Scroll untuk baca artikel
GenZ

9 Alasan Cerai yang Paling Sering Terjadi, Bukan Cuma Karena Sudah Nggak Cinta!

1
×

9 Alasan Cerai yang Paling Sering Terjadi, Bukan Cuma Karena Sudah Nggak Cinta!

Share this article
9-alasan-cerai-yang-paling-sering-terjadi,-bukan-cuma-karena-sudah-nggak-cinta!
9 Alasan Cerai yang Paling Sering Terjadi, Bukan Cuma Karena Sudah Nggak Cinta!

Belakangan ini angka perceraian mengalami peningkatan, kira-kira kenapa ya?

9 Alasan Cerai yang Paling Sering Terjadi, Bukan Cuma Karena Sudah Nggak Cinta!

Example 300x600

Pernikahan seharusnya jadi tempat untuk bertumbuh dan saling menguatkan bagi setiap pasangan. Namun pada kenyataannya, banyak hubungan pernikahan yang tidak bahagia dan justru retak pelan-pelan karena masalah yang dibiarkan menumpuk, tidak dikomunikasikan dengan baik, atau dianggap sepele terlalu lama.

Saat konflik tidak lagi diselesaikan, rasa sayang bisa berubah menjadi lelah, kecewa, bahkan keinginan untuk menyerah yang berimbas pada perceraian. Yang perlu dipahami, alasan cerai biasanya bukan muncul karena satu kejadian saja. Perceraian lebih sering terjadi akibat masalah ekonomi, akumulasi luka, hilangnya kepercayaan (perselingkuhan), kegagalan dua orang menjaga hubungan tetap sehat, dan sebagainya.

Berikut beberapa alasan yang paling sering membuat rumah tangga berakhir, lengkap dengan penjelasan kenapa hal itu bisa merusak kebahagiaan pernikahan!

1. Perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan

Perselingkuhan bisa bermula dari chatting di media sosial

Perselingkuhan adalah salah satu penyebab perceraian yang paling menyakitkan karena menghancurkan fondasi utama pernikahan, yaitu kepercayaan. Bentuknya pun tidak selalu fisik, bisa juga emosional ketika seseorang lebih intim dengan orang lain dibanding pasangannya sendiri.

Tak hanya itu, perselingkuhan yang marak terjadi saat ini juga bermula dari perhatian-perhatian kecil yang diberikan oleh pasangan terhadap lawan jenisnya melalui chat, kemudian berkembang menjadi micro cheating, lalu masuk ke dalam tahap hubungan perselingkuhan. Ketika perilaku ini terungkap, salah satu pihak pastinya akan merasa down dan terluka.

Korban perselingkuhan yang merasa dikhianati akan membuat dirinya merasa tak aman dalam hubungan, bahkan selalu dihantui rasa insecure dan berpikir “Apa yang kurang dari diriku?” 

Walaupun sebagian orang berusaha untuk memperbaiki dan memaafkan perilaku pasangannya tersebut, akan tetapi luka yang ditimbulkan akibat perselingkuhan sangatlah sulit untuk dipulihkan. Apalagi setelah kepercayaan retak, hubungan dipenuhi curiga, overthinking, dan rasa tidak tenang. Setiap keterlambatan, pesan yang disembunyikan, atau perubahan sikap bisa memicu konflik baru.

2. Masalah ekonomi yang bikin stres

Masalah keuangan bukan cuma soal penghasilan yang kecil, tetapi bagaimana besarnya kebutuhan, gaya hidup, kebiasaan mengatur finansial, dan sebagainya. Dalam hubungan rumah tangga, konflik juga bisa muncul karena utang, kebiasaan boros, kurang transparan soal uang, atau beban finansial yang ditanggung oleh pihak perempuan.

Perlu kamu ketahui, keberadaan uang berkaitan erat dengan rasa aman seseorang. Misalnya saja, saat kebutuhan dasar sulit terpenuhi atau salah satu pihak merasa pasangannya tidak bertanggung jawab, maka rasa frustrasi bisa tumbuh sangat besar. Perasaan tersebut akhirnya berdampak pada kesehatan mental dan jiwa seseorang.

Apa tanda-tanda kalau finansial memengaruhi kesehatan hubungan dalam rumah tangga? Pasangan lebih mudah emosi, saling menyalahkan, terjadi perdebatan yang tak kunjung usai soal uang, dan kehilangan ruang untuk menikmati hubungan dengan tenang. Apabila reaksi-reaksi emosional tersebut tak kunjung diatasi, salah satu pihak bisa mengajukan gugatan perceraian.

Inilah alasan perceraian yang banyak terjadi di kalangan rumah tangga dengan kondisi finansial yang kurang mendukung. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kamu bisa belajar cara mengatur keuangan agar dapat menghadapi masa-masa sulit dalam berumah tangga meski penghasilan sangat mepet untuk kebutuhan sehari-hari.

3. KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik, verbal, psikis, maupun seksual merupakan bentuk komunikasi yang tidak sehat dan berbahaya. Banyak korban bertahan karena takut, malu, atau berharap pasangan berubah, padahal dampaknya bisa sangat serius.

Jika keadaan seperti itu dibiarkan terus-menerus dan korban enggan mencari pertolongan, pernikahan tidak bisa berjalan sehat. Sebab, adanya tindak kekerasan akan membuat pasangan merasa takut, bahkan hingga trauma. Relasi yang dibangun dari cinta serta komitmen pun berubah, dari kerja sama dua orang menjadi kontrol dan penindasan, sehingga perceraian sering menjadi jalan untuk menyelamatkan diri.

Ingat ya, jika sudah tidak ada lagi rasa aman, hormat, dan kasih sayang dalam pernikahan, maka yang menjadi korban akibat kekerasan harus cepat-cepat menyelamatkan diri atau mencari bantuan! Hal ini sangat disarankan, karena sering kali korban KDRT hidup dalam tekanan mental yang berat dan perlahan kehilangan harga diri.

4. Pasangan tidak bertanggung jawab

kalau pasangan tidak bertanggung jawab, rumah tangga akan dipenuhi tekanan

Ada pasangan yang sulit diandalkan dalam hal pekerjaan, pengasuhan anak, pengelolaan rumah, atau komitmen dasar dalam pernikahan. Semua beban akhirnya jatuh ke satu pihak dan kebanyakan hanya kepada istri. Terjadinya ketimpangan tanggung jawab seperti ini membuat salah satu pasangan merasa seperti berjuang sendirian. Lama-lama, rasa capek berubah jadi marah dan hilang respect.

Contohnya, urusan memasak untuk keluarga, mengantar anak ke sekolah, membersihkan rumah, hingga mendidik anak hanya dibebankan oleh salah satu pihak. Padahal pekerjaan rumah harusnya dikerjakan oleh suami maupun istri.

Dari peristiwa tersebut, salah satu pihak pun perlahan merasa kalau apa yang dibebankan padanya terasa tidak adil, yang akhirnya memicu terjadinya perceraian.

5. Kecanduan barang haram dan kegiatan merugikan

Jika kamu membaca berita yang sering muncul di media online, salah satu alasan cerai yang kini sering terjadi dalam sebuah rumah tangga juga diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pecandu alkohol, aktivitas judi, narkoba, pornografi, hingga belanja kompulsif. Tindakan tersebut berpeluang besar menghancurkan stabilitas rumah tangga, terutama mereka yang berada dalam situasi survival mode.

Celakanya, kecanduan barang haram dan kegiatan merugikan tersebut umumnya diikuti kebohongan, masalah uang, dan perubahan perilaku pasangan yang cukup drastis. Misalnya, sejak terlibat judi, sikap seorang kepala rumah tangga menjadi temperamen, mengambil uang tabungan anak untuk kepentingannya sendiri, dan yang paling ekstrem adalah merampok di jalan secara random.

Bukan rahasia lagi kalau kecanduan membuat pasangan sulit konsisten, sulit dipercaya, dan sering mengabaikan kebutuhan keluarga. Jika tidak ada kesadaran untuk pulih, hubungan akan terus memburuk. Pasangan pun hidup dalam rasa waswas, malu, marah, dan kelelahan emosional. Sangat melelahkan, bukan?

6. Komunikasi yang buruk

Siapa bilang kalau komunikasi tidak bisa menjadi alasan cerai seseorang? Komunikasi yang buruk sering jadi akar dari banyak masalah rumah tangga. Pasangan bisa tinggal serumah, tetapi tidak benar-benar bisa saling memahami satu sama lain. Obrolan yang seharusnya menyelesaikan masalah malah berubah jadi momen untuk adu argumen, saling memperdebatkan siapa yang salah dan benar, atau memilih untuk diam karena besarnya rasa gengsi untuk meminta maaf serta memulai percakapan.

Sekilas memang akan membuatmu berpikir “Ah, cuma masalah obrolan doang?” atau “Hah, masa sih, komunikasi yang jelek bisa bikin cerai?” Padahal ketika pasangan ingin mengungkapkan perasannya, tetapi tidak pernah dipahami dan lebih cenderung disalahkan, maka akan timbul rasa lelah secara emosional. Lelahnya batin yang dipendam bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Efeknya bisa bermacam-macam, dan salah satunya adalah jalan perceraian.

7. Campur tangan keluarga besar

Sikap ikut campur orang tua atau mertua terkadang memengaruhi keputusan dalam rumah tangga anak atau menantunya

Hubungan suami istri kadang makin sulit karena terlalu banyak intervensi dari orang tua, mertua, atau saudara. Mulai dari urusan finansial, pola asuh anak, tempat tinggal, hingga keputusan penting rumah tangga.

Jika pasangan tidak kompak membuat batasan, pihak luar bisa memicu konflik terus-menerus. Salah satu pasangan merasa tidak diprioritaskan atau tidak dibela, sehingga rumah tangga jadi terasa sesak karena keputusan tidak diambil berdua sebagaimana mestinya. Rumah tangga yang harusnya dikontrol oleh suami dan istri, kini harus kehilangan batasan privasi itu sendiri.

8. Mulai merasa ada perbedaan visi dan misi dalam mencapai tujuan hidup

Di awal menikah, pasangan mungkin merasa cinta saja cukup. Namun seiring berjalannya waktu, perbedaan nilai dan tujuan hidup bisa muncul lebih jelas, misalnya soal anak, karier, tempat tinggal permanen di masa tua, gaya hidup, atau prioritas agama.

Ketika visi dan misi hidup terlalu jauh berbeda, setiap keputusan besar akan memicu perdebatan dan tidak mungkin rasa ingin menyerah juga menyertainya. Dampak yang paling sering terjadi dalam pernikahan saat menghadapi situasi ini adalah sulitnya membangun masa depan bersama jika arah yang dituju tidak sama.

Beberapa pasangan bahkan sudah mencari jalan keluarnya, akan tetapi solusi tersebut memang sulit untuk diimplementasikan, sehingga perpisahan kerap menjadi pintu terakhir untuk membebaskan rumah tangga dari perbedaan keduanya.

9. Menikah terlalu cepat atau terlalu muda

Menikah terlalu dini karena tekanan sosial sangat tidak dianjurkan. Menikahlah karena kamu memang siap!

Menikah dalam kondisi belum matang secara emosi, finansial, atau mental bisa membuat pasangan kewalahan menghadapi realitas rumah tangga. Ekspektasi romantis sering berbenturan dengan tanggung jawab sehari-hari.

Ditambah lagi, pasangan yang belum benar-benar siap mengelola konflik, tanggung jawab, dan perubahan peran, kemungkinan besar akan sulit mengelola keadaan rumah tangga, yang akhirnya salah satu pihak merasa sudah salah dalam mengambil keputusan untuk menikah.

Singkatnya, hubungan pernikahan yang dipenuhi kebingungan, drama, dan keputusan impulsif sangat mungkin berakhir pada jurang perpisahan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk menikah, pastikan kamu dan calon pasanganmu sudah siap dalam berbagai aspek, mulai dari mental, fisik, finansial, dan manajemen emosi yang baik agar memberikan ketenangan dalam keluarga.

Dari ringkasan di atas, sebenarnya dapat diambil kesimpulan bahwa alasan cerai yang terjadi pada sebuah rumah tangga berawal dari beberapa masalah yang tidak pernah diselesaikan dan akhirnya terakumulasi menjadi permasalahan yang besar. Karena itu, penting untuk memahami bahwa rumah tangga yang terlihat baik dari luar belum tentu sedang baik-baik saja di dalam.

Mengenali penyebab perceraian bukan untuk menakut-nakuti, tetapi supaya pasangan lebih peka pada kondisi hubungannya sendiri. Kalau beberapa poin di atas terasa familiar, itu bisa jadi tanda bahwa hubungan perlu dievaluasi dengan serius. Tidak semua pernikahan harus berakhir, tetapi hampir semua masalah perlu dihadapi dengan jujur sebelum semuanya terlambat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang Content Writer SEO dan Content Creator yang suka belajar hal-hal baru, terutama tentang transformasi dunia digital agar bermanfaat dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang relevan saat ini.

Editor

Seorang Content Writer SEO dan Content Creator yang suka belajar hal-hal baru, terutama tentang transformasi dunia digital agar bermanfaat dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang relevan saat ini.