Scroll untuk baca artikel
GenZ

7 Realita Penting Mengapa Peran Suami Istri dalam Pernikahan Tak Bisa Disamaratakan

24
×

7 Realita Penting Mengapa Peran Suami Istri dalam Pernikahan Tak Bisa Disamaratakan

Share this article
7-realita-penting-mengapa-peran-suami-istri-dalam-pernikahan-tak-bisa-disamaratakan
7 Realita Penting Mengapa Peran Suami Istri dalam Pernikahan Tak Bisa Disamaratakan

Belajar dari kasus Ohim dan Salsa yang ramai di TikTok, soal pernikahan, peran pasangan, dan ekspektasi yang sering keliru.

7 Realita Penting Mengapa Peran Suami Istri dalam Pernikahan Tak Bisa Disamaratakan

Example 300x600

Siapa nih yang akhir-akhir ini ikut menyoroti pernyataan Ohim di salah satu podcast soal pernikahannya dengan Salsa? Gara-gara potongan opininya tentang peran suami istri berseliweran di TikTok, banyak orang yang awalnya cuma nonton sekilas, lalu tanpa sadar ikut tenggelam membaca komentar.

Reaksinya pun beragam. Ada yang menilai Ohim belum memahami peran suami sepenuhnya, ada yang mencoba membela sudut pandangnya, dan tidak sedikit pula yang menghujat Ohim sebagai sosok suami yang pelit dan terlalu perhitungan. Di sisi lain, ada juga yang justru merasa bersyukur dengan hubungan yang mereka jalani sekarang. Bagi sebagian orang, potongan video itu bukan cuma tontonan viral—tapi berubah jadi cermin untuk menilai kembali pernikahan dan ekspektasi dalam hubungan.

Topik yang dibahas sebenarnya sederhana  tentang peran suami istri dalam pernikahan. Tapi justru karena sederhana itulah, diskusinya jadi sensitif.  :

Dalam podcast tersebut, Ohim menyampaikan pandangannya bahwa tidak seharusnya pasangannya hanya bergantung pada dirinya. Ia berharap istrinya tetap bekerja dan memenuhi semua kebutuhannya sendiri.  Ia menilai pembagian peran yang menempatkan seluruh beban finansial di pundaknya bukan hal yang ideal untuknya, dan dengan tegas dia mengatakan nggak apple-to-apple.

Pernyataan ini pun memicu reaksi keras dari publik. Banyak netizen menilai sudut pandang tersebut bertentangan dengan nilai yang selama ini diyakini masyarakat, di mana suami dipandang sebagai penanggung jawab utama nafkah keluarga. Tak sedikit pula yang melabeli pandangan Ohim sebagai sebuah “red flag” dalam pernikahan.

Perdebatan itu kemudian melebar ke isu yang lebih mendasar: soal siapa yang bekerja, siapa yang menafkahi, siapa yang mengurus rumah, serta sejauh apa tanggung jawab pasangan terhadap kebutuhan satu sama lain dalam sebuah pernikahan. Tapi dibalik itu semua bukankah tergantung kesepakatan pasangan satu sama lain.

Publik pun terbelah. Sebagian besar pastinya menilai Ohim tidak cukup capable sebagai pasangan karena dianggap belum memenuhi standar “suami ideal” yang seharusnya menanggung seluruh kebutuhan istri. Di sisi lain, ada juga yang melihat pernyataan itu sebagai gambaran jujur tentang realita pernikahan modern yang tidak selalu sejalan dengan ekspektasi sosial.

Dari sini, satu pertanyaan besar muncul: kenapa ekspektasi peran suami istri sering kali terasa harus sama untuk semua pasangan, padahal kondisi pernikahan setiap kan orang berbeda-beda?

Namun, di sisi lain, ada juga yang melihat bahwa pernyataan tersebut bukan soal pelit atau tidak bertanggung jawab, melainkan soal kesepakatan peran dalam pernikahan, topik yang seharusnya dibicarakan dua orang dewasa sebelum dan selama menjalani rumah tangga.

Kontroversi ini membuka diskusi yang lebih luas: apakah dalam pernikahan peran suami istri memang harus selalu mengikuti satu standar yang sama? Yuk kita bahas:

7 Realita Penting Dalam Pernikahan Kenapa Ekspektasi Peran Suami Istri Nggak Bisa Disamaratakan

1. Latar Belakang Membentuk Cara Pandang tentang Pernikahan

Setiap orang tumbuh dengan contoh pernikahan yang berbeda. Ada yang melihat ayahnya sebagai pencari nafkah tunggal, ada pula yang tumbuh dalam keluarga dengan peran setara, atau bahkan terkesan kebalik, ibu yang jadi kepala rumah tangga.

Ketika dua latar belakang ini bertemu dalam satu pernikahan, perbedaan ekspektasi hampir tak terhindarkan. Inilah alasan pertama kenapa  dalam setiap pernikahan peran suami istri tidak bisa disamaratakan.

2. Kontribusi Tidak Selalu Berbentuk Uang

peran suami istri (2)

working together as a couple-canva via canva.com

Salah satu kesalahan umum dalam menilai peran suami istri adalah hanya menyamakan kontribusi dengan nominal finansial. Padahal, kerja domestik, pengasuhan anak, dan dukungan emosional juga kontribusi peran nyata yang sering luput dihitung.

Pernikahan bukan hanya soal laporan keuangan, melainkan kerja sama di segala aspek dalam jangka panjang.

3. Beban Mental Istri dalam Rumah Tangga Itu Nyata

Selain beban fisik dan finansial, ada beban mental—terutama di pihak istri—yang sering kali tidak terlihat. Dalam realitas sosial, peran istri kerap dikotak-kotakkan: istri yang bekerja dianggap produktif dan berdaya guna, sementara istri yang tidak bekerja sering dipersepsikan sekadar “menumpang” pada suami.

Padahal, peran istri dalam mengatur rumah, menjaga stabilitas emosi keluarga, serta memastikan kebutuhan setiap anggota terpenuhi bukanlah hal sepele. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan angka di rekening, tetapi dampaknya sangat nyata dalam menjaga keseimbangan rumah tangga.

Ironisnya, beban mental ini sering kali tidak masuk dalam definisi “peran” yang diakui secara sosial. Karena itu, anggapan bahwa istri tidak berkontribusi hanya karena memilih menjadi ibu rumah tangga jelas keliru. Dalam banyak pernikahan, justru dari sanalah fondasi emosional keluarga dibangun.

4. Peran Bisa Berubah Seiring Waktu

peran suami istri (4)

pembagian peran antar pasangan-canva via canva.com

Apa yang disepakati di awal pernikahan terkadang belum tentu relevan selamanya. Kondisi ekonomi, kesehatan, kehadiran anak, hingga perubahan karier bisa mengubah pembagian peran suami istri secara drastis.

Jadi daripada punya ekspektasi kaku yang justru berpotensi melahirkan konflik berkepanjangan, kompromi dan kebesaran hati diperlukan untuk saling memahami.

5. Norma Sosial Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pasangan

Hubungan Ohim dan Salsa menunjukkan betapa kuatnya tekanan sosial terhadap pernikahan publik figur. Namun, hal serupa juga bisa dialami pasangan non-selebriti.

Standar sosial sering kali mengabaikan konteks personal. Padahal, pernikahan yang sehat adalah yang sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan pasangan itu sendiri tidak selalu mengikuti standart pasangan atau orang lain.

6. Kurangnya Komunikasi Membuat Ekspektasi Jadi Bom Waktu

Banyak pasangan menganggap pasangannya “pasti sudah tahu” apa yang diharapkan. Padahal, tanpa komunikasi terbuka, ekspektasi hanya akan menumpuk dan berubah menjadi kekecewaan.

Diskusi dalam pernikahan dan peran suami istri seharusnya tidak berhenti setelah akad atau pesta. Obrolan itu harus terus dilanjutkan agar saling memahami.

7. Pernikahan Modern Menuntut Kesadaran, Bukan Kepatuhan Buta

Pernikahan hari ini tidak lagi sekadar menjalankan peran tradisional, tapi membangun kesepakatan sadar. Apa yang berhasil untuk satu pasangan belum tentu cocok untuk pasangan lain.

Nah … di sinilah pentingnya memahami bahwa ekspektasi peran suami istri dalam pernikahan memang tidak bisa disamaratakan.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Viral Ini?

Kontroversi pernyataan Ohim mengenai pernikahannya bukan sekadar  potongan podcast di TikTok yang viral. Di balik ramainya perdebatan peran suami istri, kasus ini juga mencerminkan  beberapa hal:

  1. Kebingungan banyak orang dalam memahami batas antara tanggung jawab pasangan, kesepakatan dalam pernikahan, serta ekspektasi sosial yang sudah lama dianggap “pakem”
  2. Banyak orang masih memandang persoalan ini dari sudut pandang tradisional—berdasarkan nilai budaya atau agama— di mana suami diposisikan sebagai penanggung jawab utama rumah tangga, terutama dalam urusan finansial dan pemenuhan kebutuhan istri, sedangkan di sisi lain ada pandangan bahwa peran dalam pernikahan juga bisa dibagi, disesuaikan, bahkan saling menggantikan sesuai kondisi. Kuncinya ada di kesepakatan antar pasangan.

Dalam konteks inilah, pernyataan Ohim kerap dibaca bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan sebagai cerminan realita pernikahan modern yang semakin beragam dan tak selalu bisa diseragamkan.

Pada akhirnya pernikahan yang sehat dan #pernikahansadar bukan hanya soal peran apa yang dijalankan, melainkan bagaimana peran tersebut disepakati bersama. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Inovatif menunjukkan bahwa ekspektasi dalam pernikahan yang tidak dikomunikasikan secara jelas berkaitan erat dengan meningkatnya konflik dan rendahnya kepuasan hubungan. Ketika pasangan membawa harapan yang tinggi tanpa pernah mendiskusikannya secara jujur, potensi kecemasan, kekecewaan, dan pertengkaran pun menjadi lebih besar dalam jangka panjang.

Bagaimana menurutmu? Disclaimer yaa … artikel ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan siapa pun, tapi sebagai ajakan kesadaran bahwa pernikahan adalah soal kesepakatan, bukan sekadar memenuhi ekspektasi orang lain.

Loading …

Kalau kamu merasa topik ini penting, bagikan artikel ini ke pasangan, sahabat, atau teman yang sedang merencanakan pernikahan yaa. Siapa tahu, ini bisa jadi pembuka obrolan jujur yang selama ini tertunda.

Sebagai lanjutan, kamu juga bisa membaca artikel ini untuk memperdalam diskusi soal keuangan sebelum menikah. Tunggu seri #pernikahanberkesadaran lainnya ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini