
Teknologi.id – Industri aset kripto kembali diguncang kabar besar. Salah satu operator ATM Bitcoin terbesar di dunia, Bitcoin Depot, resmi menghentikan seluruh operasionalnya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan (Chapter 11) di Amerika Serikat.
Akibat keputusan tersebut, ribuan ATM Bitcoin milik perusahaan yang sebelumnya beroperasi di Amerika Serikat, Kanada, hingga Australia kini tidak lagi dapat digunakan. Kebangkrutan ini disebut dipicu oleh tekanan regulasi pemerintah yang semakin ketat, ditambah penurunan pendapatan dan berbagai persoalan hukum.
Baca juga: Pencipta Asli Bitcoin Terkuak? Adam Back Diduga Satoshi Nakamoto
Bitcoin Depot Resmi Ajukan Kebangkrutan
Bitcoin Depot mengajukan perlindungan kebangkrutan ke Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Texas. Langkah ini dilakukan agar perusahaan dapat menjual aset dan menyelesaikan kewajiban finansial sesuai aturan yang berlaku.
Dengan pengajuan tersebut, seluruh jaringan ATM Bitcoin milik perusahaan kini dinonaktifkan atau offline.
Sebelumnya, Bitcoin Depot dikenal sebagai salah satu operator ATM Bitcoin terbesar di dunia. Hingga tahun lalu, perusahaan mengoperasikan sekitar 9.276 mesin ATM Bitcoin yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
ATM tersebut memungkinkan pengguna membeli aset kripto seperti Bitcoin secara langsung menggunakan uang tunai tanpa harus melalui aplikasi perdagangan aset digital.
Pendapatan Anjlok Hampir 50 Persen
Kondisi keuangan perusahaan terus memburuk sepanjang 2026.
Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, Bitcoin Depot mencatat:
- Pendapatan turun 49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
- Mengalami kerugian bersih sekitar US$9,5 juta atau sekitar Rp152 miliar.
- Tahun sebelumnya perusahaan masih mencatat laba bersih sekitar US$12,2 juta.
- Laba kotor juga merosot sekitar 85 persen, menyisakan sekitar US$45 juta.
Penurunan tajam tersebut membuat perusahaan kesulitan mempertahankan operasional bisnisnya.
Aturan Pemerintah Jadi Penyebab Utama
CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyebut perubahan regulasi menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat bisnis perusahaan semakin sulit dijalankan.
Menurutnya, banyak negara bagian di Amerika Serikat mulai menerapkan aturan baru yang jauh lebih ketat terhadap operator ATM Bitcoin.
Beberapa aturan tersebut meliputi:
- Pembatasan nominal transaksi.
- Persyaratan kepatuhan yang lebih rumit.
- Larangan operasional ATM Bitcoin di sejumlah wilayah.
- Pengawasan hukum yang semakin agresif.
Holmes menilai perubahan regulasi tersebut membuat model bisnis ATM Bitcoin tidak lagi berkelanjutan.
Hadapi Gugatan Dugaan Penipuan Kripto
Selain tekanan regulasi, Bitcoin Depot juga tengah menghadapi persoalan hukum.
Perusahaan digugat oleh Jaksa Agung di negara bagian Massachusetts dan Iowa atas dugaan bahwa ATM Bitcoin miliknya dimanfaatkan dalam berbagai kasus penipuan aset kripto.
Dalam beberapa tahun terakhir, ATM Bitcoin memang kerap menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku kejahatan untuk menipu korban.
Kerugian akibat penipuan yang melibatkan ATM kripto secara global bahkan dilaporkan mencapai sekitar US$389 juta sepanjang tahun lalu, meningkat sekitar 58 persen dibanding tahun sebelumnya.
Lonjakan kasus tersebut mendorong regulator di berbagai negara memperketat pengawasan terhadap industri ATM kripto.
Operasional Global Ikut Ditutup
Tak hanya perusahaan induk di Amerika Serikat, anak usaha Bitcoin Depot di Kanada juga ikut masuk dalam proses kebangkrutan.
Sementara itu, operasional di negara lain akan dihentikan secara bertahap mengikuti aturan di masing-masing wilayah.
Industri Kripto Masih Terus Berkembang
Menariknya, kebangkrutan Bitcoin Depot terjadi saat industri kripto secara umum justru masih menunjukkan pertumbuhan.
Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi aset digital oleh investor institusi terus meningkat, didukung hadirnya produk investasi seperti ETF Bitcoin serta regulasi yang mulai memberikan kepastian hukum di sejumlah negara.
Meski demikian, kasus Bitcoin Depot menunjukkan bahwa perusahaan yang bergantung pada layanan fisik seperti ATM Bitcoin menghadapi tantangan berbeda, terutama ketika regulasi semakin ketat dan biaya kepatuhan terus meningkat.
Kesimpulan
Bangkrutnya Bitcoin Depot menjadi salah satu peristiwa terbesar di industri ATM kripto tahun ini. Perusahaan yang pernah mengoperasikan lebih dari 9.000 ATM Bitcoin kini harus menghentikan seluruh layanannya akibat kombinasi penurunan pendapatan, tekanan regulasi, dan persoalan hukum.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pertumbuhan industri kripto tidak selalu berjalan mulus. Di tengah meningkatnya adopsi aset digital, perusahaan tetap harus mampu beradaptasi dengan perubahan regulasi yang semakin ketat di berbagai negara
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)







