
Foto: The Verge
Teknologi.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI, pemerintah China mulai mengambil sikap lebih hati-hati terhadap kemunculan agen AI bernama OpenClaw. Teknologi berbasis open-source tersebut kini menjadi sorotan setelah sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan milik negara di China memperingatkan pegawainya agar tidak memasang aplikasi OpenClaw di perangkat kerja.
Langkah tersebut dilakukan karena adanya kekhawatiran terkait keamanan data dan potensi penyalahgunaan akses sistem. Meski sebelumnya sempat mendapat sambutan positif, kini OpenClaw justru dianggap memiliki risiko yang cukup serius bagi lingkungan pemerintahan dan sektor strategis.
Apa Itu OpenClaw?
OpenClaw Github merupakan agen AI open-source yang dirancang untuk bekerja secara mandiri dalam menjalankan berbagai tugas digital. Berbeda dengan chatbot AI biasa yang hanya menjawab pertanyaan pengguna, OpenClaw dapat melakukan tindakan langsung di perangkat komputer atau server. Teknologi ini mampu mengontrol browser, menjalankan terminal, mengelola file, hingga mengoperasikan sistem komputer secara otomatis.
Bahkan, pengguna dapat memberikan perintah melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp atau Telegram. Karena kemampuannya tersebut, OpenClaw sering disebut sebagai “asisten digital otomatis” yang bisa bekerja selama 24 jam tanpa banyak campur tangan manusia.
Baca juga: Aturan Baru FCC 2026: AS Larang Lab China Uji Gadget, Harga HP Bakal Naik?
Berawal dari Clawdbot hingga Jadi OpenClaw
Teknologi ini pertama kali muncul di GitHub pada November 2025 dengan nama Clawdbot. Seiring pengembangannya, proyek tersebut sempat berganti nama menjadi Moltbot pada Januari 2026 sebelum akhirnya resmi menggunakan nama OpenClaw. Dalam waktu singkat, OpenClaw berhasil menarik perhatian komunitas teknologi global.
Banyak pengembang tertarik karena AI ini mampu membantu otomatisasi pekerjaan dengan lebih praktis dan efisien. Popularitasnya juga meningkat karena sifatnya yang open-source, sehingga siapa pun dapat memodifikasi atau mengembangkan sistem sesuai kebutuhan masing-masing.
Sempat Didukung Pemerintah Daerah di China
Sebelum muncul kekhawatiran keamanan, OpenClaw sebenarnya sempat mendapat dukungan cukup besar di China. Berbagai startup AI, perusahaan teknologi, hingga pemerintah daerah mulai bereksperimen menggunakan teknologi tersebut. Kota-kota pusat teknologi seperti Shenzhen bahkan disebut memberikan subsidi kepada perusahaan yang mengembangkan aplikasi berbasis OpenClaw.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari strategi nasional China bernama “AI Plus”, yaitu program yang bertujuan mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri dan ekonomi. Namun, di tengah antusiasme tersebut, regulator pusat di Beijing mulai melihat adanya potensi ancaman keamanan yang tidak bisa diabaikan.
Kekhawatiran soal Akses Data dan Sistem
Menurut sejumlah laporan, pemerintah China khawatir OpenClaw memiliki akses terlalu luas terhadap perangkat pengguna. Agar dapat bekerja secara otomatis, AI ini memang membutuhkan izin untuk mengakses data, aplikasi lain, hingga jaringan internet. Hal inilah yang memicu kekhawatiran terkait kebocoran data sensitif maupun penyalahgunaan akses oleh pihak luar.
Selain itu, para pakar keamanan siber juga menilai kombinasi antara akses sistem yang luas dan koneksi ke jaringan eksternal dapat membuka celah keamanan baru. Risiko lain yang ikut disorot adalah kemungkinan penghapusan data secara tidak sengaja akibat kesalahan perintah atau proses otomatisasi AI.
Pegawai Pemerintah Mulai Dibatasi
Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan milik negara di China kini mulai menerapkan pembatasan penggunaan OpenClaw. Pegawai disebut diminta untuk tidak memasang aplikasi tersebut di komputer kantor maupun perangkat pribadi yang terhubung dengan jaringan kerja.
Bahkan, beberapa pegawai yang sudah terlanjur menginstal aplikasi diminta melapor kepada atasan agar perangkat mereka dapat diperiksa lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, pembatasan juga disebut berlaku untuk keluarga personel militer demi mengurangi risiko keamanan tambahan.
Meski demikian, tidak semua lembaga menerapkan larangan total. Ada juga instansi yang masih mengizinkan penggunaan OpenClaw dengan syarat mendapatkan persetujuan khusus terlebih dahulu.
Baca juga: Kalah di Pengadilan, Perusahaan di China Dilarang Pecat Karyawan demi AI
China Masih Bereksperimen dengan AI Agent
Menariknya, meski muncul pembatasan di tingkat pusat, beberapa pemerintah daerah di China masih tetap bereksperimen dengan teknologi AI agent seperti OpenClaw. Salah satunya adalah distrik Futian di Shenzhen yang dilaporkan menggunakan teknologi tersebut untuk membantu pekerjaan administrasi pegawai pemerintah.
Hal ini menunjukkan bahwa China belum sepenuhnya menolak AI agent, melainkan mencoba mencari keseimbangan antara inovasi teknologi dan keamanan sistem.
Kasus OpenClaw memperlihatkan bahwa perkembangan AI tidak hanya membawa peluang besar, tetapi juga tantangan baru dalam hal keamanan digital. Di satu sisi, teknologi seperti OpenClaw mampu meningkatkan efisiensi kerja dan otomatisasi sistem.
Namun di sisi lain, akses luas yang dimiliki AI tersebut juga menimbulkan risiko serius jika tidak diawasi dengan ketat. Langkah hati-hati China ini menjadi gambaran bagaimana negara-negara mulai memikirkan regulasi dan batas penggunaan AI, terutama ketika teknologi tersebut memiliki kemampuan mengakses sistem penting dan data sensitif pengguna.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)







