Indonesiainside.id – Pelaksanaan ibadah haji 1445 H/ 2024 M telah usai. Jemaah asal Indonesia telah kembali ke Indonesia. Di balik kesuksesan pelaksanaan haji tersebut, selain pemerintah Ri (Kementerian Agama dan BPKH), DPR serta stakeholders lainnya.
Ada satu lembaga yang tidak bisa diremehkan atas suksesnya pelaksanaan ibadah tahun 2024 ini. Lembaga tersebut adalah BPKH Limited, anak usaha Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang fokus menjalankan bisnisnya dalam membantu Jemaah haji Indonesia baik di Makkah maupun Madinah.
Kerja besar telah dilakukan BPKH Limited selama musin haji 1446 H/2024 M. Mulai dari mengirim 76 ton bumbu khas Indonesia, menyewakan area lobi dan restoran di hotel-hotel di Makkah serta rencana mengelola sendiri sejumlah hotel di Arab Saudi guna memenuhi kebutuhan akomodasi haji Indonesia.
76 Ton Bumbu Khas Indonesia
Pengiriman 76 ton bumbu khas Indonesia ini merupakan tindak lanjut dari Quick Win Project yang telah di launching sebagai langkah untuk meningkatkan layanan haji dan umrah. Direktur BPKH Limited Sidiq Haryono menegaskan bahwa bumbu tersebut telah didistribusikan ke seluruh katering di Madinah dan Makkah untuk para jemaah haji.
“Alhamdulillah, setidaknya dari kebutuhan 300 ton, kita sudah memenuhi sebesar 76 ton atau kurang lebih sebesar 25 persen TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri),” ujar Sidiq berdasarkan informasi yang diterima Jumat (26/7/2024).
Dia memaparkan bahwa peningkatan layanan haji dan umrah dari sisi pasokan bahan makanan yang dikirimkan dari Indonesia merupakan proyek yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia.
“Ini adalah pogram TKDN, program tingkat kandungan dalam negeri yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia,” ujarnya. “Insya Allah tahun ini menjadi tahun pertama BPKH Limited hadir secara serius. Saat ini kami telah memiliki kantor pusat yang ada di Burj Mawasim, berlokasi di daerah Mekkah.”
Sewakan Area Lobi dan Restoran untuk UMKM
Sidiq mengatakan bahwa BPKH Limited telah berinvestasi di bidang akomodasi terutama di sejumlah hotel di Makkah. Jumlah akomodasi hotel yang disewakan ke UMKM naik signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya 18 Hotel. Upaya ini sebagai langkah efisiensi dengan mengoptimalkan sejumlah area dalam hotel yang bisa dikomersialkan.
“Alhamdulillah, tahun ini kita sudah menyewakan lebih dari 120 lokasi ke beberapa UMKM. Rata-rata memang UMKM diaspora Indonesia,” kata Sidiq. “Kalau di lobi itu bisa digunakan untuk toko-toko, toko suvenir, toko kebutuhan harian,” katanya.
Sedangkan untuk area restoran disewakan kepada para pengusaha UMKM yang kebanyakan mereka adalah diaspora dari Indonesia. Produk yang dijual adalah produk- produk makanan khas Indonesia. Ada Soto Seger Boyolali, Bakso Mang Udin, dan lain-lain.
Sidiq menegaskan, apa yang dilakukan BPKH Limited ini untuk efisiensi komponen biaya akomodasi pelaksanaan haji tahun ini. Tujuan lainnya adalah ingin menghadirkan makanan khas Nusantara yang itu mungkin bisa mengobati para jemaah haji yang merindukan rasa makanan yang khas Nusantara.
Tahun Depan Kelola Hotel di Arab Saudi
Sebelumnya, BPKH Limited menargetkan tahun depan bisa mengelola sejumlah hotel di Arab Saudi yang dapat melayani 10 ribu peserta calon haji Indonesia. Sidiq mengatakan investasi pada akomodasi hotel menjadi prioritas, agar pemerintah Indonesia tidak hanya menjadi konsumen.
“Pengelolaan atas hotel saat ini menjadi prioritas utama BPKH Limited. Bagaimana BPKH Limited bisa menciptakan price control,” ujarnya.
“Bisa dibayangkan setiap tahun ada kebutuhan penggunaan hotel, harga hotel kan terus naik. Kalau kita tidak memiliki investasi pada hotel, kita hanya sebagai konsumen. Dan itu sangat rentan bagi sustainabilitas keuangan haji,” jelas Sidiq.
Target tersebut akan dilakukan secara bertahap mulai tahun depan. Ia menargetkan bisa memenuhi kebutuhan 10 persen dari komponen biaya akomodasi hotel.
Saat ini ada 170 hotel di Makkah. BPKH Limited berharap tahun depan bisa memiliki hotel yang dikelola sendiri oleh BPKH Limited dengan kapasitas paling tidak 10 ribu jemaah haji. Artinya, memiliki hotel sendiri itu bukan membangun hotel di Arab Saudi. Selain biayanya sangat mahal, secara perundangan-undangan di Arab Saudi juga tidak memungkinkan.
Hasil dari kajian, ada enam model bisnis di akomodasi perhotelan dengan bervariasi tingkat risiko dan returnnya. Untuk saat ini, lebih fokuskan pada model pertama. Model bisnis perhotelan yang mungkin diterapkan adalah kontrak jangka panjang hotel selama musim haji. Sehingga pengelolaan gedung dan manajemen BPKH Limited yang mengelola.
“Bangunan itu kita kelola sendiri dengan operator, manajemen hotel kita kelola sendiri sehingga bisa menciptakan hotel yang berkuasa untuk warga Indonesia dan secara benefitnya juga cukup bagus, ditambah lagi nilai investasinya masih acceptable, masih memungkinkan,” katanya.
Untuk tahun depan, ditargetkan bisa memenuhi 10 ribu tempat tidur. Berapa banyak hotel yang akan disewa?
“Nah ini tergantung dengan kapasitas hotelnya, ada saat ini yang digunakan oleh Kemenag ada hotel dengan kapasitas 1.000 kamar tidur per hotel, berarti kita sewa 10 hotel. Tapi kalau ada hotel kapasitas 2.000 atau bahkan 5.000 berarti kita cukup dua atau tiga hotel saja,” pungkas Sidiq. (nia)







