Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia

173
×

Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia

Share this article
BERDIRI dari kiri ke kanan : Temmy, Ria, April, Tami, Ria Achmad, dan Bayu.
DUDUK dari kiri ke kanan : Dewi, Lala, Lydia, Annie, Katerina, Myra dan Sinta
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Dari kiri ke kanan : Myra, Bayu, Rahma, Rina, Katerina, Annie Nugraha, Temmy, Ria Achmad, dan Lydia

Kumpul dengan rekan-rekan sefrekuensi tuh bener-bener seru dan mengasikkan ya. Obrolannya klop karena berangkat dari minat yang sama. Ini yang saya rasakan saat bergabung dengan komunitas Food Blogger Indonesia. Ketemu deh dengan teman-teman sesama rempongers pemotret dan pengulas makanan. Inilah yang akan saya ceritakan. Setumpuk keseruan dari temu bareng komunitas Food Blogger Indonesia yang diadakan di awal Mei 2024 di Good Folks Cikini Jakarta. Jadi semakin rame karena sebagian besar belum pernah bertemu sebelumnya. Khususnya diri ku yang jarang beredar di event off line nya para blogger.

Antusias Datang ke Acara Gathering

Sesaat setelah Katerina – kepala suku komunitas Food Blogger Indonesia – mengumumkan akan mengadakan acara gathering sekaligus halal bihalal, saya langsung menyambut gembira. Antusias banget. Udah berapa masehi rasanya pengen ketemuan dengan rekan-rekan food blogger. Setelah sekian lama hanya bertegur sapa lewat WA group. Saya pun sudah sekian abad tidak beredar (baca: diundang) dalam event apa pun yang melibatkan posisi dan fungsi blogger Indonesia di dunia media sosial atau penulisan artikel dalam rangka branding atau promosi suatu jenama. Jika pun ada ajakan ketemuan, selalu aja ada halangan. Entah itu karena waktunya tak tepat atau memang ada pekerjaan lain yang harus lebih dulu saya perhatikan.

Nah, untuk acara kali ini, kebetulan jadwal saya kosong. Tempat yang dituju juga reachable dan tidak memakan waktu banyak untuk pergi pulang dari dan ke Cikarang. Tapi kalau komunitas Food Blogger Indonesia mengadakan acara di Tangerang Selatan, saya nyerah deh. Butuh perjuangan untuk transportasi. Saya harus melalui tiga provinsi untuk mencapai TKP. Jawa Barat (lokasi rumah saya) – Jakarta (sudah tidak pakai DKI sekarang) – baru setelah itu masuk ke Tangerang, Banten. Yang berdasarkan pengalaman, sekali jalan waktu tempuhnya bisa 3-4 jam. Mayan banget kan ya? Harus ada energi ekstra untuk itu. Kok gak dianterin aja? Duh bukan saya banget itu. Kesian yang nungguin bete. Sementara saya kalau dah ketemu temen, ngobrolnya bisa lima bab skripsi atau 12 jam terbang dari Indonesia menuju Turki. Lama beud kan ya?

Example 300x600

Untungnya sekali ini komunitas memutuskan untuk berkumpul di Good Folks Cikini Jakarta. Pusat Jakarta yang sangat familiar bagi sebagian besar publik dan mudah untuk digapai dengan menggunakan transportasi umum seperti kereta api. Kalau dari Cikarang, maksimum 1.5-2 jam sekali jalan atau 30 menit doang kalau gak pake rem. Bahkan bisa hanya 10 menit jika ada baling-baling bambunya Doraemon. Alhamdulillahnya saya cukup familiar dengan area Cikini, jadi gak ada masalah dalam soal cari mencari. Apalagi belum berapa lama saya sempat makan bareng keluarga di RM Padang Payakumbuah yang berada persis bersebelahan dengan Good Folks Cikini.

Yang pasti judulnya saya antusias datang ke acara gathering ini, sembari membawa dua buah bros crochet yang sudah saya buat sendiri dan siapkan menjadi door prize.

Tentang Kuliner : Daus Peunayong. Sang Legenda Kuliner Banda Aceh

Temu Kangen dan Temu Perdana

Saya sudah beberapa kali bertemu Katerina, Tami, Bayu, Lydia dan Dewi. Kelima rekan blogger yang sudah lama berteman. Katerina dan Tami bertemu saya saat pelatihan menulis di 2014, Bayu saat ada event para pecinta buku dan penulis di Kelapa Gading (lupa tahunnya tapi yang pasti sebelum pandemi), Lydia saat ada acara jalan-jalan ke Belitung. Lalu Dewi yang terakhir pergi bareng di 2015 saat ada acara di Tanjung Lesung. Saat itu Dewi belum hamil, si sulung Aqsa lahir dan sekarang sedang menunggu kehadiran anak ke-2, baru ketemuan lagi. Sementara dengan Katerina, Tami, dan Bayu, sebelum ini kami sempat mengobati rindu di Oktober 2023. Mereka mengunjungi saya yang saat itu “ngamen” di acara Trade Expo Indonesia 2023 di ICE BSD. Jadi acara ini bisa jadi temu kangen saya dengan mereka. Untuk teman-teman yang lain, seperti Temmy, April, duo Ria, Myra, Sinta, Lala, dan Rahma, ini menjadi temu perdana.

Seru? Banget.

Dengan adanya acara seperti ini, setidaknya sebagian anggota komunitas Food Blogger Indonesia bisa saling mengakrabkan diri. Karena itu perlu banget Katerina meminta kami untuk mengenalkan diri dan bercerita singkat tentang aktivitas sehari-hari. Plus tentang kegiatan nge-blog yang jadi asupan kami dari waktu ke waktu. Untuk urusan menulis, saya termasuk “rombongan buncit” dalam hal jam terbang nge-blog nya. Meski di 2014 saya sudah ikutan pelatihan menulis bersama Mas Teguh Sudarisman di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta Pusat, saya baru benar-benar aktif menulis pada 2017. Itu pun masih on and off, belum seproduktif sekarang, karena masih “menabung ilmu” di dunia literasi Ikut pelatihan sana-sini dengan guru menulis berbeda-beda, dilakukan bertahun-tahun hingga akhirnya jejeg dengan gaya menulis sendiri.

Dari sekian banyak yang hadir, saya sepertinya yang memegang trophy paling sepuh dari segi usia. Sementara sebagian besar teman berstatus mamah muda dengan anak-anak yang masih kecil-kecil atau sudah di angka 40 tapi masih kelihatan (sangat) energik. Tapi gapapa, bergaul dengan teman-teman yang (jauh) lebih muda malah bikin semangat. Serasa ikutan muda padahal sudah keriput dimana-mana (halah).

Keseruan pertemuan ini kemudian dilengkapi dengan sesi foto-foto makanan dan minuman pesanan serta pengundian door prize yang ternyata cukup banyak.

Tentang Kuliner : Sajian Lezat ala Iga Panggang Panglima Grand Garden City Bekasi

Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Kedatangan Andy, blogger asal Lombok
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Trio Palembangers (saya, Temmy, dan Katerina)
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Konfrensi meja panjang. Kenalan (lagi) biar lebih dekat.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Niatnya mau goyang Shake Shake. Ternyata jauh panggang dari api. Yoweslah pose-pose aja kalo begitu.

Tentang Kuliner : Bumi Aki Heritage Bandung. Perpaduan Sempurna Antara Estetika Visual dan Kelezatan Rasa

Memotret Makanan Adalah Fardu Ain Bukan Sunnah

Beberapa hari sebelum datang ke acara ini, saya sudah membayangkan akan bakal seru motret makanan dan minuman. Katerina bahkan sempat membagikan file yang berisikan banyak pilihan menu yang ada di Good Folks Cikini Jakarta. Persis seperti buku menu versi cetaknya. Membuka lembar demi lembar dokumen tersebut, saya malah jadi bingung memilih. Terlalu banyak yang menarik dan menggugah selera. Saya bahkan tak mampu memutuskan hingga akhirnya benar-benar berada di resto, dan kembali duduk membaca isi buku menu lembar demi lembar. Tapi itu pun dengan tetap meneliti setiap halaman dan foto yang disajikan yang menjadi pelengkap informasi.

Awalnya kepengen banget memesan Sharing Platter (Rp130.000,00) karena tampaknya sekian banyak masakan Good Folks Cikini Jakarta ada di satu piring itu. Kombinasinya pun sukses membuat saya menahan liur. Isinya pun kaya akan protein dan sentuhan gurih yang saya sukai. Di dalam piring yang besar ini ada chicken wings yang dimasak kriuk berbumbu, calamari, corn brow (potongan jagung yang dipanggang dengan aneka bumbu), french fries yang potongannya besar-besar, onion ring, dan karaage (potongan dada ayam yang digoreng renyah). Semua kegurihan ini dilengkapi dengan mayonnaise dan thai chilli sauce. Banyak sekali isinya. Jadi cocok jika dinamai sharing platter karena memang sepertinya dibuat dengan konsep berbagi. Berbagi untuk dimakan bersama (setidaknya untuk kuota dua orang) atau memang merupakan kombinasi dari berbagai menu dalam bagian kecil (shared menu).

Tapi menimbang lambung saya yang kisut, akhirnya saya memutuskan untuk tidak memesan Sharing Platter ini dan mencoba Good Folks Burger (Rp85.000,00) dengan keyakinan ingin merasakan olahan burger ala tuan rumah. Keputusan ini ternyata jitu. Burgernya umami tak terkira. Saya yang pada awalnya tak yakin mampu menghabiskan burger setebal itu, malah menikmati setiap gigitan dengan nafsu makan yang tak biasa. Burger ini berisikan beef patty yang dimasak well done dan juicy, potongan sayuran dan onion ring, lalu dilengkapi dengan keju yang sebagian diantaranya meleleh. Agar potongan roti dan isinya tetap terlihat ciamik, Good Folks menusukkan potongan bambu yang mirip seperti tusuk sate yakitori. Asiknya lagi bersamaan dengan burger yang kaya rasa ini, lambung saya dimantabkan kenyangnya dengan setumpuk besar french fries kaya rasa. Persis seperti kentang goreng yang menjadi bagian dari Sharing Platter tadi.

Selain Sharing Platter dan Good Folks Burger, saya juga sempat memotret Nasi Goreng Sei (Rp60.000,00) yang dipesan Katerina. Saat mendekat dan mencium aroma yang muncul dari nasi goreng yang baru saja matang, mendadak kok menyesal makan burger (hahahaha). Apalagi kemudian Katerina berceloteh dengan sangat bersemangat kalau bumbu dan campuran olahan sei nya begitu memanjakan lidah. Tercampur dengan baik bersama nasinya dan melahirkan cita rasa yang nendang banget. Keistimewaan sei sapi khas NTT tersaji umami dalam hidangan nasi goreng khas nusantara. Kuotanya juga gak pelit dengan tambahan potongan acar (tomat, timun, cengek, bawang merah) yang terlihat segar. Dan semakin sempurna dengan kehadiran kerupuk kampung. Platingnya juga apik deh. Cantik dan tidak berlebihan. Daun pisang yang menjadi alas sebelum bidang piringnya, terlihat bersih dan tidak layu. Sayangnya lambung saya sudah terlalu penuh untuk ikut serta menikmati nasi goreng ini. Jadi saya cuma sempat numpang nyoba sesendok aja.

Satu lagi menu yang begitu melekat di pikiran saya adalah Corn Brow (Rp40.000,00) nya. Makjang. Kok enak bener yak. Setelah beberapa kali mencoba jagung bakar dalam bentuk utuh atau dipotong bulat-bulat, sekarang yang hadir di depan mata adalah dalam bentuk potongan yang berbeda (potongan persegi panjang dengan bagian bongkol yang tetap dibiarkan menempel). Tapi beneran jadi asik dan mengampangkan kita untuk mengunyah tanpa belepotan di pipi. Menimbang efek sedikit pedas yang tercipta oleh mayo yang dioleskan, saya sebenarnya pengen banget menggasak hampir semua Corn Brow yang disiapkan oleh Good Folks Cikini untuk acara ini, tapi kondisi gigi saya yang jarang-jarang dan gampang jadi “sangkutan” makanan, membatalkan niat itu. Padahal ya Corn Brow ini rasanya begitu mengejutkan apabila dicocol dengan spicy mayo yang turut dihidangkan bersamaan.

Selain ke-empat menu di atas, beberapa sajian lain pun banyak dipesan teman-teman. Diantaranya adalah Gulai Tjikini, Niku Don, Chicken Nanban, dan Spaghetti. Semua tampak meriah dan ramai oleh sesi pemotretan yang hukumnya fardu ain bukan sunnah.

Seru kali lah pokoknya. Awalnya saya ingin motret candid saat teman-teman beraksi. Tapi nyatanya saya sendiri gak sadar sudah terjun dalam kesibukan dan kehebohan yang sama sampai belasan bahkan puluhan menit kemudian. Dan nawaitu untuk candid pun melayang terlupakan.

Yang pasti, jika ada kesempatan kembali ke Cikini, saya pengen ngajak suami dan anak-anak untuk menikmati ke-empat menu di atas. Kalau memahami selera mereka sih, tampaknya anak-anak bakal jatuh cinta pada Sharing Platter dan Good Folks Burger plus tentu saja Corn Brow. Sementara saya dan suami akan berbagi piring untuk menyelami kelezatan Nasi Goreng Sei.

By the way, saya suka loh slogan yang tertera pada buku menu “Make Your Mood Better” dan “Good Food Good Mood” Saya sepakat bahwa food & beverage adalah salah satu unsur kehidupan yang bisa mencerahkan dan menggembirakan perasaan. Banyak orang yang jika merasakan sedih melunturkan kegalauan dan atau kesedihan tersebut dengan makan dan minum enak yang (sangat) dia sukai. Khususnya makanan. Gak peduli apakah itu mahal atau tidak, di mana pun tempatnya, bahkan hidangan warung emperan sekali pun. Yang penting lewat kelezatan rasa yang mendobrak lidah, hati biasanya ikutan tenang dan suasana hatinya bangkit membaik.

Tentang Kuliner : Surga Jajan Pasar di Toko Kue Lakker Braga Bandung

Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Sharing Platter (130K). Poutine, calamari, chicken wings, corn brow, french fries, fried onion (onion ring), dan karaage. Dilengkapi dengan mayonnaise dan thai cilli sauce. Salah satu hidangan favorite yang ditawarkan oleh Good Folks Cikini Jakarta
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Good Folks Burger. Burger olahan ala Good Folks Cikini Jakarta yang umaminya tak terbantahkan.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Good Folks Burger yang saya potret bersama Fresh Orange Juice yang juga adalah pesanan saya.
Di belakangnya ada Spaghetti Aglio, watermelon juice, dan teh tawar hangat.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Nasi Goreng Sei pesanan Katerina. Aroma smoked sei sapi nya berasa banget. Tercampur begitu sempurna dengan bumbu rahasia untuk nasi gorengnya. Nasi goreng ini dilengkapi dengan potongan tomat, timun, bawang merah, cabe, potongan daun bawang, dan hamburan kerupuk.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Corn Brow. Jagungnya terpanggang apik dengan lelehan keju yang sudah menyatu dan mayonnaise pedas yang sudah lumer.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia

Sekilas Tentang Good Folks Cikini Jakarta

Beberapa bulan sebelum event ini, saya dan keluarga pernah mampir makan di RM Padang Payakumbuah yang lokasinya persis berdampingan dengan Good Folks Cikini Jakarta. Saat itu parkiran Payakumbuah yang cuma seuprit penuh dan padat. Bahkan ada beberapa mobil terpaksa parkir di bahu jalan. Satu kondisi yang sering banget kita lihat saat menyusur Jl. RP Soeroso di mana Good Folks Cikini Jakarta berada. Atas arahan seorang petugas, mobil saya diarahkan untuk memasuki area parkir gedung di sebelah yang kemudian saya kenal dan tandai sebagai Asatu Area.

Nah di Asatu Area building ini parkirannya cukup luas. Dari skala hitungan cepat saya, setidaknya bisa menampung belasan kendaraan roda empat. Saat datang dan bisa parkir dengan baik, saya langsung menuju RM Padang Payakumbuah sembari berjanji akan membeli setidaknya secangkir kopi di resto yang sudah mengizinkan kami untuk menumpang dan menitipkan kendaraan. Nawaitu ini saya tuntaskan dengan membeli segelas kopi hangat Americano. Hasilnya? Woaahh mantab betul. Dinikmati light, cita rasa kopi hitam tanpa gula ini terasa pas untuk saya yang memang menggemari kopi less sugar atau tidak dengan gula sekalipun.

Karena Jl. RP Soeroso telah lama diatur menjadi satu arah, akses untuk menyusur jalan ini adalah lewat RS Bunda yang berada di paling ujung. Ada beberapa jalan kecil selama menyusur Jl. RP Soeroso, diantaranya banyak yang terhubung dengan kawasan hunian di Menteng dan Jl. Cikini Raya. Banyak sekali resto legendaris yang ada di sepanjang jalan ini. Seperti Mie Ayam Gondangdia, Paramount, Soto Betawi H. Ma’aruf, Markas Besar Nasdem, dan masih banyak lagi. Hingga di ujung jalan, sebuah lampu merah besar, kita akan bertemu dengan Menteng Huis (sebuah mall kecil) yang berada di seputaran atau pertemuan antara Jl. RP Soeroso dan Jl. Cikini Raya.

Good Folks Cikini Jakarta persis beberapa meter sebelum Menteng Huis. Berada di sisi kanan jalan, fasad gedung yang ditempati Good Folks Cikini Jakarta terlihat begitu mentereng. Dengan dinding kaca yang dipenuhi oleh berbagai ragam tulisan spidol putih, halaman luas parkir juga langsung terpampang. Satu kondisi yang jarang dimiliki oleh berbagai tempat yang ada di sepanjang Jl. RP Soeroso.

Selain menyusur dengan kendaraan pribadi, Jl. RP Soeroso juga gampang diraih dengan kereta api. Lokasinya tak jauh dari Stasiun KA Cikini dan Gondang dia. Mau jalan oke, naik ojek lebih cepet. Saya sendiri sih belum mencoba naik KA dari Cikarang karena terus terang lokasi stasiun kereta Cikarang (sangat) jauh dari kompleks perumahan saya.

Saat berada di parkiran ketika datang dan hendak ke toilet menuju waktu pulang, saya mencoba mengamati gedung dan fasilitas yang ada. Persis di atas Good Folks ada Wefitness yang ada di lantai dua. Sementara di bagian belakang itu ada lapangan futsal yang disampingnya ada Aumont Kofie. Itu yang saya lihat langsung. Tapi setelah menyusur IG @asatuarea ternyata di lingkungan ini juga ada Teddybeer, Madbatter, Warung Ijo, dan The Bali Physio Jakarta. Saat membuka link tree milik Asatu Area, teman-teman juga bisa menemukan satu tautan yang terhubung dengan reservasi untuk menggunakan lapangan futsal tersebut.

Yuk sekarang ke dalam Good Folks.

Menilik IG @goodfolks.jakarta kita akan diajak melihat postingan kegiatan musik yang mereka adakan secara rutin. Good Folks Cikini Jakarta pun mentasbihkan diri sebagai Music Cafe. Jadi tak heran jika area setengah terbuka yang berbentuk memanjang yang ada di samping area utama, dilengkapi dengan berbagai instrument sound system, area duduk semen memanjang, dan banyak meja-meja serta kursi-kursi besi. Space dan perlengkapan yang pas dengan mini concert dan yang diperuntukkan bagi para ahli hisab.

Di ruang makan yang berpendingin ruangan tersebar banyak bangku dan meja kayu dalam beberapa ukuran, kemudian ada beberapa sofa, sebuah bar yang cukup spacious, serta beberapa ornamen ruangan yang cukup menarik perhatian. Di salah satu sudut ruangan malah ada banyak mainan anak-anak dan dudukan lantai yang bisa jadi pusat perhatian si kecil. Kalau saya sih tertarik dengan keberadaan sebuah gramophone klasik dengan rangka gabungan kayu dan besi. Ukurannya cukup besar dan ditaruh di atas lemari kaca yang ada di sekitar bar dan lemari pendingin minuman. Saya jadi pengen punya untuk hiasan di rumah.

Tentang Kuliner : Rela Mengantri Demi Dim Sum Enak di Bandung

Komunitas Food Blogger Indonesia Sekarang dan Nanti

Kehadiran belasan anggota komunitas Food Blogger Indonesia dengan beberapa membawa anggota keluarga, sepertinya sudah bikin riuh suasana di dalam cafe. Kami menempati dua meja panjang dan sebuah sofa yang penuh dengan makanan, minuman, hadiah door prize, dan kerempongan bawaan ibu-ibu. Ngobrol pun semakin riuh rendah karena terselip canda tawa dibalik keseriusan tentang rencana kedepan komunitas.

Banyak harapan dan mimpi tersirat agar komunitas ini semakin eksis dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Termasuk salah satunya adalah membuat buku tentang kuliner nusantara yang menjadi bagian penting dari jejak literasi bagi para anggota yang berangkat dari profesi blogger. Menulis akan banyak jejak budaya di dunia kuliner dan turut melestarikan keberadaannya dalam sebuah buku.

Saya sangat menunggu mimpi ini benar-benar menjadi kenyataan. Sebuah legacy tentang kekayaan sajian tanah air dan keberadaan dari komunitas Food Blogger Indonesia itu sendiri.

Terima kasih untuk Good Folks Cikini Jakarta yang sudah menjadi tuan rumah yang hangat dan nyaman. Makasih juga buat beberapa anggota komunitas yang sudah meluangkan waktu untuk hadir, berkenalan, bertegur sapa, dan semakin mengakrabkan diri satu sama lain. Semoga kegiatan silaturahim seperti ini bisa berkelanjutan di banyak tempat dan ragam kegiatan di masa yang akan datang.

Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Ruang makan tertutup Good Folks Cikini Jakarta.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Gramophone unik dan antik yang ada di area bar.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Dine-in area yang ada di sisi luar, semi terbuka.
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Fasad depan Good Folks Cikini Jakarta
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Fasad depan gedung utama Asatu Area
Setumpuk Keseruan dari Temu Bareng Komunitas Food Blogger Indonesia
Di depan fasad Good Folks Cikini Jakarta. Dinding kacanya semarak dengan gambar dan tulisan yang menarik hati.