Scroll untuk baca artikel
Berita

Bos BI Ungkap Surat Berharga Tembus Rp921,88 T: Turut Jaga Rupiah

webmaster
3
×

Bos BI Ungkap Surat Berharga Tembus Rp921,88 T: Turut Jaga Rupiah

Share this article
bos-bi-ungkap-surat-berharga-tembus-rp921,88-t:-turut-jaga-rupiah
Bos BI Ungkap Surat Berharga Tembus Rp921,88 T: Turut Jaga Rupiah

Jakarta, CNN Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan volume surat berharga dalam rupiah atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kini mencapai Rp921,88 triliun, di tengah upaya bank sentral memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah akibat gejolak global.

Example 300x600

Perry mengatakan kepemilikan investor asing pada instrumen tersebut mencapai Rp221,59 triliun atau setara 24,04 persen dari total outstanding (saldo berjalan) SRBI.

“Sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (20/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Perry, BI juga menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. Per 13 Mei 2026, suku bunga SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 6,21 persen, tenor sembilan bulan 6,31 persen, dan tenor 12 bulan sebesar 6,45 persen.

Ia mengatakan penguatan instrumen moneter tersebut dilakukan di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang memicu pelarian modal dari negara berkembang.

“Berbagai respons kebijakan yang ditempuh dapat mendorong kembali masuknya investasi portofolio asing,” katanya.

[Gambas:Youtube]

Perry menyebut pada kuartal II 2026 hingga 18 Mei 2026, aliran modal asing tercatat masuk atau net inflows sebesar US$5,5 miliar. Arus modal itu terutama masuk ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) seiring meningkatnya imbal hasil kedua instrumen tersebut.

BI sebelumnya memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam RDG Mei 2026. Langkah itu ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya gejolak pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.

(lau/ins)

Add as a preferred
source on Google