Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto yang juga presiden terpilih periode 2024-2029 memberikan ucapan HUT kepada Presiden RI Jokowi ke-63 secara langsung di Bandara Halim Perdana Kusuma (foto: istimewa)
Indonesiainside.id- Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Paramadina, Handi Risza Idris, meminta presiden terpilih Prabowo Subianto tidak gegabah dalam menyusun kabinet. Penyusunan kabinet harus seefektif mungkin untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di Tanah Air, seperti kondisi ekonomi yang terpuruk, korupsi merajalela, dan utang pemerintah yang kian menggunung.
Handi menjelaskan, kondisi geopolitik global yang tidak berkesudahan, konflik timur tengah, dan memberikan dampak yang luar biasa kepada ekonomi global. Seluruh negara lumpuh aktivitas ekonominya selama kurang lebih dua tahun, ketika sudah mulai luluh di hadang dengan konflik geopolitik yang menyebabkan dampak dari ketidakpastian.
Pertumbuhan ekonomi yang stagnan memberikan efek hambatan yang kuat terhadap ekonomi global. Indonesia memiliki sensitivitas yang kuat terhadap harga komoditas, yang mana penerimaan pajak mengalami perlambatan dengan capaian 44,5% terhadap APBN.
“Penurunan pajak terutama disebabkan PPh Badan akubat moderasi harga komoditas dan posisi utang pemerintah menungkat mencapai angka 8.338,43 triliun pada April 2024” tutur Handi dalam diskusi publik dengan tema “Dilema Kabinet Prabowo dalam Bingkai Koalisi Besar”, dikutip Sabtu (13/7/2024).
Disisi lain, kondisi pengangguran makin tak terbendung. Berdasarkan data yang dipaparkan Handi, terjadi peningkatan angka kemiskinan dari tahun 2019 sebesar 25,14 juta menjadi 25,9 jura pada tahun 2023, kemudian tingkat pengangguran juga menungkat dari 6,82 juta tahun 2019 menjadi 7,2 jura tahun 2024.
Berdasarkan hal itu, Handi meminta Prabowo tidak gegabah memiliki menteri di kabinet. Itu karena dia melihat ada upaya kompromi politik koalisi besar Revisi Undang-Undang Kementerian Negara mengubah jumlah keseluruhan 34 kementerian menjadi disesuaikan dengan kebutuhan Presiden. Partai pendukung Pemerintah diperkirakan sekitar 12-13 partai politik, gabungan antara partai parlemen dan non-parlemen.
“Presiden terpilih diyakini akan mengakomodir semua partai pendukung mendapat jatah Menteri di Kabinet. Kekuatan partai penyeimbang diluar kabinet akan makin kecil sehingga terganggunya proses demokrasi chek and balance” kata Handi.
Zaken kabinet merupakan konsep yang paling efektif dan efisien. Konsep zaken kabinet melahirkan zona ekonomi eksklusif maka dibutuhkan kabinet yang memiliki keahlian dan kecakapan. Konsep kabinet zaken bukan hal baru dalam dunia politik di Indonesia.
kKabinet zaken yang muncul pada awal 1955 merupakan kabinet ekstra parlementer yang dibentuk berdasarkan keahlian atau kecakapan dari menteri yang ditunjuk.
“Pemerintahan baru nanti punya beban yang berat untuk mengembalikan kepercayaan publik agar mampu bekerja secara efektif dan efisien. Presiden baru tidak boleh lagi dibebani dengan permasalahan moral hazard yang dimiliki para menterinya. Kabinet baru nanti harus mencerminkan profesionalitas dan dedikasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan bangsa” tegas Handi.







