Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada kekerasan sama sekali, dan dilakukan dengan sangat cepat. Jika ada sebuah kejahatan yang sempurna, mungkin ini adalah salah satunya. Kasus perampokan paling dikenang dalam sejarah Jepang, yang penyelidikannya melibatkan ratusan ribu polisi, ratusan petunjuk yang tersebar, dan menghasilkan lebih dari seratus ribu daftar nama tersangka, namun tak terpecahkan sampai detik ini. Ya, sampai detik ini. Inilah salah satu kasus perampokan paling legendaris di dunia, 300 Million Yen Robbery!
Pagi itu tanggal 10 Desember 1968. Seorang pria muda berseragam polisi menghentikan laju sepeda motornya di sebuah persimpangan jalan. Rintik-rintik salju turun dari langit. Kantor-kantor dan sejumlah toko baru saja buka. Pernak-pernik natal terlihat semarak dijual di beberapa toko. Tak lama lagi liburan akhir tahun akan tiba.
Pandangan polisi itu terlihat tajam mengawasi jalanan. Udara cukup dingin membeku, tapi ia tampak menanti sesuatu yang datang dari ujung jalan sana. Tidak ada yang menyangka apa yang akan dilakukannya, karena tak lama setelah itu sebuah peristiwa kriminal yang akan mengguncang sejarah Jepang akan segera terjadi. Tapi tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Tak ada seorang pun.
Surat Ancaman
Surat ancaman itu sudah datang beberapa bulan sebelumnya. Sebuah surat dengan susunan kata yang dibuat dari potongan koran dan majalah. Ditujukan untuk manajer Bank Nihon Shintaku Ginko cabang Kokubunji, Tokyo.
Surat itu langsung datang ke rumah sang manajer. Isinya tak lain ancaman akan meledakkan rumah dengan dinamit jika manajer tersebut tidak menyerahkan uang sebesar 300 juta yen. Sang manajer ketar-ketir, ketakutan setengah mati.
Baca juga: Kasus Monster 21 Wajah (The Monster with 21 Faces)
Mendapatkan ancaman yang sedemikian rupa, manajer itu lantas melapor pada polisi. Pihak kepolisian menanggapi laporannya. Maka secara rutin petugas datang untuk mengawasi dan berjaga di rumah manager bank tersebut.
Namun karena merasa kalau ancaman itu berasal dari orang terdekat sang manajer, polisi menyarankan untuk tidak menceritakan ancaman yang ia terima tersebut kepada siapa pun dan tetap bekerja seperti biasanya. Tapi sepertinya sang manajer tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, maka cerita tentang surat ancaman itu akhirnya tersebar juga di antara para karyawan bank.
300 Juta Yen
Pagi itu tanggal 10 Desember 1968, karyawan bank tersebut mengemasi uang kertas sebesar 294.307.500 yen atau sekitar US $ 817.520. Empat orang karyawan lalu ditugaskan untuk mengantarkannya. Uang sebanyak itu tak lain adalah bonus akhir tahun untuk 523 karyawan pabrik Fuchu Toshiba. Mereka mengangkut uang yang sudah dimasukkan ke dalam kotak-kotak logam ke bagasi belakang mobil perusahaan.
Perusahaan di Jepang saat itu umumnya memberi karyawan mereka bonus dua kali setahun, yaitu di musim panas sekitar Juni atau Juli dan satu lagi di musim dingin akhir tahun. Bisa dikatakan ini semacam tradisi yang dimulai di era Edo, di mana pemilik usaha memberikan uang bonus kepada karyawan sehingga mereka bisa pulang ke rumah untuk festival lokal dan menikmati waktu bersama keluarga.
Nah, setiap tanggal 10 Desember, Bank Nihon Shintaku Ginko memang memiliki kebiasaan mengirimkan uang bonus akhir tahun untuk karyawan pabrik Toshiba di Fuchu. Maka di hari itu, mereka menugaskan 4 orang karyawannya untuk mengantarkan uang.
Barangkali kalian berpikir mengapa mereka tidak melakukan transfer bank saja yang lebih aman. Perlu diketahui pada saat itu rupanya transfer bank masih merupakan konsep yang cukup baru di Jepang dan masih dianggap lebih aman untuk mengirimkan uang secara tunai melalui mobil.
Meski demikian, perjalanan mengantarkan uang dengan mobil ini sebenarnya sangat menegangkan, jelas saja karena beberapa waktu sebelumnya manajer mereka diancam dengan bom untuk membayar 300 juta yen. Jadi para karyawan yang mengantarkan uang itu cukup khawatir juga sebenarnya.
Tertipu
Mobil yang ditumpangi para karyawan bank itu pun meluncurkan mengantarkan uang. Tidak ada halangan selama perjalanan, sampai tiba-tiba ada seorang polisi bermotor menghentikan kendaraan mereka tepat di depan penjara kota Fuchu.
| Pada sebelah kiri terlihat tembok penjara Fuchu |
Polisi tersebut dengan nada cemas mengatakan pada mereka bahwa rumah manager bank baru saja diledakkan dan beberapa orang mengalami luka-luka, bahkan ada yang meninggal.
Mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan, mereka menjadi panik terlebih polisi tadi juga mengatakan kalau ada ancaman susulan. Ancaman itu isinya mengatakan kalau karyawan yang mengantarkan uang hari itu akan menjadi sasaran pengeboman berikutnya. Para penjahat sudah meletakkan dinamit di dalam mobil mereka, begitu kata polisi tersebut.
| Suasana TKP tak lama setelah perampokan terjadi |
Polisi itu kemudian memerintahkan keempat karyawan bank tadi untuk turun dari mobil supaya bisa memeriksa di mana bom itu dipasang. Sementara itu polisi merangkak ke bawah mobil untuk mencoba menemukan bom yang dimaksud.
Beberapa saat kemudian, para karyawan yang ketakutan itu melihat asap dan api yag muncul di bawah mobil ketika petugas itu keluar dari sana. Polisi itu berteriak mengatakan kalau mobil itu akan meledak. Ia memerintahkan mereka untuk secepatnya berlindung di tempat aman. Mereka bergegas lari ke tembok penjara tak jauh dari sana untuk menyelamatkan diri. Sementara itu polisi itu dengan berani kembali ke mobil untuk memeriksa.
| Tembok penjara di mana para karyawan bank berusaha menyelamatkan diri dari “ledakan bom” |
Di antara kepulan asap, para karyawan itu bisa melihat polisi tadi masuk ke dalam mobil lagi untuk memeriksa keadaan. Sementara di balik tembok penjara mereka menunggu dengan cemas dan ketakutan kalau-kalau akan ada ledakan besar yang terjadi. Polisi itu terlihat membungkuk di dalam mobil. Tak lama kemudian terdengar pelan bunyi mesin kendaraan menyala.
Karyawan-karyawan bank yang menunggu di balik tembok akhirnya memutuskan untuk mengintip dan melihat apa yang terjadi. Apakah polisi tadi berhasil menjinakkan bomnya? Namun yang mereka dapati justru kenyataan kalau kendaraan beroda empat itu telah lenyap. Mobil itu hilang!
Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dalam keadaan bingung, mereka lalu memutuskan untuk menghubungi bank. Saat telepon diangkat, barulah mereka tahu kalau manager bank baik-baik saja dan sama sekali tidak ada ledakan di rumahnya.
| Sepeda motor, kendaraan pelaku yang sudah dicat putih |
Mereka akhirnya menyadari telah ditipu mentah-mentah oleh pria muda berpakaian polisi tadi. Kejahatannya berjalan mulus. Tampaknya rencana perampokan yang cerdas itu sudah dirancang selama berbulan-bulan dan dieksekusi dengan sangat rapi. Seorang diri, perampok yang menyamar sebagai polisi itu berhasil mengelabui petugas bank dan membawa kabur semua uang. Menariknya, nomor seri uang-uang itu semuanya tidak tercatat!
Kejahatan Yang Sempurna
Setelah perampokan itu terjadi, barulah orang-orang bank paham kalau surat ancaman pengeboman yang ditujukan kepada manajer mereka merupakan bagian dari rencana si perampok yang telah disusunnya dengan matang.
Tidak seperti perampok bank pada umumnya yang menyerbu bank berkelompok, memakai penutup wajah, dan menodongkan senjata mereka sambil meminta petugas bank memasukkan uang tunai ke kantong-kantong besar lalu bergegas melarikan diri, perampok yang satu ini justru menunggu dengan sabar, menanti saat yang tepat, lalu menjalankan rencananya.
“Dia tampak seperti seorang polisi,” kata Eiji Nakada, sang pengemudi mobil. ”Ketika kami tiba di jalan dekat penjara, ia menyuruh kami untuk berhenti. Dia bilang dia mendapat instruksi dari kepolisian Koganei. Kami benar-benar terkejut ketika dia mengatakan beberapa bahan peledak sudah dipasang di dalam mobil. Sambil membawa senter, dia menyuruh kami keluar dari mobil,” kata Nakada. “Ia membungkuk sejenak di atas lantai mobil. Kami mengira ia mencari dinamit. Lalu tiba-tiba melompat di belakang kemudi dan melaju pergi.”
| Tempat kejadian perampokan 300 juta yen |
Asap dan nyala api yang keluar dari bawah mobil juga bagian dari rencananya. Ia menggunakan suar peringatan yang dinyalakan saat berada di bawah mobil. Suar itu memang menciptakan api dan asap yang menyerupai ledakan dinamit.
Di tengah perjalanan setelah berhasil membawa pergi mobil beserta dengan uang bank, ia lalu meninggalkan mobil tersebut di tengah jalan dan memindahkan kotak logam ke mobil lainnya yang ternyata merupakan mobil curian. Lalu mobil curian itu kembali ditinggalkan di tengah jalan dan si perampok pindah ke mobil lainnya lagi yang lagi-lagi merupakan mobil curian.
| Kotak-kotak logam tempat menyimpan uang yang ditemukan telah kosong |
Tak kurang dari 120 barang bukti tertinggal di TKP, termasuk sepeda motor polisi yang digunakan perampok, yang sebelumnya sudah dicat putih. Barang bukti lainnya tersebar di seluruh TKP dan disepanjang tempat yang disinggahi perampok tadi yang meninggalkan mobil-mobil yang dibawanya. Tapi bukti-bukti yang terlampau banyak dan mencurigakan itu justru seperti sengaja ditinggalkan untuk mengecoh polisi.
Setelah itu penyelidikan besar-besaran dilakukan kepolisian Jepang guna menangkap pelaku perampokan yang diduga beraksi seorang diri. Tak kurang dari 170.000 petugas polisi terjun ke lapangan. Sebanyak 780.000 foto montase disebar di seluruh negeri itu, dan lebih dari 100 ribu orang masuk dalam daftar tersangka. Penyelidikan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Jepang.
| Perkiraan wajah pelaku perampokan “300 Million Yen Robbery” |
Beberapa surat kabar luar negeri menulis berita seputar kasus spektakuler ini, diantaranya :
The Herald Titusville memberitakan pencurian yang terjadi pada 10 Desember 1986 di halaman depan surat kabar mereka : “Seorang perampok yang menyamar dengan memakai seragam polisi menghentikan mobil bank di pinggiran kota Tokyo dan melarikan diri dengan membawa uang sejumlah 300 juta yen atau setara dengan 833,333 US Dolar. The Nippon Trust and Banking Co di Tokyo mengatakan uang itu seharusnya dibawa ke Shibaura Tokyo Electric Co di Fuchu, 20 mil sebelah barat Tokyo, uang itu sebenarnya untuk dibagikan kepada para karyawan sebagai bonus akhir tahun”.
The Times of Hammond, Indiana, memberitakan dengan lebih detail: “Perampok yang mengenakan helm putih dan jaket kulit hitam khas petugas lalu lintas, mengendarai sepeda motor putih mencuri uang yang dibawa dalam mobil bank yang ditumpangi oleh empat orang, membawa uang untuk bonus karyawan Toshiba Electric Co. Penjahat tersebut mengatakan kepada mereka kalau ada dinamit yang disembunyikan di dalam mobil. Ketika keempatnya keluar, penjahat berpakaian polisi itu masuk lalu melaju pergi dengan mobil membawa tiga kotak logam penuh uang kertas dengan nomor seri yang tidak tercatat”.
| Surat kabar The Times Indiana yang memberitakan peristiwa perampokan 300 juta yen |
Dan Hilang Tanpa Jejak
Lima hari setelah peristiwa perampokan yang menggegerkan itu, seorang pria muda berusia 19 tahun ditemukan tewas setelah menenggak racun kalium sianida. Pria muda itu adalah putra dari seorang petugas polisi dan diperkirakan merupakan tersangka perampokan, terlebih ia memang tidak punya alibi. Kematiannya diduga merupakan aksi bunuh diri. Namun, uang 300 juta yen itu tidak ditemukan saat atau setelah kematiannya. Dia kemudian dianggap tidak bersalah menurut catatan resmi kepolisian.
Baca juga: Kasus Pencuria Aneh di Museum Isabella Gardner yang Gagal Dipecahkan FBI
Setahun kemudian, pada 12 Desember 1969, seorang pria berusia 26 tahun ditangkap atas tuduhan kasus perampokan 300 juta yen ini. Tapi pria tersebut punya alibi. Saat perampokan terjadi, ia sedang menjalani pemeriksaan proctored.
Penangkapan tersebut berbuntut panjang. Petugas polisi yang menangkap, Mitsuo Muto, kemudian dituduh telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan dengan melakukan penangkapan dengan alasan palsu.
| Sepeda motor yang digunakan tersangka |
Pencarian terhadap tersangka terus berlanjut. Tujuh tahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 15 November 1975, seorang pria dicurigai merupakan tersangka perampokan ini. Alasannya karena dia memiliki uang dalam jumlah besar dan dicurigai telah melakukan perampokan tahun 1968. Saat peristiwa itu terjadi dia berusia 18 tahun. Polisi beberapa kali meminta penjelasan tentang uang yang jumlahnya besar itu, tetapi pria itu tidak memberikan penjelasan yang memuaskan. Namun di lain pihak polisi juga tidak dapat membuktikan bahwa uang tersebut berasal dari perampokan.
Investigasi yang dilakukan polisi selama tujuh tahun tampaknya tidak membuahkan hasil. Pada Desember 1975, undang – undang pembatasan kejahatan disahkan tanpa penangkapan. Maksudnya pada tahun tersebut undang-undang pembatasan tujuh tahun untuk mengajukan tuntutan akan berakhir, yang berarti penjahat sebenarnya telah lolos tanpa hukuman.
Sejak tahun 1988 atau 20 tahun setelah peristiwa itu, perampok juga telah dibebaskan dari kewajiban perdata, yang artinya dia bisa mengaku dan mengatakan apa yang telah dilakukannya tanpa takut akan terkena dampak hukum. Tapi tidak ada seorang pun yang mengakuinya.
| Mobil yang digunakan tersangka membawa kabur uang |
Ada sebuah study yang ditulis di sebuah website dari seorang anggota the Historical Society of Sophia University dan juga anggota dari The Kioi Shigaku of Sophia University yaitu Kouji Fukushima yang mengatakan seperti ini: “Saya tahu perampokan 300 juta yen itu adalah konspirasi”.
Terlepas dari konspirasi atau hal yang lainnya, harus diakui bahwa perampokan ini benar-benar diotaki oleh orang yang sangat cerdas. Kejahatannya melegenda. Ia telah berhasil menuliskan sebuah skenario kejahatan yang sangat hebat, menanti dalam diam, lalu melancarkan aksinya dengan sempurna di pagi hari bersalju lebih 50 tahun yang lalu…
Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/300_million_yen_robbery
https://moneyweek.com/363610/10-december-1968-the-300-million-yen-robbery
https://www.scmp.com/news/asia/east-asia/article/2177413/who-was-mysterious-motorcyclist-behind-infamous-japanese-heist
https://www.anehdidunia.com/2019/05/perampokan-bank-terbesar-di-jepang.html
https://kodzan.blogspot.com/2010/03/kasus-300-juta-yen-kasus-perampokan.html#.YCZzDoYzbIU
Kasih komentar yaa.. Tanpa kalian apalah arti aku menulis. Kalian adalah penyemangat setiap kalimat demi kalimat yang kutulis, setiap artikel yang kuposting.. 😉
Perhatian: Mohon hargai penulis dengan tidak mengambil atau copy paste artikel di blog ini untuk dijadikan postingan blog/website ataupun konten Youtube. Terima kasih.. ^^
