Ringkasan:
-
Deja vu adalah pengalaman yang umum dan singkat, seringkali hanya berlangsung beberapa detik dan berasal dari sistem memori yang tumpang tindih.
-
Hipokampus memainkan peran penting dalam deja vu, dengan aktivitas abnormal yang menyebabkan otak salah memberi label pada pengalaman saat ini.
-
Orang dewasa muda lebih sering mengalami deja vu, dengan adegan serupa dan stres yang berpotensi memicu episode ini.
Deja vu, perasaan aneh bahwa Anda pernah mengalami sesuatu sebelumnya, telah membingungkan banyak orang sepanjang sejarah, dan sering kali dikaitkan dengan cerita rakyat atau fantasi. Namun, ilmu saraf saat ini dapat memberikan penjelasan yang lebih pasti dengan menyebutkan gangguan sementara yang dialami otak dalam hal memori dan keakraban. Ini adalah episode singkat dari kejang mendadak yang menimpa sebagian besar individu pada satu waktu meskipun mereka yang berusia dewasa muda adalah yang paling terkena dampaknya. Berikut adalah 10 fakta utama mengenai penelitian terkini yang dapat digunakan untuk mengungkap fenomena mental yang menarik ini.
Ini adalah Pengalaman yang Umum dan Berumur Pendek
Mayoritas individu mengalami deja vu dalam beberapa kasus. Episode-episodenya tidak memakan waktu lama; biasanya hanya berlangsung beberapa detik dan cepat hilang dan orang bertanya-tanya apakah itu pengalaman nyata atau mimpi.
Sistem Memori Tumpang Tindih Secara Singkat
Para ilmuwan berpendapat bahwa terjadinya deja vu adalah akibat dari suatu pemaksaan dalam pemrosesan memori di otak. Tumpang tindih sementara sistem persepsi dan pengambilan menghasilkan penandaan informasi sensorik yang baru diserap sebagai memori yang diingat.
Pentingnya Hipokampus
Area otak seperti hipokampus dan sekitarnya, yang terlibat dalam pembentukan dan mengingat kenangan, sangat terlibat. Aktivitas atau sinyal abnormal pada struktur ini dapat mengakibatkan otak memberi label pada pengalaman saat ini sebagai pengalaman masa lalu.
Sinyal Keakraban Menembak Tanpa Memori
Otak biasanya dipicu untuk menghasilkan sinyal keakraban ketika objek tersebut mirip dengan memori yang disimpan. Dalam deja vu, indikator seperti itu memicu alarm palsu – membentuk ilusi pengenalan tanpa ingatan apa pun di baliknya.
Adegan Serupa Dapat Memicu Perasaan
Deja vu dapat ditimbulkan oleh lingkungan atau situasi baru yang sedikit mirip dengan sebelumnya (penataan ruangan, cahaya, suara atau pola percakapan). Bahkan ketika ingatan asli tidak dapat diakses, kesamaan yang ditangkap otak di alam bawah sadar akan terungkap.
Orang Dewasa Muda Lebih Sering Mengalaminya
Penelitian menunjukkan bahwa remaja dan usia dua puluhan memiliki tingkat deja vu yang lebih tinggi. Otak pada usia yang lebih muda memperoleh situasi baru dengan lebih cepat dan membuka diri pada lingkungan yang lebih baru, sehingga meningkatkan kemungkinan ketidaksesuaian persepsi memori jangka pendek.
Kelelahan dan Stres Bisa Meningkatkan Peluang
Paparan rasa lelah, stres, insomnia mungkin mengakibatkan pengaturan waktu otak menjadi kurang akurat. Kondisi tersebut nampaknya meningkatkan kemungkinan kesalahan pemrosesan kecil yang mengakibatkan kejadian deja vu.
Biasanya Tidak Berbahaya dan Bukan Gangguan
Bagi sebagian besar orang, deja vu adalah efek samping umum dari fungsi otak. Hanya bila sangat sering dan sangat berbahaya dikombinasikan dengan gejala neurologis lainnya maka dokter harus mencari nasihat medis.
Penelitian yang Berkelanjutan Bertujuan untuk Memetakannya Sepenuhnya
Perkembangan lebih lanjut dalam bidang pencitraan otak, eksperimen EEG, dan eksperimen kognitif masih terus menunjukkan interaksi antara persepsi, pengaturan waktu memori, dan keakraban. Mudah-mudahan, perkembangan ini dapat sepenuhnya memecahkan perasaan yang sebelumnya penuh teka-teki ini sebagai wawasan menarik tentang proses otak sehari-hari suatu hari nanti.








