Ilustrasi
Kisah ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang mengalami kebutaan akibat doa ayahnya yang marah karena ketidakpatuhan anaknya. Kisah ini mengandung pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati dan menaati orang tua serta kekuatan doa, baik itu doa yang penuh kasih maupun doa yang penuh kemarahan.
INDONESIAINSIDE.ID – Seorang pemuda bekerja sebagai penggembala kambing milik ayahnya. Suatu hari, ia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Namun, sang ayah menolak permintaan tersebut. Pemuda itu tidak menyerah dan terus memohon izin kepada ayahnya, tetapi ayahnya tetap tidak mengizinkannya pergi.
Karena keinginannya yang kuat untuk mencari pekerjaan baru, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk pergi meskipun tanpa restu ayahnya. Sebelum berangkat, ia meminta beberapa perlengkapan dari kerabatnya dan meninggalkan kambingnya kepada seorang pria lain untuk dijaga. Sang ayah mengetahui kepergian anaknya dan merasa sangat kecewa.
Ayahnya, yang dikenal sebagai orang yang saleh dan taat, merasa tidak berdaya secara fisik untuk menghentikan anaknya. Namun, ia memutuskan untuk mengadu kepada Allah SWT pada waktu sahur. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah menunjukkan sesuatu yang tidak disukai kepada anaknya sebagai balasan atas ketidakpatuhan tersebut.
Di tengah perjalanan, pemuda tersebut tiba-tiba mengalami kebutaan. Beberapa anggota sukunya menemukannya dan bertanya apa yang diinginkannya. Pemuda itu menjawab bahwa ia awalnya ingin mencari pekerjaan, tetapi sekarang ia buta dan tidak ada yang akan menerimanya. Akhirnya, mereka membawanya kembali ke rumah ayahnya.
Saat tiba di rumah, mereka menemui ayahnya yang juga mengalami gangguan penglihatan. Ayahnya bertanya, “Apakah kamu anakku?” Pemuda itu menjawab, “Ya, Ayah.” Sang ayah kemudian bertanya apakah anaknya telah merasakan akibat dari doanya, dan pemuda itu menjawab, “Ya.”
Mendengar kondisi anaknya, ayahnya merasa sangat sedih dan menyesal. Malam itu, ia tidak berhenti menangis, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Ia bahkan menjilat mata anaknya dengan lidahnya sambil menangis dan berdoa dengan penuh pengharapan kepada Allah.
Allah, yang Maha Mendengar dan Mengabulkan doa, mendengarkan permohonan sang ayah. Pada waktu Subuh, penglihatan anaknya kembali pulih. Sang ayah bersyukur kepada Allah dengan penuh rasa syukur dan memuji-Nya. (Sumber: Syekh Ali Al-Qarni, “‘Uquuq al-Waalidain”).
Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya ketaatan kepada orang tua dan kekuatan doa. Ketidakpatuhan kepada orang tua bisa mendatangkan akibat yang serius, sementara doa yang tulus dan penuh harap dapat mendatangkan keajaiban. Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah ini dan selalu berusaha untuk menjadi anak yang taat dan menghormati orang tua kita. (MBS)







