Scroll untuk baca artikel
GenZ

6 Ciri Rumah Tangga yang Tidak Bisa Dipertahankan, Apa Kamu Mengalaminya?

5
×

6 Ciri Rumah Tangga yang Tidak Bisa Dipertahankan, Apa Kamu Mengalaminya?

Share this article
6-ciri-rumah-tangga-yang-tidak-bisa-dipertahankan,-apa-kamu-mengalaminya?
6 Ciri Rumah Tangga yang Tidak Bisa Dipertahankan, Apa Kamu Mengalaminya?

Beberapa keadaan ini membuat rumah tangga sudah nggak sehat dan sulit dipertahankan

6 Ciri Rumah Tangga yang Tidak Bisa Dipertahankan, Apa Kamu Mengalaminya?

Example 300x600

Malas dekat-dekatan / Credit photo: Padres e Hijos

Memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan memang bukan perkara mudah, karena setiap pasangan akan menemukan ujiannya masing-masing.

Setelah resepsi digelar, segunung tanggung jawab bakal menanti para pasangan suami istri. Mulai dari tanggung jawab untuk berbagi kesenangan dan kesedihan bersama, berkomitmen menjaga kelanggengan hubungan sampai akhir hayat nanti, dan menyamakan visi dan misi dalam mendidik anak nanti.

Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi memang ada banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam pernikahan. Mulai dari aspek kematangan emosional, kemantapan finansial sampai perkara seks. Kalau ada yang nggak seimbang, berhati-hatilah! Kententraman dan kekuatan hubungan kalian bakal diuji.

Goncangnya rumah tangga nggak selalu terjadi dalam semalam, bisa juga karena kamu nggak peka dengan 6 tanda ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan ini!

1. Rumah Tangga Minim Obrolan dan Sepi

Nggak marahan sih, tapi kok sepi banget ya? Ngobrol, kek! via unsplash.com

Rumah yang sepi karena minim obrolan bisa jadi tanda bahaya dalam hubungan kamu dan pasangan. Padahal setelah menikah, umumnya istri dan suami lebih banyak ngobrol, sharing sesuatu, atau sekadar membicarakan kegiatan selama sehari penuh.

Namun hal tersebut bisa saja berbeda jika setelah menikah, kamu dan pasangan malah terlalu larut dalam kesibukan dan rutinitas masing-masing, sehingga saat bersama kalian malah enggan mengobrol lagi. Sebagian kasus di lapangan bahkan memperlihatkan betapa banyak pasangan justru lebih suka main HP masing-masing meskipun tinggal satu atap daripada menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan pasangannya.

Akibat dari rutinitas seperti ini, rumah pun terasa sepi, bahkan konflik dan cekcok mulut juga jadi jarang terjadi. Segalanya terasa kaku dan monoton, karena segala masalah dipendam sendiri. Dampaknya, salah satu pihak mencari perhatian di luar yang bisa memenuhi kebutuhan koneksinya. Nah, bahayanya nih, kalau pasangan udah curhat di media sosial atau curhatnya ke lawan jenis. Kacau nggak, tuh?

2. Sering Mengeluarkan Kata-kata Menyakitkan dan Negatif

Dikit-dikit mengeluarkan ujaran yang kasar ke pasangan. Emang nggak bisa baik-baik? via www.pexels.com

Pernahkah kamu berada di situasi yang mendengar dan menyaksikan langsung, betapa kasarnya ucapan pasangan terhadapmu? Bahkan hanya sekadar bertanya dan menuntut penjelasan, ia malah mengeluarkan perkataan yang tak pantas. Mulai dari kata-kata binatang, konotasi negatif, dan label-label buruk terhadapmu.

Hati-hati! Perkataan kotor dan negatif terhadap pasangan merupakan rendahnya manajemen emosi dan buruknya pengelolaan jiwa seorang manusia, sehingga bisa memicu trigger bahkan trauma kepada pasangannya. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus, kekerasan verbal tersebut bisa naik tingkat ke perbuatan yang jauh lebih buruk, seperti KDRT.

3. Jarang Melakukan Kontak Fisik

Jangan anggap sepele kalau kamu atau pasangan mulai enggan saling bersentuhan, lebih nyaman berjauhan dan tak terpikir sama sekali untuk berhubungan seks. Ini bisa jadi tanda lampu merah jika kamu merasa tertekan saat harus bersentuhan fisik dengan pasangan!

Perlu kamu ketahui, sentuhan fisik seperti pelukan, pegangan tangan, ciuman ringan, atau keintiman non-seksual memiliki fungsi penting dalam hubungan manusia. Salah satunya adalah menciptakan bonding di antara dua pasangan agar tetap mesra setiap hari.

Nah, kalau nggak pernah atau jarang terjadi sentuhan fisik sesama pasutri, kemungkinan terbentuk jarak dalam hubungan akan sangat besar, yang bisa berkembang menjadi “emosional disconnect” yakni pasangan masih bersama secara formal tapi tidak lagi merasa dekat. Akibatnya, rumah tangga jadi hambar, tidak berwarna, dan merasa asing satu sama lain.

4. Lebih Suka Ngumpul Bareng Teman

Padahal udah punya pasangan, kok main terus sama teman sampai lupa kewajibannya? via www.pexels.com

Dulu selalu ingin nempel sama suami atau istri. Sekarang? Lebih suka jalan sendiri atau sama sahabat-sahabat yang kamu anggap ‘lebih mengerti keadaanmu’.

Dalam sebuah hubungan, kebersamaan biasanya berjalan seimbang antara waktu berdua dan waktu dengan orang lain. Namun ketika salah satu pihak terlalu sering menghindari pasangan dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman, hal itu bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga kamu, meskipun tidak selalu berarti hubungan tersebut pasti gagal.

Awalnya mungkin terlihat sepele. Pasangan hanya ingin “quality time” dengan temannya atau merasa butuh waktu healing sejenak. Tetapi jika pola ini terjadi terus-menerus, dan waktu berdua semakin jarang tanpa alasan yang jelas, hubungan bisa mulai terasa renggang. Kehadiran pasangan perlahan tergantikan oleh orang lain, bukan karena kesibukan, tapi karena ada jarak emosional yang terbentuk.

Dalam situasi seperti ini, tidak menutup kemungkinan jika salah satu pihak bisa mulai bertanya-tanya “Apakah dirinya masih menjadi prioritas, atau justru sudah kalah penting dibanding lingkaran pertemanannya?”

Komunikasi pun jadi melemah karena tidak ada lagi ruang yang cukup untuk benar-benar saling terhubung. Jadi nggak sehat kan, rumah tangganya?

5. Terlalu Sering Merasa Kecewa

Berumah tangga bukannya bahagia, malah sedih terus. Kok bisa begitu, ya? via www.pexels.com

Tak ada lagi percik-percik rasa bahagia saat bersama pasangan, juga menjadi salah satu indikator kalau rumah tangga sedang tidak baik-baik saja.

Biasanya, perasaan seperti itu muncul ketika ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dalam waktu lama. Misalnya, kurangnya perhatian, komunikasi yang tidak nyambung, jarak fisik atau emosional, atau merasa tidak didengar dan tidak dipahami. Kalau kondisi ini berlangsung terus tanpa ada perubahan, wajar kalau akhirnya seseorang merasa “sendirian meskipun tidak sendiri”.

Dalam narasi kehidupan sehari-hari, kejadianini sering terasa seperti hidup berdampingan, tapi tidak benar-benar hidup bersama. Ada rumah, ada pasangan, tapi tidak ada kehangatan yang biasanya membuat seseorang merasa aman dan ditemani. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa menguras emosi dan membuat seseorang merasa lelah secara mental.

Jika masalah seperti ini tidak segera diselesaikan dan bahkan benar-benar tidak dapat diperbaiki, salah satu pihak akan memilih mencari kebahagiaannya sendiri dengan caranya sendiri.

6. Terjadi Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Perselingkuhan

Mulai senang dekat yang lain / Credit photo: Pexels via www.pexels.com

KDRT bukan sekadar konflik atau pertengkaran biasa bagi setiap pasangan. Ketika sudah masuk ke ranah kekerasan, baik fisik, verbal yang merendahkan, psikologis, ekonomi, maupun seksual, hubungan pasutri tidak lagi bisa dikatakan sehat. Sebab inti dari rumah tangga seharusnya adalah rasa aman, dan ketika rasa aman itu hilang, seseorang hidup dalam keadaan tertekan, takut, atau terancam di tempat yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Sementara itu, perselingkuhan justru mampu meruntuhkan rasa kepercayaan pasangan. Padahal dalam hubungan, kepercayaan adalah fondasi utama. Ketika itu dilanggar, seseorang akan merasa dikhianati, kepercayaannya dirusak, dan tidak ada rasa aman dalam hubungan. Akibatnya bisa menyerang mental seseorang, seperti merasa insecure, merasa tidak berharga, sulit percaya pada pasangan, bahkan sulit percaya pada hubungan di masa depan. Hubungan pun akhirnya dipenuhi kecurigaan, konflik, dan ketidakpastian yang tidak kunjung selesai dan lain-lain.

Jika kamu mengalami tanda-tanda di atas, tidak ada salahnya curhat ke psikolog atau konsultasi pernikahan pada konselor yang tepat dan dapat dipercaya. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang diusahakan dan terus dipupuk oleh kedua belah pihak. Semoga pernikahanmu jauh-jauh dari ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan dan kata jenuh apalagi cerai ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An avid reader and bookshop lover.