih dari itu, anak perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi konflik ketika situasi serupa kembali terjadi.

Jangan membandingkan kakak dan adik

Pertengkaran antarsaudara juga dapat semakin sering terjadi ketika anak merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan apakah selama ini mereka lebih sering berpihak kepada salah satu anak.

Memberikan waktu bersama setiap anak secara terpisah dapat membantu mengurangi persaingan untuk mendapatkan perhatian. Pertengkaran kecil antara kakak dan adik sebenarnya tidak selalu perlu dibesar-besarkan. Namun, orang tua sebaiknya segera turun tangan jika konflik mulai mengarah pada kekerasan fisik atau verbal.

Jika anak sudah saling memukul, menendang, mendorong dengan keras, mengancam, atau menggunakan benda untuk menyakiti, pisahkan keduanya terlebih dahulu. Setelah situasi aman dan emosi mereda, barulah konflik dibicarakan. Orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi, bagaimana perilaku mereka memengaruhi saudara, serta apa yang bisa dilakukan secara berbeda pada konflik berikutnya.

Dengan begitu, orang tua tidak hanya menjadi wasit yang menentukan siapa yang menang atau kalah. Anak juga perlahan belajar bahwa bertengkar dengan kakak atau adik adalah hal yang bisa terjadi, tetapi menyakiti dan merendahkan satu sama lain bukan cara untuk menyelesaikannya.

(anm/tis)

Exit mobile version