Scroll untuk baca artikel
Berita

Waspada Terpapar Virus Riya di Medsos

133
×

Waspada Terpapar Virus Riya di Medsos

Share this article
waspada-terpapar-virus-riya-di-medsos
Waspada Terpapar Virus Riya di Medsos

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok dipenuhi oleh pengguna yang seringkali memamerkan kegiatan sehari-hari mereka. Tak jarang, yang dipamerkan adalah hal-hal yang baik seperti sedekah, ibadah, atau kebaikan lainnya. Namun, di balik semua itu, ada bahaya tersembunyi yang mengintai, yaitu riya, yang merupakan syirik kecil dalam ajaran Islam.

INDONESIAINSIDE.ID – Riya adalah perbuatan menunjukkan amal ibadah atau kebaikan kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian atau popularitas, bukan karena Allah semata. Perbuatan ini termasuk dalam syirik kecil yang harus dihindari oleh setiap Muslim.

Example 300x600

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

Barangsiapa yang berbuat agar didengar (oleh orang lain), Allah akan memperdengarkan (aibnya), dan barangsiapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan (niat buruknya).”

Hadits ini mengingatkan kita bahwa Allah SWT mengetahui setiap niat tersembunyi dalam hati kita. Jika kita melakukan sesuatu hanya untuk pamer di media sosial, niat kita akan terbongkar dan amal ibadah tersebut tidak akan diterima oleh Allah.

Media Sosial dan Riya
Fenomena pamer di media sosial tidak hanya terbatas pada hal-hal duniawi seperti kekayaan atau popularitas. Bahkan, kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan dengan ikhlas karena Allah, seperti shalat, sedekah, atau berbuat baik kepada sesama, bisa menjadi ajang riya.

Banyak pengguna media sosial yang mengejar follower, like, dan komentar positif dengan tujuan mendapatkan penghasilan atau popularitas. Hal ini tentu bertentangan dengan esensi ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas.

Teladan dari Sejarah
Dalam sejarah Islam, kita dapat mengambil teladan dari para sahabat Rasulullah SAW yang selalu menjaga keikhlasan dalam setiap amal ibadah mereka. Salah satu kisah yang patut dijadikan contoh adalah kisah Umar bin Khattab dan Mu’adz bin Jabal.

Suatu hari, ketika Umar sedang berjalan keluar dari masjid, ia melihat Mu’adz sedang menangis. Umar pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku teringat sabda Rasulullah yang mengatakan:

إِنَّ أَدْنَى الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَأَحَبُّ الْعَبِيدِ إِلَى اللَّهِ الْأَتْقِيَاءُ الْأَخْفِيَاءُ، الَّذِينَ إِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِذَا شَهِدُوا لَمْ يُعْرَفُوا، أُولَئِكَ مَصَابِيحُ الْعِلْمِ وَأَئِمَّةُ الْهُدَى”

Sesungguhnya sedikit saja dari sikap riya itu termasuk perilaku syirik. Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah hamba yang bertakwa dan tidak menampakkan amal perbuatannya. Yaitu orang yang tidak dicari tatkala tidak ada dan tidak dikenali saat ia ada. Mereka itulah lentera ilmu dan ulama hidayah.” (HR. Hakim)

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap perbuatan kita. Para sahabat Rasulullah selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikan mereka agar hanya Allah yang mengetahui dan memberikan balasan yang terbaik.

Menjaga Keikhlasan di Era Digital
Di era digital ini, menjaga keikhlasan memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, kita harus selalu ingat bahwa segala amal perbuatan yang kita lakukan akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Untuk itu, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menghindari riya di media sosial:

Pertama, Niat yang Ikhlas: Sebelum memposting sesuatu, pastikan niat kita murni karena Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian atau popularitas.

Kedua, Evaluasi Diri: Sering-seringlah mengevaluasi niat dan tujuan kita dalam menggunakan media sosial. Apakah kita mencari ridha Allah atau hanya ingin dilihat orang lain?

Ketiga, Batasi Publikasi Amal Ibadah: Tidak semua amal ibadah perlu dipublikasikan. Ada baiknya kita menyimpan beberapa amal kebaikan hanya untuk diri kita dan Allah saja.

Keempat, Ingat Akhirat: Selalu ingat bahwa kehidupan di dunia ini sementara dan yang abadi adalah kehidupan akhirat. Amal yang diterima oleh Allah adalah yang dilakukan dengan ikhlas.

Dengan menjaga keikhlasan dan menghindari riya, kita dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk kebaikan yang sejati, bukan hanya sekadar mencari popularitas atau pujian dari manusia. (MBS)