Scroll untuk baca artikel
Berita

Satgas PRR Dorong Aceh Sinkronkan Program dengan Pusat untuk Pemulihan

webmaster
3
×

Satgas PRR Dorong Aceh Sinkronkan Program dengan Pusat untuk Pemulihan

Share this article
satgas-prr-dorong-aceh-sinkronkan-program-dengan-pusat-untuk-pemulihan
Satgas PRR Dorong Aceh Sinkronkan Program dengan Pusat untuk Pemulihan

Jakarta, CNN Indonesia

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mendorong pemerintah daerah di Aceh menyinkronkan program pemulihan fisik dan nonfisik. Langkah ini bertujuan agar daerah dapat melengkapi sektor pembangunan yang belum terakomodasi oleh kementerian atau lembaga pusat.

Example 300x600

Anjuran ini ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Pembangunan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6).

Acuan utama pemulihan tahap permanen adalah Rencana Induk (Renduk) Pascabencana Sumatra periode 2026-2028. Renduk mencakup 11.520 kegiatan dengan total anggaran Rp100,166 triliun yang melibatkan 23 kementerian dan lembaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu contoh konkret yang diangkat Tito adalah rencana Kementerian Pekerjaan Umum yang telah menyiapkan 1.141 kegiatan khusus untuk perbaikan infrastruktur fisik. Pemerintah daerah diharapkan mengambil peran pada infrastruktur lain yang belum masuk dalam cakupan program tersebut.

“Inilah yang sebenarnya perlu kita sinkronkan. Ini yang kita ingin minta detail dari 1.141 ini ke mana aja supaya rekan-rekan di kabupaten, kota, provinsi tahu, oh mengerjakan yang itu. Berarti yang belum dikerjakan ini yang menjadi kewajiban daerah mengerjakan yang mana,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6).

Tanpa peta kerja yang jelas, risiko tumpang tindih antara program pusat dan daerah menjadi hambatan nyata di lapangan. Tito menegaskan pihaknya akan segera meminta seluruh kementerian dan lembaga merinci program kerja beserta titik lokasinya.

Transparansi data itu dinilai krusial agar daerah dapat memetakan wilayah yang belum tertangani dan mengisi kekosongan pemulihan yang masih tersisa. Dengan begitu, setiap pihak tahu persis wilayah dan sektor mana yang menjadi tanggung jawabnya.

Dari sisi fiskal, Tito menilai pemerintah daerah terdampak di Aceh memiliki kapasitas yang cukup untuk bergerak. Kuncinya ada pada kemampuan daerah memaksimalkan tambahan Transfer ke Daerah (TKD) senilai Rp10,6 triliun yang telah disalurkan ke wilayah terdampak.

Selain TKD, skema hibah antardaerah juga dapat dioptimalkan. Daerah yang menerima alokasi TKD lebih besar dapat membantu daerah terdampak yang memiliki anggaran lebih terbatas.

Meski anggaran telah tersedia, Tito menyoroti lambatnya pengajuan dana pemulihan dari kementerian dan lembaga kepada Kementerian Keuangan. Ia tidak ingin proses pemulihan permanen di lapangan terhambat oleh urusan administrasi dan birokrasi internal.

“Saya bilang uang sudah disiapkan oleh Menteri Keuangan, presiden sudah keluarkan perintah direktif surat resminya ada, alokasi anggarannya sudah. Alokasi anggarannya sudah, masyarakat sudah nunggu terus kok enggak diajukan? Akhirnya mengajukan semua, tapi ada yang masih proses, di kementerian/lembaga sendiri internal,” tegas dia.

Sebagai informasi, kunjungan kerja Tito ke Aceh merupakan bagian dari tahapan krusial rehabilitasi dan rekonstruksi permanen. Kunjungan ini sekaligus menjadi tindak lanjut atas Renduk Pascabencana Sumatra yang disusun lintas sektor bersama pemerintah daerah untuk masa pemulihan tiga tahun ke depan, yakni 2026-2028.

Agenda strategis ini dihadiri Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Kepala Posko Satgas PRR Irjen Pol. Wahyu Bintono, serta perwakilan kementerian dan lembaga yang tergabung dalam Satgas PRR. Selain itu, turut hadir Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta para bupati dan wali kota se-Provinsi Aceh.

(rir)

Add as a preferred
source on Google