Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

140
×

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

Share this article
jejak-jejak-literasi-di-pasar-buku-palasari-bandung
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

Salah seorang teman lama menghubungi saya setelah membaca sebuah artikel yang saya tulis tentang memori akan pasar buku bekas yang ada di Senen, Jakarta.

“Memang ye kenangan kenangan kito dengan wong tuo tuh selalu berkesan,” ulas si teman dengan suara pelan. Tampak berhati-hati dalam berbicara karena dia tahu persis bahwa almarhum Ayah adalah salah seorang yang menjadi bagian penting dari rangkaian hidup saya. Kebetulan, saat dia menelepon, dia belum lama kehilangan sang Ayah tercinta. Dan kabar itu dia beritakan langsung sekaligus menuntaskan rindu karena kami sudah lama, bahkan tahunan, tidak ngobrol.

Example 300x600

“Aku inget nian cerito awak soal pasar buku bekas di Senen itu,” ujarnya lagi. “Gara-gara itu jugo lah aku laju teringat dengan pasar buku bekas yang ado di Bandung. Dulu ayah aku pernah ngajak aku ke sano.”

Maka mengalirlah secuil kisah tentang kunjungannya ke Palasari puluhan tahun yang lalu. Sekitar menjelang akhir 1980-an dimana kami menjelang lulus SMA. Kebetulan kami memang seumuran dengan tahun angkatan SMA yang sama. Hanya saja kami berpisah cukup jauh. Saya menamatkan SMA di Malang, sementara dia tetap di Palembang, tanah kelahiran kami.

Menurut ceritanya lagi, dulu, saat liburan, dia diajak sang Ayah untuk berkunjung ke rumah salah seorang saudara (adik Ayahnya) di kota Bandung. Liburan panjang kenaikan kelas 3 (sekarang dihitung sebagai kelas 11). Salah satu tempat yang dia kunjungi saat di Bandung adalah Pasar Palasari.

Besak nian pasarnyo Nie. Ado banyak penjual buku di lantai pucuknyo itu,” celotehnya lagi dengan penuh semangat.

Maka cerita panjang tentang kenangan selama main ke pasar buku Palasari mengalir dengan lancarnya. Memiliki hobi membaca yang sama dengan saya, topik tentang pasar buku selalu menarik dan seru bagi kami berdua. Pun saat dia membandingkan dengan apa yang dia alami saat dia pernah berada di pasar buku bekas di daerah Senen.

Tak lama setelah pembicaraan ini, saya kemudian menyampaikan niat untuk ke pasar buku Palasari kepada suami.

“Dulu juga aku sering ke situ untuk cari buku cetak sekolah. Dari zaman SD sampai kuliah malah. Di sana tuh buku bisa ditawar. Beda dengan kalau beli di toko buku besar. Entah sekarang masih ada gak ya .” ungkap suami yang beberapa menit kemudian menghubungi salah seorang anggota keluarga besar yang rumahnya tak jauh dari kawasan Palasari. Mendapatkan kepastian bahwa pasar buku Palasari masih ada, saya pun mengatur waktu agar sempat mampir di serangkaian acara ke Bandung dalam waktu dekat. Kebetulan di akhir pekan yang bersangkutan, saya dan suami sudah mengatur beberapa acara di beberapa tempat sekaligus.

Sepanjang perjalanan dari hotel menuju Palasari, suami juga berkisah bahwa pasar buku ini telah banyak membantu nya dalam menyelesaikan pendidikan. Sebagai anak yatim sedari usia 12 tahun dan hidup pas-pasan, beli buku di sini tentunya sesuai dengan kemampuan kantong. Saya terdiam dalam keharuan.

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

Menyusur Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari

Usia menuntaskan urusan administrasi untuk check-out dari hotel, suami langsung memetakan arah menuju kawasan Palasari. Tak jauh sejatinya. Tapi suami tetap menjalankan kendaraan dengan perlahan agar bisa mengenali setiap sudut jalan dengan baik dan tidak tersesat. Hal ini bisa saya pahami karena dia sudah puluhan tahun tidak pernah ke daerah ini lagi. Setidaknya setelah menamatkan pendidikan S1 di ITB, meneruskan S2, dan merantau ke banyak tempat. Jika pun kembali ke Bandung, tidak sesering sekarang karena dulu sebagian besar tugasnya adalah berkeliling kesana-kemari.

Kami ke kawasan Palasari di hari Minggu pagi. Jalanan begitu lowong dan kami langsung parkir di pinggir jalan yang kosong yang diarahkan oleh seorang petugas. Tempatnya persis di depan sebuah kios buku. Di sebelahnya ada kedai kopi serta warung masakan padang yang mulai menghadirkan masakannya satu persatu di sebuah kotak kaca. Diantara kesibukan ini harum wangi kopi yang baru diseduh langsung menyeruak. Di depan kios kopi ini ada beberapa meja kecil dan bangku kayu. Wah, saya langsung membayangkan betapa asiknya ngobrol atau membaca di kedai ini sambil menyeruput kopi.

Sayangnya lambung saya sudah terlalu penuh dengan sarapan di hotel tadi. Bahkan saya sempat duduk sebentar, nonton tv di dalam kamar sembari kembali menyeduh kopi hitam.

Dalam rangka menghormati pemilik kios yang sisi depannya kami gunakan untuk parkir, saya menyempatkan diri mampir dan melihat berbagai koleksi buku yang dia miliki. Meski terlihat padat dengan tumpukan buku di sana-sini, kondisinya masih terlihat cukup teratur. Setidaknya dengan caranya menyusun, saya masih bisa menikmati judul buku dari sisi samping dengan jelas.

Setelah bermenit-menit ngobrol dan menelusur koleksinya, akhirnya ya mengambil sebuah buku yang berjudul “The Terracota Army. China’s First Emperor and the Birth of a Nation” yang ditulis oleh John Man. Seorang sejarawan dan travel writer yang bermukim di London. Menilik banyaknya buku yang beliau tulis dan diberitakan di bagian profil, saya jadi (sangat) tertarik pada beliau. Nama besarnya dalam bidang literasi menjadikan beliau salah seorang penulis dan sejarawan dunia yang tulisannya paling banyak dibaca. Fix. Merampungkan buku ini, saya akan membeli dan menelusur buku-buku lainnya seperti “The Great Wall,” “The Leadership Secrets of Genghis Khan,” dan masih banyak lagi. Buku yang diterjemahkan lalu dicetak di Indonesia pada 2017 dan dijual kepada saya seharga Rp25.000,00 ini tampak sudah menua disana-sini dengan hadirnya fleks pada beberapa lembar buku. Saya tak masalah. Justru saya bahagia mendapatkannya karena rahasia Terakota adalah salah satu kisah sejarah yang ingin sekali saya baca. Tentu saja dengan harapan suatu saat, entah kapan, saya bisa menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri, menginjakkan kaki di Xi’an dimana Terakota berada.

Usai melewati beberapa kios buku yang mulai buka satu persatu, saya melangkah ke sisi dalam pasar buku Palasari. Di sini terdapat lorong panjang membentang. Hari masih begitu pagi dan belum ada penerangan yang mumpuni untuk melihat rangkaian kios ini dengan rinci. Hanya ada beberapa kios yang buka dan mereka mengandalkan lampu pribadi untuk mulai berdagang.

Saya melangkah pelan dan berharap menemukan buku-buku bekas lain yang sesuai dengan selera dan harapan. Tapi sebagian besar kios yang buka didominasi oleh berbagai buku sekolah. Mulai dari paud hingga perguruan tinggi. Kualifikasi ilmunya juga beragam. Sains (matematika, fisik, kimia) dan berbagai ilmu sosial (sejarah, PKN, bahasa, dan lain-lain). Bertebaran juga buku-buku latihan soal untuk semua tingkatan pendidikan. Saya juga sempat terkesima dengan banyak buku persiapan CPNS, IELTS, dan masih banyak lainnya.

Di setiap langkah, para penjual dengan ramah menyapa. Ada satu kalimat yang begitu berkesan di hati dan selalu muncul dari mulut mereka.

“Cari buku apa Bu? Nanti saya bantu. Kalau gak ada di kios saya, nanti tak carikan di kios teman-teman yang lain.”

Saya membalas sapaan tersebut dengan anggukan seramah mungkin. Mendadak menyesal kenapa ya gak bikin daftar buku-buku yang lama saya cari. Siapa tahu kan ada di sini? Dan eh mendengar itu perasaan saya seketika merasakan semangat bagaimana para penjual di sini memiliki rasa kebersamaan yang tidak dapat dibantah. Setidaknya saling tolong menolong dan tidak membiarkan para tetamu tidak atau susah mendapatkan buku yang diinginkan.

Melangkah keluar di sisi pasar yang berbeda, saya menemukan sebuah kios khusus yang melayani penyampulan buku. Lalu lagi-lagi ketemu sebuah kedai kecil yang semriwing dengan harumnya kopi. Suami sempat memperhatikan saat si Mas penjaga kedai sedang menggiling kopi lalu menyeduhnya dengan penuh hikmat. Kemampuan atau skill yang tentu saja wajib dipelajari dan dikuasai dengan baik.

“Mau ngopi dulu?” tawar saya kepada suami sekali lagi.

“Nanti aja deh pas mau pulang,” ujarnya lugas. Saya setuju. Biar khatam dulu kelilingnya, beli beberapa buku, lalu duduk sembali menyimak lembar demi lembar buku tersebut. Lebih santai dan asik pastinya. Oia di bagian belakang sini, saya menemukan beberapa kios yang melayani pembuatan sertifikat dan piala serta buku Yassin. Bahkan ada satu kios yang lumayan besar yang khusus menjual mushaf Qur’an dan banyak buku Islami dari berbagai sumber. Dari sebuah buku kecil (buku saku), berukuran sedang, hingga Qur’an besar yang pasti lebih nyaman untuk dibaca. Ada sederetan motor terparkir di depan kios ini dengan kesibukan packing yang terus silih berganti.

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

Ketemu Pasar Tradisional

Mengikuti suami yang tetap melangkah maju, saya kemudian menemukan sebuah lapangan besar persis di depan kios ini. Wah ternyata di sinilah tempat parkir yang sesungguhnya. Tapi ya sudahlah ya masak balik lagi terus bela-belain mindahin mobil ke sini.

Tak diduga, di area yang satu ini suami justru bertemu dengan tempat favoritnya. Apa itu? Pasar tradisional (pasar sayur dan buah) yang ternyata luas dan menyenangkan. Saya sempat memutuskan untuk tidak ikut ke dalam dan duduk di sebuah warung yang ada di pelataran depan. Asiknya ada sebuah kulkas besar yang menyimpan beraneka minuman dingin. Pas banget. Tenggorokan sudah meraung-raung kekeringan dan minta segera “diobati.” Mata saya pun sudah melekat, tak mampu beralih dari berbotol-botol minuman dingin tersebut.

Dan eeehh baru aja neguk setengah botol ternyata suami malah balik dan mengajak (baca: memaksa) saya ikut masuk ke dalam pasar.

“Tenang aja. Pasarnya bersih kok. Gak ada bau-bau gak enaknya.” ujarnya seakan mengerti apa yang saya pikirkan.

Omongan suami ternyata benar. Untuk sebuah pasar tradisional beratap rendah dan dalam kondisi padat, pasar ini cukup bersih dan semu dagangan tertata apik. Di barisan depan ada sebuah kios yang menjual piring, mangkok, gelas, cangkir, yang cantik-cantik dengan design yang unik. Saya mendadak berada di sebuah lahan kebahagiaan karena bisa nambah properti food photography.

Suami? Khusuk banget di beberapa kios yang menjual berbagai kebutuhan dapur. Mulai dari bumbu sampai sayur. Bahagia banget dia kayaknya bisa blusukan di setiap kios tersebut. Asiknya lagi setiap kios punya materi jualan yang berbeda-beda. Dikelompokkan juga dari golongan basah dan kering. Jadi genangan air tak mencampuri mereka yang berjualan bahan-bahan kering di bagian depan.

Pulang pun dengan langkah-langkah senang dan wajah berbinar-binar.

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Dari sisi depan pasar tradisional Palasari
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Suami yang asik milih aneka bumbu dan sayur segar. Di kios ini pembayaran bisa dilakukan secara digital. Jempol deh untuk kemudahannya
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Terlihat kan bersihnya pasar tradisional Palasari?

Melestarikan Industri Penerbitan Buku

Berjalan balik menuju tempat kami awal datang tadi melewati jalur yang berbeda, alih-alih mampir ke warung kopi, perhatian kami malah teralihkan ke penjual kelapa muda. Wah kebetulan banget. Setelah tadi belum tuntas meneguk minuman dingin di depan pasar tradisional, saya dan suami menyediakan waktu untuk duduk lalu memesan kelapa muda yang dicampur dengan sedikit es. Manis naturalnya air kelapa muda dan daging kelapanya yang lembut sungguh menyenangkan dan mampu mengurai panasnya udara sesiangan itu.

Duh klop banget suasananya.

Sembari minum tadi, saya melirik ke arah sebuah kios buku yang berada tak jauh dari penjual kelapa muda ini. Kiosnya terlihat ramai oleh pengunjung. Tumpukan bukunya menjulang tinggi dengan kesibukan yang tak terkira. Saya memutuskan untuk mampir ke kios tersebut lalu kemudian larut dengan puluhan atau mungkin ratusan buku yang tersusun sangat menarik. Ternyata memang semenarik itu karena si Mas penjual tampak seperti ensiklopedia berjalan. Saya tak bisa menyembunyikan kekaguman saya sembari menunggu dia agak lapang untuk melayani saya. Penasaran pengen mengajak dia ngobrol soal buku.

Benar saja. Si Mas ini sungguh mumpuni pengetahuannya soal perbukuan. Kalau tidak diingatkan suami untuk mencapai tujuan berikutnya, mungkin saya betah ngobrol dengan dia sampai sore hari. Gimana enggak? Dari penampilannya yang santai dengan rentang waktu menjual buku yang sudah hampir setengah umurnya saat itu, si Mas ini dengan sabar melayani konsumen satu persatu yang sibuk bertanya ini dan itu.

Entah dari dan karena apa mulainya, saya akhirnya menceritakan bahwa saya sendiri juga sudah bertahun-tahun terlibat dalam dunia literasi. Berawal dari kecintaan akan buku sedari kecil, senang membuat karya tulisan, menyukai dunia bahasa sedari SD, sempat merasakan honor kecil-kecilan karena cerpen yang saya buat kemudian diterbitkan beberapa koran dan majalah, lalu serius menjadi blogger, menghadiri/mengikuti pelatihan menulis dengan banyak guru, hingga akhirnya sampai ke tahap ini. Saya bahkan sempat menunjukkan akun blog saya dan langsung dia baca.

“Teruslah menulis Bu. Saya mendoakan dari tiga lembar artikel di blog akhirnya bisa menerbitkan banyak buku solo dan antologi. Yakin saya, atas izin Allah, Ibu bisa menjadi penulis yang disegani di jagad literasi tanah air,” ujarnya ramah. Saya tergugu. Bukan hanya pada kalimat-kalimat baik yang dia sampaikan tapi serangkaian doa dan harapan yang terselip di sana. MashaAllah saya langsung terharu dan bersegera meng-amin-kan apa yang dia sampaikan.

Obrolan kami pun berlanjut dengan kondisi produk literasi pada saat ini. Terselip serangkaian kata dan kalimat kekhawatiran bahwa perlahan produk buku fisik/cetak mulai tergerus secara perlahan oleh media on-line yang tumbuh menjamur dari waktu ke waktu. Sayangnya, dibalik industri berita yang semakin maju, budaya membaca masyarakat kita tampaknya semakin menurun. Hal ini dia ungkapkan sembari menyebutkan beberapa sumber penelitian yang sudah dia baca sebelumnya.

“Berapa orang sih Bu generasi sekarang yang rajin beli buku dan membacanya?” tanggapnya pilu. “Penjualan di sini pun tidak serame dulu,” ujarnya lagi. Dengan kesadarannya yang tinggi dia juga merasakan bagaimana usaha-usaha besar di dunia publishing yang pelan tapi pasti “memukul mundur” orang-orang seperti mereka.

“Loh bukannya sekarang kebutuhan buku pelajaran makin banyak Mas? Setiap tahun buku ajar terus berganti. Termasuk buku-buku LKS, buku latihan soal yang wajib dimiliki oleh anak-anak sekolah.”

“Ada unsur monopoli juga Bu,” jawabnya taktis tanpa menghakimi. “Kalo kami yang cekak modal seperti ini kan tetap jadi pilihan terakhir. Lahan pelanggan kami kan juga terbatas.”

Saya tak menggangguk atau pun menolak teorinya. Pada kenyataannya memang begitu kok. Hembusan berita akan hal ini sepertinya sudah jadi rahasia umum.

“Jangan khawatir Mas.” jawab saya dengan senyuman semanis mungkin. “Setahu saya sekarang banyak loh publisher mandiri yang giat menerbitkan buku. Saya juga kalau melahirkan buku solo dan buku antologi bareng teman-teman penulis, selalu menghubungi mereka. Indie Book yang sesuai dengan harapan kita sebagai penulis. Kapan ya kalau ada rezeki saya pengen nitip buku-buku karya saya di sini. Siapa tahu pasar buku Palasari bisa jadi salah satu sumber pembelian buku-buku saya.”

Penjelasan saya ini disambut dengan wajah gembira yang tulus.

Obrolan kami kemudian berakhir saat si Mas menutup semua diskusi dengan satu kalimat panjang yang makjleb. “Sampaikan salam saya kepada teman-teman penulis Ibu ya. Jangan lupa aktif membaca sebelum melahirkan tulisan. Membaca bikin tulisan jadi lebih renyah, lebih bergizi, dan lebih berbobot.”

Saya tersenyum lebar, mengangguk, dan mengacungkan jempol. Suami pun tampak tersenyum dari kejauhan sembari menghirup seplastik besar air kelapa muda dingin yang dia pegang erat-erat.

Sembari berjalan ke arah parkiran saya menyelipkan doa agar pasar buku Palasari terus lestari dan menjadi sumber nafkah yang menjanjikan bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Di sinilah salah satu pelestarian buku cetak itu berjalan dari masa ke masa.

Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Perbumbuan, sayur, dan buah yang ada di salah satu kedai pasar tradisional Palasari
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Penjualan perlengkapan makan yang unik dan cantik-cantik di pasar tradisional Palasari
Jejak-Jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung
Gerobakan si penjual es kelapa muda di Palasari. Melimpah dan katanya sehari bisa habis dua gerobak itu