Cuaca musim panas yang terik telah menimbulkan masalah tak terduga bagi pramugari: kaleng soda yang meledak.
Setidaknya 20 pramugari Southwest Airlines mengalami cedera musim panas ini ketika mencoba membuka minuman, menurut Surat Kabar Washington Post.
Media itu mengatakan maskapai itu tidak menggunakan truk berpendingin karena tidak menyediakan makanan atau makanan yang mudah rusak kepada tamu, jadi minuman biasanya disimpan di dalam bandara.
Seorang juru bicara Southwest Airlines mengonfirmasi laporan tersebut kepada Business Insider, dan mengatakan suhu terik yang menyelimuti Amerika Serikat menjadi penyebabnya.
“Kami menyadari masalah ini dan telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga minuman di dalam pesawat tetap dingin, terutama di bandara-bandara kami yang mengalami suhu ekstrem,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Ini merupakan upaya lintas fungsi antara tim bandara dan mereka yang berada di udara.”
“Bandara tempat kami beroperasi — seperti Las Vegas, Phoenix, dan banyak bandara di Texas — terus mengalami suhu yang sangat tinggi, dengan suhu panas yang ekstrem datang lebih awal dan berlangsung sepanjang musim panas,” lanjut pernyataan tersebut. “Demi keselamatan karyawan dan pelanggan kami, kami mengambil langkah-langkah edukasi dan mitigasi terhadap semua bahaya yang berhubungan dengan suhu panas.”
Beberapa bagian dunia dilanda panas ekstrem musim panas ini. Ilmuwan iklim mengatakan Tahun 2023 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat sejak 1850, dan tahun 2024 tampaknya akan mengikuti jejaknya.
Hingga 85 howler monyet mati mendadak dari pepohonan di Tabasco setelah gelombang panas melanda Meksiko tenggara bulan Mei ini.
Dan Kebakaran hutan melanda pulau Siprus, Yunani pada bulan Juni setelah gelombang panas.
Suhu juga meningkat bulan ini di Italia, dimana kementerian kesehatan telah menetapkan 12 kota di bawah peringatan panas terparah, NPR melaporkan.
Cerita terkait
Di Amerika Serikat, cuaca panas memperburuk masalah di Texas setelah Badai Beryl.
Weather Channel melaporkan bahwa sedikitnya enam orang di wilayah Houston meninggal dunia akibat naiknya suhu, dan sejumlah pejabat mengatakan jumlah korban tewas diperkirakan akan bertambah.
CenterPoint Energy, penyedia energi utama di Houston, mengatakan lebih dari 2 juta pelanggan kehilangan akses listrik setelah badai.





