Scroll untuk baca artikel
Otomotif

Etanol dalam BBM, Dua Sisi Mata Uang bagi Kesehatan Mesin

55
×

Etanol dalam BBM, Dua Sisi Mata Uang bagi Kesehatan Mesin

Share this article

OLX News – Isu penggunaan etanol sebagai campuran dalam bahan bakar minyak (BBM) memicu perbincangan hangat di kalangan pengendara. Secara umum, campuran etanol, seperti yang dikenal dalam format E10 (10% etanol, 90% bensin), dikenal bisa mendongkrak oktan dan performa pembakaran.

Namun, di balik manfaatnya yang mampu meningkatkan oktan tersebut, ada konsekuensi teknis yang memengaruhi seluruh sistem kendaraan, mulai dari tangki hingga oli mesin. 

Example 300x600

Penting bagi pemilik kendaraan, untuk memahami cara kerja bahan bakar yang mengandung etanol agar mobil kesayangannya tetap optimal dan awet.

Etanol Penyempurna Sistem Pembakaran di Ruang Mesin

Etanol (C₂H₅OH) secara kimia mengandung sekitar 35% oksigen. Kehadiran oksigen inilah yang membuat proses pembakaran di ruang mesin menjadi lebih sempurna dan efisien. Angka oktan etanol murni yang mencapai 108 RON juga sangat membantu mencegah knocking (ngelitik), sehingga mesin bisa bekerja pada rasio kompresi yang lebih tinggi.

Namun, ada harga yang harus dibayar: etanol memiliki energy density yang lebih rendah, sekitar 30% di bawah bensin murni. Artinya, untuk menghasilkan tenaga yang sama, mesin harus menyuntikkan volume BBM yang lebih banyak. 

Inilah alasan utama mengapa konsumsi bahan bakar pada kendaraan dengan campuran etanol tinggi (Flex Fuel) cenderung lebih boros.

Risiko Korosi di Saluran Bahan Bakar

Salah satu sifat etanol yang paling berpengaruh pada mobil adalah sifat higroskopis, yaitu mudah sekali menyerap air dari udara. Ketika air masuk ke dalam tangki, air dan etanol akan saling tarik dan mengendap di dasar tangki, meninggalkan bensin di bagian atas. Ini disebut pemisahan fase.

Endapan air dan etanol ini menjadi musuh utama komponen logam, menyebabkan:

  • Korosi: Memicu karat pada tangki bahan bakar logam dan saluran pipa.
  • Kerusakan Pompa: Air yang tersedot ke pompa bahan bakar dapat menurunkan tekanan dan mempercepat keausan komponen internal.
  • Penyumbatan: Partikel karat dan air yang terbawa bisa menyumbat filter bahan bakar dan bahkan injektor.

Selain itu, etanol adalah pelarut yang kuat. Pada mobil-mobil lama yang masih menggunakan material karet pada seal, gasket, atau selang bahan bakar, etanol berpotensi melunakkan dan merusaknya.

Dampak pada Pembakaran dan ECU

Di ruang bakar, etanol membantu pembakaran menjadi lebih homogen. Namun, sistem ini sensitif terhadap rasio udara-bahan bakar (stoichiometric ratio).

Bensin murni membutuhkan rasio 14,7:1, sementara etanol membutuhkan rasio yang lebih “kaya” sekitar 9:1. Jika Electronic Control Unit (ECU) mobil tidak pintar, dan tidak mampu mendeteksi peningkatan kadar etanol, campuran bisa menjadi terlalu “kurus” (lean mixture).

Campuran yang terlalu kurus ini fatal, karena bisa menaikkan suhu ruang bakar secara ekstrem, memicu knocking, menurunkan tenaga, dan bahkan berpotensi merusak piston serta katup dalam jangka panjang.

Pengaruh Etanol pada Pelumasan Mesin

Pengaruh etanol juga merambah ke sistem pelumasan. Karena etanol mudah bercampur dengan air dan residu pembakaran, menjadikan kualitas oli menurun drastis (fuel dilution).

Ketika viskositas oli menurun, gesekan antar komponen mesin pun meningkat, yang akhirnya mempercepat keausan pada ring piston dan dinding silinder.

Sisi positifnya, etanol bertindak sebagai pembersih alami yang membantu melunturkan kerak karbon di ruang bakar. Namun, pada mesin lama yang penuh kerak, sisa-sisa kerak yang terlepas ini justru bisa menyumbat injektor atau katup.

Adaptasi Teknologi dan Perawatan Wajib

Kendaraan modern yang sudah dilengkapi sistem EFI dan ECU pintar tentu jauh lebih siap dalam menghadapi risiko akibat etanol ini. Melalui O₂ sensor dan knock sensor, ECU dapat secara otomatis menyesuaikan durasi injeksi dan waktu pengapian agar pembakaran tetap ideal, meskipun kadar etanol dalam BBM sedikit meningkat (seperti pada E10).

Namun, untuk memastikan mesin tetap prima saat menggunakan BBM campuran etanol, ada beberapa langkah perawatan teknis yang disarankan:

  1. Jangan Biarkan Tangki Kosong: Selalu usahakan tangki terisi agar kelembapan udara tidak mudah terserap dan memicu korosi.
  2. Cek Filter Rutin: Ganti filter bahan bakar lebih sering, terutama pada mobil berusia tua.
  3. Monitor Oli: Pertimbangkan untuk memperpendek interval penggantian oli jika mobil sering jarang dipakai atau sering menempuh perjalanan pendek.
  4. Gunakan Aditif: Jika mobil akan disimpan dalam waktu lama, gunakan aditif anti-korosi atau stabilizer bahan bakar.

Penjualan BBM mengandung Etanol di Indonesia

Pertamax Green
Sumber foto: Kompas.com

Penggunaan bioetanol dalam BBM bukan lagi sekadar wacana transisi energi. Pertamina secara resmi telah menghadirkan Pertamax Green 95 di sejumlah SPBU. Produk ini mengandung 5 persen bioetanol (E5) yang dicampurkan dengan Pertamax 92 sehingga menghasilkan BBM RON 95.

Program ini merupakan langkah awal menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan lebih mendukung ketahanan energi nasional. Pertamina menargetkan distribusi Pertamax Green 95 akan diperluas secara bertahap ke kota-kota besar di Indonesia.

Meskipun saat ini baru E5 yang diterapkan, pemerintah juga telah menyatakan rencana untuk meningkatkan kadar bioetanol hingga E10 dalam beberapa tahun mendatang. Artinya, memahami karakteristik etanol dalam BBM menjadi hal penting bagi semua pemilik kendaraan, bukan hanya mereka yang menggunakan mobil baru.

Mobil-Mobil yang Aman Menggunakan E10: Mayoritas Mobil Modern Siap

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di kalangan pemilik mobil adalah apakah kendaraan mereka aman menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol. Jawabannya, untuk mobil modern, mayoritas sudah siap menghadapi E5 hingga E10.

Beberapa pabrikan otomotif besar sudah memberikan pernyataan resmi mengenai kompatibilitas ini:

  • Toyota mengkonfirmasi semua line-up modern yang dijual seperti Agya, Calya, Avanza, Raize, Yaris Cross, dan Innova Zenix, Land Cruiser, Corolla dan lainnya kompatibel dengan etanol hingga 10 persen.
  • Daihatsu juga mengkonfirmasi semua model terbarunya kompatibel dengan E10 semisal model seperti Ayla, Sigra, Rocky, Terios, Granmax dan lainnya juga termasuk.
  • Honda memastikan semua model yang dijual seperti Brio, City Hatchback, WR-V, BR-V, HR-V, hingga CR-V, Accord, Odyssey dan STEP WGN mendukung E10.
  • Suzuki turut mengkonfirmasi semua line up yang dijual seperti, Ertiga, Grand Vitara, Fronx, Carry, Baleno, XL7, dan S-Presso juga masuk dalam daftar aman meminum bensin E10
  • Mitsubishi juga mengamini bahwa semua line up yang dijual, semisal Destinator, XForce, Xpander dan Xpander Cross turut kompatibel meminum E10 berkat sistem injeksi dan fuel line modern.

Secara global, dokumen ACEA (Asosiasi Produsen Mobil Eropa) menyebut mayoritas mobil bensin produksi akhir 2000-an sudah siap dengan E10 tanpa perlu modifikasi.

Untuk mobil lawas yang masih menggunakan karburator atau material karet lama, pemilik harus lebih berhati-hati. Penggunaan E10 sebaiknya didahului dengan pengecekan sistem bahan bakar secara menyeluruh. Batas aman biasanya E5, dan bila ingin menggunakan E10 disarankan melakukan penggantian komponen dan penambahan perawatan preventif.

Dengan fakta ini, penggunaan E5 seperti Pertamax Green 95 pada mobil modern cenderung aman. Dan ketika Indonesia benar-benar menerapkan E10, mayoritas kendaraan yang beredar saat ini sudah memiliki toleransi teknologi yang cukup untuk menghadapinya.

Kesimpulan

Intinya, penggunaan etanol dalam BBM adalah keniscayaan di masa depan. Meskipun menawarkan manfaat oktan dan pembakaran yang lebih baik, tapi juga tetap memiliki risiko negatif, ibarat pisau yang bermata dua. Di satu sisi menguntungkan, di sisi lain bisa merugikan, sehingga pengendara wajib memahami sifat higroskopis dan solvent etanol serta menyesuaikan perawatan kendaraan agar mesin tetap berfungsi optimal. (FA/Z)

The post Etanol dalam BBM, Dua Sisi Mata Uang bagi Kesehatan Mesin first appeared on OLX News.