CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 23:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia —
Banyak orang tua tanpa sadar terlalu memanjakan buah hatinya. Lantas, bagaimana sebenarnya ciri-ciri anak yang terlalu dimanjakan?
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak. Apapun keinginan anak, sebisa mungkin dipenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi sebagian orang tua, membuat anak bahagia adalah bentuk kasih sayang. Tapi, jika hampir semua keinginan si kecil dituruti, kasih sayang tanpa disadari berubah menjadi pola asuh yang terlalu memanjakan.
Anak yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya bisa jadi terlihat bahagia dan tak kekurangan apa pun. Namun, masalah bisa muncul saat anak sulit menerima penolakan atau menganggap orang lain harus selalu memenuhi keinginannya.
Ciri-ciri anak yang terlalu dimanjakan
Memanjakan anak bukan semata-mata soal memenuhi setiap permintaan. Lebih dari itu, memanjakan adalah tiadanya pola dan batasan dalam pengasuhan.
Lantas, bagaimana ciri-cicir anak yang terlalu dimanjakan? Simak penjelasannya berikut ini, merangkum berbagai sumber.
1. Tidak menerima jawaban tidak
Anak akan mengharapkan segala sesuatunya berjalan sesuai keinginannya. Betapa tidak, anak telah terbiasa dengan hal itu lantaran pola asuh memanjakan yang diterapkan orang tua.
Mengutip CNBC Make It, mereka akan sering menjawab ‘tidak’ terhadap apapun yang Anda minta.
2. Tidak pernah puas atas apa yang dimiliki
Anak-anak yang terbiasa dimanjakan boleh jadi memiliki banyak hal yang tidak dimiliki anak lain. Namun, mereka selalu menginginkannya lagi dan lagi.
Menukil Medicine Net, mereka cenderung tidak menghargai apa yang telah dimiliki. Alih-alih mengucapkan terima kasih atas apa yang telah diberikan, mereka justru fokus pada keinginan-keinginan lainnya.
3. Egois
Anak yang dimanja sering kali lebih egois. Mereka boleh jadi hanya memikirkan diri sendiri daripada orang lain.
Mereka juga merasa berhak dan mengharapkan orang lain memberikan perlakuan khusus.
4. Tak menerima kekalahan
Tak ada satupun anak yang senang saat mengalami kekalahan. Namun, anak-anak yang biasa dimanja akan lebih sulit untuk mengungkapkan kekecewaannya.
Alih-alih mengungkapkan kekecewaan dengan cara yang sehat, mereka justru memilih menyalahkan orang lain. Mereka juga akan marah pada orang-orang karena segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan mereka.
5. Tak mau melakukan tugas sederhana
Anak yang biasa dimanja kerap menolak melakukan tugas-tugas sederhana sekali pun, seperti menyikat gigi atau merapikan mainan.
6. Agresif
Kebiasaan memanjakan anak identik dengan pola asuh permisif. Sebuah meta analisis yang dipublikasikan dalam Developmental Review menyebutkan, anak dengan orang tua permisif kurang memiliki kemampuan mengendalikan emosi negatif karena orang tua tak cukup memantau perilaku atau meminta anak merefleksikan perilakunya.
Akibatnya, saat berhadapan dengan konflik, anak dapat lebih kesulitan mengendalikan dorongan agresif.
7. Impulsif
Anak perlu belajar menunda kepuasan atau mengendalikan dorongan. Namun, kebiasaan memanjakan membuat anak kehilangan kesempatan belajar.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Child and Family Studies menemukan, pola asuh permisif berkaitan dengan anak yang kesulitan mengontrol diri sendiri. Studi juga menyoroti kurangnya kontrol orang tua yang jadi salah satu prediktor rendahnya regulasi anak.
Regulasi diri sendiri mencakup kemampuan mengendalikan perhatian, perilaku, dan emosi. Impulsivitas merupakan salah satu komponen yang berkaitan dengan mengatur kemampuan diri.
Pada akhirnya, memanjakan anak bukan tentang seberapa banyak cinta atau fasilitas yang diberikan, melainkan tetang apakah orang tua juga memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri, menghadapi kekecewaan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
(asr)







