Scroll untuk baca artikel
Berita

Nilai Waktu dalam Pandangan Ulama Islam

106
×

Nilai Waktu dalam Pandangan Ulama Islam

Share this article
nilai-waktu-dalam-pandangan-ulama-islam
Nilai Waktu dalam Pandangan Ulama Islam

Ilustrasi

Ilustrasi

Example 300x600

Para ulama dan orang saleh dalam sejarah Islam selalu memberikan perhatian besar terhadap waktu. Mereka memahami bahwa waktu adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan kemajuan diri, serta untuk kebaikan umat.

INDONESIAINSIDE.ID – Berikut adalah beberapa contoh dari kehidupan mereka yang menunjukkan betapa berharganya waktu dalam pandangan mereka.

Hasan al-Bashri pernah berkata: “Aku menemui kaum yang mereka lebih menjaga waktunya dibandingkan dengan kalian menjaga dinar dan dirham kalian.” Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menghargai waktu mereka. Mereka selalu berusaha untuk produktif di setiap momen.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak menyesal atas sesuatu pun selain menyesal atas hari yang mataharinya tenggelam, yang umurku berkurang di dalamnya namun ilmuku tidak bertambah.” Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud sangat menyesali hari-hari yang berlalu tanpa ada penambahan ilmu, dan hal ini sangat jarang terjadi dalam hidupnya karena ia adalah salah satu sahabat yang paling berilmu.

Rasulullah SAW juga bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang sering disia-siakan oleh banyak orang adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Waktu dalam Pandangan Ulama Setelah Sahabat
Abu Hatim al-Razi, seorang ulama terkenal dalam bidang tafsir dan hadits, sangat menjaga waktunya. Anaknya, Abdul Rahman, menceritakan bahwa ayahnya sering meminta untuk dibacakan buku saat makan agar waktu tidak terbuang sia-sia. Bahkan saat berjalan atau di kamar mandi, ia tetap mendengarkan bacaan ilmu.

Hal serupa dilakukan oleh Majduddin Ibn Taymiyyah, kakek dari Ibnu Taimiyyah. Ia juga meminta anak-anaknya untuk membaca buku di luar kamar mandi agar ia tetap bisa mendengar bacaan ilmu.

Imam Nawawi jarang sekali berjalan di jalan tanpa menghafal sesuatu dari kitab-kitab ilmu atau Al-Qur’an. Ia selalu memanfaatkan setiap momen untuk belajar.

Waktu dalam Kehidupan Tokoh-Tokoh Lainnya
Salah satu contoh lain adalah Thalib al-Nahwi, seorang ulama abad ketiga hijriyah dalam bidang nahwu dan balaghah. Ia sering membaca buku saat berjalan. Suatu ketika, ia tertabrak kuda dan meninggal karena masih membaca saat berjalan. Meskipun cara ini tidak disarankan, namun menunjukkan betapa ia sangat menghargai waktunya.

Fath bin Khaqan, seorang ulama sekaligus menteri pada masa Khalifah Abbasiyah al-Mutawakkil, selalu membawa buku kemanapun ia pergi dan membaca saat ada kesempatan. Ia memiliki perpustakaan besar dan sangat gemar membaca.

Menghargai Waktu di Era Modern
Pengalaman pribadi Prof. Dr. Raghib As-Sirjani saat tinggal di Amerika menunjukkan betapa pentingnya memanfaatkan waktu selama perjalanan. Jarak yang ditempuh bisa mencapai ratusan kilometer setiap hari.

Namun, dengan membawa kaset ceramah dan buku-buku, waktu perjalanan yang panjang tersebut menjadi produktif dan penuh dengan pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa meskipun kita hidup di era modern dengan berbagai tantangan, kita tetap bisa mengoptimalkan waktu kita seperti yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Para ulama dan orang saleh dalam sejarah Islam selalu menghargai waktu mereka. Mereka memanfaatkannya untuk belajar, mengajar, dan beribadah. Waktu adalah nikmat besar dari Allah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Kita harus meneladani mereka dengan menjaga waktu kita, mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, dan terus berusaha untuk meningkatkan ilmu dan amal kita. (MBS)