Berita

5 Cara Memutus Rantai Toxic Parenting, Anak Tumbuh di Lingkungan Sehat

3
5-cara-memutus-rantai-toxic-parenting,-anak-tumbuh-di-lingkungan-sehat
5 Cara Memutus Rantai Toxic Parenting, Anak Tumbuh di Lingkungan Sehat

Toxic Parenting Jangan Dibiarkan, Ini 5 Cara Memutus Rantainya

CNN Indonesia

Minggu, 28 Jun 2026 23:00 WIB

Ilustrasi. Ada beberapa cara memutus rantai toxic parenting. (istockphoto/skynesher)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia

Pola pengasuhan yang diterapkan orang tua sering kali dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka dapatkan sejak kecil. Dalam beberapa kondisi, pengalaman tersebut dapat membawa kebiasaan yang kurang baik terhadap anak.

Nah, untuk mengatasinya, berikut cara memutus rantai toxic parenting dari trauma masa lalu dalam keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Toxic parenting merupakan pola pengasuhan yang ditandai dengan perilaku yang dapat mengganggu perkembangan emosional dan psikologis anak. Tanpa disadari, pola ini berisiko terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu, memahami cara memutus rantai toxic parenting menjadi langkah penting bagi setiap orang tua. Dengan kesadaran dan komitmen yang tepat, siklus pengasuhan yang tidak sehat dapat dihentikan.

Dikutip dari The Foundation for Post-Traumatic Healing and Complex Trauma Research, berikut cara memutus rantai toxic parenting yang perlu dipahami orang tua.

1. Mengenali perilaku toxic dalam pengasuhan

Langkah pertama dalam cara memutus rantai toxic parenting adalah menyadari adanya pola perilaku yang tidak sehat. Orang tua perlu mengevaluasi apakah selama ini sering mengkritik anak secara berlebihan, terlalu mengontrol, menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi anak, atau mengabaikan perasaan mereka.

Kesadaran diri menjadi pondasi penting karena perubahan tidak akan terjadi tanpa pengakuan terhadap masalah yang ada.

2. Menghormati batasan dan kemandirian anak

Setiap anak memiliki hak untuk berkembang sesuai tahap usianya. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sederhana, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan rasa percaya diri.

Menghormati privasi anak juga penting. Sikap yang terlalu mengatur atau selalu mencampuri urusan anak dapat membuat mereka kesulitan menjadi pribadi yang mandiri di masa depan.

3. Membangun komunikasi yang terbuka

Komunikasi yang sehat membantu anak merasa dihargai dan didengarkan. Orang tua dapat melatih diri untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau memotong pembicaraan anak.

Ketika anak menyampaikan perasaan atau masalahnya, berikan respons yang penuh empati. Cara ini akan memperkuat hubungan emosional sekaligus membuat anak merasa aman untuk bercerita.

4. Mengelola emosi dan luka masa lalu

Banyak pola toxic parenting berasal dari pengalaman masa kecil yang belum terselesaikan. Orang tua yang pernah mengalami kritik berlebihan, kekerasan verbal, atau pengabaian berisiko mengulangi pola yang sama kepada anak mereka.

Karena itu, salah satu cara memutus rantai toxic parenting yang efektif adalah mengenali pemicu emosi pribadi. Dengan memahami sumber kemarahan, kekecewaan, atau trauma masa lalu, orang tua dapat merespons anak dengan lebih tenang dan bijaksana.

5. Mencari bantuan profesional jika diperlukan

Apabila orang tua merasa kesulitan mengubah pola lama atau masih bergumul dengan trauma masa lalu, bantuan profesional dapat menjadi solusi yang tepat. Psikolog atau konselor keluarga dapat membantu mengidentifikasi akar masalah sekaligus memberikan strategi pengasuhan yang lebih sehat.

Langkah ini bukan tanda kegagalan sebagai orang tua, melainkan bentuk tanggung jawab untuk memberikan lingkungan terbaik bagi anak.

Nah, itulah cara memutus rantai toxic parenting yang sangat penting bagi setiap orang tua. Melalui langkah-langkah tersebut, orang tua dapat memberikan lingkungan yang lebih aman, suportif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

(gas/asr)

Add as a preferred
source on Google

Exit mobile version