Jakarta, CNN Indonesia —
Kelahiran prematur menjadi tantangan tersendiri bagi bayi dan keluarga. Ketika lahir sebelum waktunya, bayi membutuhkan perawatan intensif untuk membantu menjaga fungsi tubuhnya hingga kondisinya cukup stabil.
Namun, perjuangan bayi prematur tidak selalu berakhir ketika ia berhasil melewati masa kritis dan diperbolehkan pulang dari Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Justru setelah kembali ke rumah, perjalanan panjang untuk memastikan bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dimulai.
Kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi neonatal saat ini memungkinkan semakin banyak bayi yang lahir prematur untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut sekaligus mengubah cara pandang terhadap keberhasilan perawatan bayi prematur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan bayi melewati masa kritis di NICU, tetapi juga dari bagaimana ia tumbuh, berkembang, serta memiliki kualitas hidup yang baik dalam jangka panjang. Karena itu, bayi prematur membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari pemenuhan nutrisi, pemantauan pertumbuhan, hingga stimulasi dan pemantauan perkembangan sesuai kebutuhannya.
Pentingnya dukungan setelah bayi pulang
Salah satu aspek penting dalam perjalanan bayi prematur adalah pemenuhan nutrisi. Pada kondisi tertentu, bayi prematur masih membutuhkan perhatian khusus terkait pemberian ASI dan pola nutrisinya setelah keluar dari NICU.
Pemberian ASI bahkan dapat dilakukan ketika bayi masih menjalani perawatan di NICU, tentu dengan menyesuaikan kondisi dan kesiapan medis bayi. Karena itu, ibu juga membutuhkan dukungan agar dapat mempertahankan produksi ASI selama bayinya menjalani perawatan.
Bagi ibu yang harus memerah ASI untuk diberikan kepada bayi, proses tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Konsistensi memerah ASI, kondisi fisik dan emosional ibu, serta pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Dukungan terhadap ibu karenanya perlu dimulai sejak masa kehamilan dan dilanjutkan setelah persalinan. Dengan dukungan yang memadai, ibu memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan proses laktasi sekaligus mendukung kebutuhan bayinya.
Namun, kebutuhan bayi prematur tidak berhenti pada aspek nutrisi. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan juga perlu dilakukan secara berkesinambungan.
Orang tua perlu memperhatikan perkembangan bayi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Bila terdapat kekhawatiran mengenai pertumbuhan, kemampuan motorik, komunikasi, atau aspek perkembangan lainnya, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Perawatan bayi prematur juga semakin menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses pemulihan. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah Family Integrated Care (FICare), yang melibatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan selama bayi menjalani perawatan di NICU.
Dalam pendekatan ini, orang tua tidak hanya menjadi pengunjung yang menunggu di luar ruang perawatan. Setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan dari tenaga kesehatan, mereka dapat dilibatkan dalam berbagai aspek perawatan bayi sesuai kondisi medisnya.
Keterlibatan tersebut juga dapat membantu membangun ikatan antara orang tua dan bayi yang mungkin sempat terhambat karena bayi harus menjalani perawatan intensif setelah lahir.
“Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh. Ketika orang tua menjadi bagian dari proses perawatan, manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah bayi meninggalkan NICU,” kata dokter spesialis anak neonatologi Tetty Yuniati dalam keterangannya.
Pendekatan yang melibatkan keluarga juga membuat orang tua lebih memahami kondisi bayi serta hal-hal yang perlu diperhatikan setelah perawatan di rumah.
Keluar NICU bukan akhir perjalanan
Ketika bayi dinyatakan cukup stabil untuk pulang, keluarga biasanya memasuki fase baru. Perawatan yang sebelumnya banyak dilakukan oleh tenaga kesehatan kini sebagian besar dilanjutkan di rumah dengan pendampingan sesuai kebutuhan.
Pada tahap ini, orang tua perlu memastikan bayi memperoleh nutrisi yang cukup, lingkungan yang mendukung, serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala.
Dokter spesialis anak I.G.A. Nyoman Partiwi mengatakan proses pendampingan justru menjadi penting setelah bayi meninggalkan NICU.
“Keluar dari NICU bukan akhir perjuangan. Saat pulang ke rumah, proses tumbuh kembang justru baru akan dimulai. Pendampingan yang tepat akan membantu bayi prematur memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tiwi.
Artinya, perawatan bayi prematur perlu dilihat sebagai sebuah perjalanan yang berkelanjutan. Setiap bayi memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendampingannya pun tidak dapat disamaratakan. Kolaborasi antara dokter, tenaga kesehatan, dan keluarga menjadi penting untuk memastikan kebutuhan bayi dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Gagasan mengenai pendampingan bayi prematur secara menyeluruh tersebut turut menjadi perhatian dalam buku Bayi Prematur Menjemput Harapan. Buku karya Prof Tono Djuwantono, Dokter Tetty Yuniati, Dokter I.G.A. Nyoman Partiwi tersebut membahas perjalanan bayi prematur dari masa kehamilan, perawatan intensif di NICU, hingga pendampingan setelah kembali ke rumah.
Buku ini menggunakan perspektif dari beberapa disiplin ilmu untuk menggambarkan bahwa perjalanan bayi prematur tidak hanya berkaitan dengan upaya melewati kondisi kritis. Pesan utamanya adalah bagaimana kesempatan hidup yang telah diperoleh bayi prematur dapat dilanjutkan dengan dukungan yang membantu mereka tumbuh dan berkembang secara optimal bersama keluarga.
(tis/tis)






