Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung

5
×

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung

Share this article
menemukan-lorong-lorong-kreatif,-belanja,-dan-kuliner-di-the-hallway-space-bandung
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Sebuah mural yang besar dan toko yang sangat menarik di tangga depan the Hallway Space

Menemukan Lorong Lorong Kreatif, Belanja, dan Kuliner di the Hallway Space Bandung | Travel & Featured | Mei 2026

Saya pertama kali mengenali the Hallway Space Bandung saat menonton unggahan salah seorang youtuber asal Bandung yang sekarang tinggal di Korea. Mata saya nyaris tak berkedip saat sang youtuber menghadirkan banyak sisi menarik khususnya keberadaan lorong-lorong kreatif, belanja, dan kuliner, yang tampak begitu instagrammable untuk difoto

Sesaat setelah nonton itu, tautannya saya bagikan kepada suami. Tentu saja dengan pesan singkat “pengen ke sini.” Itu terjadi sekitar hampir dua tahun yang lalu. Setelah itu saya malah lupa. Gak ingat sama sekali karena sudah terdistraksi oleh banyak kegiatan dan perjalanan lainnya. Padahal sempat beberapa kali main ke Bandung.

Example 300x600

Sampai suatu saat, sekitar dua bulan yang lalu, cita-cita kecil ini terwujudkan. Pas saya ingin bertamu ke salah satu perpustakaan lama yang ada di seputaran Pasar Cihapit, Bandung. Usai kunjungan ini, suami mendadak menawarkan untuk sekalian ke the Hallway Space. Tentu saja saya mengangguk dong. Ternyata dia masih mengingat janji sederhana tahunan yang lalu itu. Suami pun langsung mengarahkan kendaraan ke Pasar Kosambi, di mana the Hallway Space Bandung berada. Saya sempat lost in translation, sama sekali gak ngeh jika salah satu community center kota Bandung ini menyatu dengan pasar tradisional yang sudah berumur puluhan tahun.

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Tangga yang butuh direvitalisasi (kiri) | Di depan beberapa toko di tangga bagian dalam (kanan)
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Bagian depan atau fasad Pasar Kosambi yang penuh dengan para penjual kerupuk

Menyusur Melewati Pasar Tradisional

Saat saya tiba di kawasan Kebon Pisang, di mana the Hallway Space Bandung berada, rintik hujan perlahan mulai menderas. Padahal sedari tadi langit cerah dan udara panasnya bukan kepalang. Jalanan menuju Pasar Kosambi dari Pasar Cihapit yang kami lewati tadi lumayan padat, tapi saya tak menemukan kemacetan yang berarti. Bahkan saat tiba di Pasar Kosambi pun, parkiran di sisi samping pasar cukup lowong.

Kami masuk pasar lewat sisi samping dekat parkiran mobil itu dan langsung bertemu dengan banyak kios penjaja produk tradisional. Layaknya pasar lama, setiap sudut pasar penuh dengan kebutuhan dapur rumah tangga. Pengunjungnya cukup banyak meski tidak sesibuk layaknya pasar seperti biasanya. Saat suami bertanya kepada para pedagang tentang arah menuju the Hallway Space banyak pedagang yang tampaknya enggan untuk benar-benar mengarahkan kami. Petunjuk yang disebutkan cukup membingungkan karena beberapa tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua – di mana the Hallway Space berada – terlihat sudah tak terurus. Sampah menumpuk dengan aroma yang hampir bikin saya pingsan.

Apa salah jalan ya?

Ternyata memang saya salah arah. Jalan terbaik, tercepat, dan terasyik buat menggapai the Hallway Space seharusnya adalah lewat sisi depan pasar yang menghadap ke jalan raya. Dan itu baru saya sadari saat melangkah pulang.

Dari tempat mobil saya terparkir, harusnya tidak perlu masuk ke dalam pasar. Cukup menyusur jalan sisi luar pasar kemudian melangkah ke fasad Pasar Kosambi lalu cari signage putih bertuliskan THE HALLWAY.

Semudah itu.

Di fasad ini, kita juga akan bertemu dengan para pedagang aneka kerupuk dan camilan yang berjejer rapi dengan posisi seperti di basement gitu. Ada tangga yang berada persis di depannya. Kayaknya sih asyik juga buat nongkrong-nongkrong di tangga yang lumayan tinggi ini sambil ngobrol dan ngopi. Apalagi kalau cuaca begitu bersahabat. Kebayang kalau pas malam mingguan, sepertinya tangga duduk ini pasti jadi tempat tongkrongan. Apalagi di seputar pasar banyak yang menjual kopi, camilan, dan asupan yang harganya bersahabat.

Signage box bertuliskan THE HALLWAY tersebut ada di salah satu sudut bangunan sebagai penanda. Lokasinya berdampingan dengan parkir motor. Ikuti jejak jalan di sana yang kondisinya menanjak lalu belok kanan sedikit terus ke kiri. Udah deh langsung ketemu beberapa toko unik yang berdampingan dengan tangga atau jalan menanjak menuju lantai dua.

Di depan toko-toko tersebut, ada sebuah dinding yang penuh dengan mural. Nah langsung dah ketemu dengan spot foto pertama. Mulai dari sinilah saya kemudian menemukan lorong-lorong kreatif, tempat belanja, dan kuliner yang terlihat berjejer rapi sesuai dengan peruntukannya.

Sekarang kita lanjut ke lantai dua ya.

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Beberapa toko di samping jalan menanjak/tangga ke lantai dua
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Yang foto kanan itu adalah jalan masuk utama the Hallway Space

Saat tiba di lantai dua, kehebohan publik sedang terjadi. Keributan orang-orang berdagang terlihat hampir di sepanjang sisi tengah lahan lantai dua. Lahan kreatif yang diresmikan pada Oktober 2020 ini ternyata sedang mengadakan mini bazaar. Ada yang jual camilan, pakaian, dan aksesoris. Saya sempat beli banyak cincin dan gelang di sini. Bahannya dari Titanium yang tahan dengan oksidasi. Modelnya cakep-cakep dan cetar dengan lekuk rancangan yang tidak awam. Dan yang penting adalah menemukan beberapa ukuran yang pas dengan jari-jari saya yang mirip dengan pisang susu Lampung ini.

Suasana di bazaar ini rame banget. Transaksi perdagangan terasa begitu hidup. Percakapan dan tawar-menawar pun terdengar memenuhi zona pembicaraan. Selain menawarkan barang-barang unik, para pengunjung tampak lama melekat ke setiap open stand yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu. Tapi meskipun sedikit, perhatian pengunjung luar biasa terlihat. Terasa betul bagaimana the Hallway Space Bandung bukan sekedar pasar tapi juga tempat untuk menemukan karya-karya unik dan deretan outstanding yet unique fashion stuffs. Si bungsu sempat membeli outer dengan warna bright dan cutting yang tidak biasa. Model-model terbaru yang kebanyakan ngatung sepertinya memang digemari generasi milenial.

Di bagian tengah lorong yang panjang ini berderet bangku kayu untuk duduk-duduk dan menikmati jajanan layaknya seperti di foodcourt. Sementara di bagian pinggir, mendekat ke jendela, tampak kedai-kedai makan yang begitu beragam. Mulai dari minuman dingin, kopi, teh, berbagai hidangan nasi, mie, bakso, serta asupan kekinian. Jadi sisi yang mendekat ke jendela ini memang diperuntukkan bagi usaha Food and Beverage (F&B). Mereka hadir dengan visual kedai dan keindahan tata ruang dalam yang unik. Ada yang tampil oldest tapi ada juga yang full color dengan sentuhan meriah. Semuanya menarik perhatian. Eye catchy dengan outstanding look. Suka banget dengan kreativitas yang dihidangkan meski dalam lahan yang cukup terbatas.

Suami memutuskan untuk ngopi sembari menunggu saya berkeliling. Sembari melemparkan padangan saya pun memutuskan untuk ikutan duduk dan menikmati segelas tinggi fresh orange juice. Ada sih kedai mie yang sering disambangi oleh food vlogger dan youtuber dan ditampilkan di akun media sosial mereka. Ulasannya baik. Tapi sayang lambung saya sudah terlalu penuh. Karena sebelum ke the Hallway Space Bandung ini, saya sudah makan siang terlebih dahulu.

Saya sempat mengaso beberapa waktu sebelum melanjutkan acara memotret dan berkeliling. Memenuhi niat awal untuk menyusur serta menemukan lorong-lorong kreatif, belanja, dan kuliner. Dari tempat duduk yang persis berada di bagian tengah, saya melihat kerumunan pengunjung yang datang dengan model pakaian yang unik serta nyentrik. Termasuk penataan rambut dan alas kaki yang dikenakan. Ingatan saya tetiba meloncat ke event Indonesia Fashion Week yang biasa diadakan di Jakarta Convention Centre setiap tahunnya. Satu acara yang selalu saya lamati dan tandai dengan kehadiran para tamu yang tampil chic dengan outfit yang tidak biasa. Apalagi pas di hari itu ada fashion show dari jenama tertentu yang sudah punya nama di dunia fashion tanah air bahkan internasional. Atmosphere ruangan pameran mendadak terasa sangat berbeda.

Usai beristirahat sebentar, saya memutuskan untuk menyambangi berbagai sudut toko yang berkelompok di bagian dalam. Penasaran. Produk apa aja yang ada di sini.

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung

Tadi saat dalam perjalanan dari Cihapit menuju Pasar Kosambi, saya sempat mengintip IG @thehallwayspace_ Akun Instagram resmi dari the Hallway Space Bandung. Ruang kreatif dan ruang imajinasi yang berada di antara pasar tradisional ini tampak sering mengadakan beberapa acara untuk publik. Lorong-lorong yang dulu sepi dan hampa menjadi hidup kembali dengan spot yang berwarna. Banyak ruang seru untuk berkumpul, berbagi ide dan cerita, sembari dilengkapi oleh jajanan berlimpah dan belanja banyak produk lokal.

Kalimat terakhir itu penting banget menurut saya sih. Apalagi mengingat sudah bertahun-tahun, kita digempur oleh barang import yang harganya (bisa) terjun bebas.

Didominasi oleh sentuhan industrial di banyak lantai dan dinding, para tenant terlihat sangat kreatif mengatur ruang dalam mereka. Dengan dinding full kaca, kegiatan window shopping pun terasa menyenangkan. Kondisi yang memungkinkan (calon) konsumen untuk “ngintip” terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk masuk.

Selain pakaian, ada juga outlet yang mewarkan ruang berfoto (photo booth), penjualan kamera, sepatu dan sandal dari kulit, perfume dan produk pewangi, tas yang juga terbuat dari kulit, dan masih banyak lagi toko dengan style urban contemporer. Jika tidak salah asumsi, sebagian besar bahkan mungkin semua outlet yang buka mengajak kita untuk melongok berbagai kriya lokal.

Beberapa di antara nya ingin saya masuki tapi semakin siang jumlah pengunjung semakin membludak. Jadi butuh kesabaran untuk mengantri karena ukuran unit tokonya memang cukup terbatas.

Tempat seperti ini tuh bisa banget loh jadi tujuan liburan karena the Hallway Space Bandung bisa mengajak kita untuk berhenti sebentar dari rutinitas. Menjamu indra penglihatan, indra perasa, dan hati yang butuh masa untuk melihat, mengecap, serta merasakan nuansa yang berbeda dari apa yang bisa kita nikmati di hari-hari biasa. Apalagi tempat ini tidak menarik HTM sama sekali. Jadi jika berniat untuk sekedar datang, mencoba minuman atau makanan murah, juga sudah cukup.

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Ingin Berkunjung ke the Hallway Space Bandung

Pasar Kosambi memiliki lahan parkir yang (sangat) terbatas. Khususnya untuk kendaraan roda empat. Saya kurang paham apakah pengunjung yang membawa mobil bisa atau boleh parkir di bahu jalan yang berada persis di depan pasar dan sekitarnya. Selain izin, saya sempat melihat bahwa bahu jalan ini pun sudah dipenuhi oleh para pedagang emperan. Jadi sepertinya naik angkutan umum dan sepeda motor lebih efisien dan efektif. Atau bisa juga naik mobil atau motor lewat pesanan on-line.

Lewat pintu masuk yang benar. Karena ketidaktahuan, nyasarnya saya masuk ke dalam pasar tradisional menjadi pengalaman yang cukup menantang karena terus terang meski lantai dua yang ditempati the Hallway Space Bandung terlihat rapi dan tertata, pasar yang berada di bawahnya masih dalam kondisi yang (sangat) perlu direvitalisasi. Lampu remang-remang dengan pengolahan sampah yang butuh bantuan. Pintu yang betul adalah sisi depan menghadap jalan lalu temukan signage box bertuliskan THE HALLWAY.

Kenakan baju yang nyaman dan meresap keringat. Gaya boleh tapi perlu diperhatikan tentang kenyamanan. Ceiling the Hallway Space Bandung tuh cukup rendah dengan kondisi pendingin ruangan yang belum powerful karena masih dalam kondisi setengah terbuka. Seperti jendela warung yang harus terbuka untuk mengeluarkan asap dan bau masakan dan tangga terbuka yang menghubungkan ruangan lantai dua dengan pasar yang ada di bawahnya.

Toko-toko berkaca memiliki alat pendingin sendiri. Jadi jika mau lari sebentar dari udara sesak, masuk ke toko bisa jadi salah satu solusi. Kebayang kan jika pengunjung membludak? Apa yang kita kenakan tentunya akan berpengaruh pada kenyamanan. Nah buat yang terniat berfoto cantik, bisa deh mengatur diri agar tampil sekeren mungkin karena di sini banyak spot foto yang estetik dan instagrammable.

Satu lagi solusi untuk menghindari rasa panas dan ngap saat pengunjung penuh adalah dengan membawa kipas elektrik. Anak bungsu saya terbiasa bawa kipas ini kemana-mana dan itu lumayan membantu saat keringat mulai menderas dan hidung dihampiri oleh bau yang bikin pusing kepala.

Gunakan transaksi pembayaran digital. Rasa-rasanya sekarang sudah jarang banget orang bertransaksi menggunakan uang tunai ya. Layanan dompet digital mudah sekali kita temukan dimana-mana. Begitu pun dengan para pedagang yang berjualan di tempat ini. Kuncinya cuma jaringan internet yang mapan dan gak lemot. Tetap bawa uang tunai kalau-kalau internet ngambek dan enggan beroperasi.

Bawa tissue kering dan basah untuk ke toilet. Saya baru ketemu satu unit toilet di lantai dua ini. Dalam satu tempat ada sekitar 3-4 bilik. Sebelum masuk ada penjaga dan atau petugas yang terus mengawasi karena toilet di sini tuh masih berbayar. Kondisinya cukup bersih tapi ada baiknya kita bawa tissue sendiri. Untuk saya, kedua jenis tissue ini wajib selalu ada di tas. Kali-kali kan di toilet yang kita kunjungi tidak menyediakan atau pas kehabisan keduanya. Jika tidak salah ingat, urunan biaya kebersihan toilet ini bisa lewat dompet digital selain bayar cash.

Pendapat Pribadi

Ada satu hal yang kemerungsung di hati. Soal revitalisasi untuk pasar tradisionalnya. Pasar Kosambi sepertinya perlu mempertimbangkan masalah ini. Bisa juga dengan mengadakan studi banding dengan banyak pasar lain yang menggabungkan sentuhan tradisional dan modernitas seperti Pasar Santa yang ada di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Liputan dan ulasannya saya taruh di tautan di bawah ini ya.

Barangkali saja pemerintah Kotamadya Bandung berniat menjadikan Pasar Kosambi dan the Hallaway Space sebagai satu paket wisata yang menyenangkan bagi publik kebanyakan. Mempertahankan pasar tradisional sebagai “wajah asli” Pasar Kosambi sembari tetap menampilkan the Hallway Space Bandung sebagai sebuah ekosistem dunia kreatif dan wadah hiburan dengan wajah terbarukan bagi khalayak banyak.

Semoga nanti setelah saya datang kembali ke the Hallway Space Bandung di masa depan, ruang imajinasi di tengah pasar tradisional, ruang seru buat berkumpul, jajan, belanja, dan menumbuhkan kecintaan akan produk lokal ini, akan hadir dengan wajah yang lebih ceria dan lebih tertata lagi.

Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Salah satu kantin makanan (kiri) dan outlet cetak produk kreatif (kanan)
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Dua kedai di area jajanan
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Ada warung pempek juga (kiri) dan mini market di dekat toilet (kanan)
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Warna kedai Halodo yang cetar menyala (kiri) dan photo booth yang rame terus (kanan)
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung
Di salah satu toko baju tempat saya mampir. Koleksinya cakep-cakep deh
Menemukan Lorong Lorong kreatif, Belanja, dan Kuliner di The Hallway Space Bandung

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com