Scroll untuk baca artikel
Berita

PBSI 75 Tahun: Semakin Tua, Semakin Sering Puasa Juara

webmaster
4
×

PBSI 75 Tahun: Semakin Tua, Semakin Sering Puasa Juara

Share this article
pbsi-75-tahun:-semakin-tua,-semakin-sering-puasa-juara
PBSI 75 Tahun: Semakin Tua, Semakin Sering Puasa Juara

Jakarta, CNN Indonesia

Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi berusia 75 tahun hari ini, 5 Mei 2026. Semakin tua, PBSI justru semakin sering membawa bulu tangkis Indonesia puasa gelar-gelar bergengsi di dunia.

Example 300x600

Seminggu sebelum PBSI menginjak usia 75 tahun, Indonesia mendapat kejutan besar. Indonesia gagal lolos ke perempat final Thomas Cup 2026 meskipun berstatus sebagai unggulan kedua. Seperti menabur garam di atas luka, Indonesia tersingkir usai kalah dari Prancis, negara yang tidak punya riwayat sebagai tim kuat di gelaran Thomas Cup sebelumnya.

Kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026 adalah bukti terakhir bahwa bulu tangkis Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kering gelar, gagal juara, dan tak punya wakil di final makin sering terdengar dalam perjalanan Tim Badminton Indonesia di sejumlah turnamen BWF Tour beberapa waktu belakangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini membuat PBSI yang sudah berusia 75 tahun, justru sering membawa Indonesia makin rutin menjalani puasa gelar juara.

Bulu tangkis gagal menyumbangkan medali emas di Olimpiade 2024, mengulang catatan di 2012.

Sejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan jadi juara dunia 2019, Indonesia belum lagi memiliki juara dunia hingga saat ini.

Indonesia gagal total di Asian Games 2022, tanpa medali apapun yang dibawa pulang.

Dalam dua edisi terakhir, tak ada pemenang asal Indonesia di Kejuaraan Asia.

Sedangkan sejak 2025, hanya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang bisa jadi pemenang di turnamen Super 750 ke atas, tepatnya di China Open yang merupakan kategori Super 1000.

Deret kegagalan ini bukan semata hanya karena kalah di lapangan atau lawan tampil lebih baik. Namun memang ada kemunduran dari para pebulutangkis Indonesia.

Sehingga pada akhirnya, gagal juara menjadi sebuah hal biasa dan bisa diduga sebelumnya. Karena bahkan di atas kertas pun, Indonesia sudah tidak diperhitungkan.

Putri Kusuma Wardani saat tampil di perempat final Uber Cup antara Indonesia vs Korea. (Arsip PBSI)Putri Kusuma Wardani jadi salah satu dari sedikit pemain Indonesia yang masuk 10 besar.  (Arsip PBSI)

Yang di maksud di atas kertas adalah kondisi pebulutangkis Indonesia saat ini. Terhitung ranking per 5 Mei, hanya Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang ada di posisi lima besar. Sedangkan untuk zona 10 besar, nama itu bertambah oleh Putri Kusuma Wardani, Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu.

Bahkan jumlah wakil yang dikirim ke turnamen level atas bisa jadi gambaran. Saat ini, jumlah pemain Indonesia yang bisa tembus kualifikasi turnamen level atas makin terbatas.

Dengan tipisnya jumlah pemain yang beredar di level elite, jelas kemudian terasa jadi normal ketika tidak ada pemain yang bisa membawa pulang gelar.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>

Add as a preferred
source on Google