Lifestyle

Melipir Sejenak Dari Rutinitas di Puri Indah Inn Kaliurang Yogyakarta

18
melipir-sejenak-dari-rutinitas-di-puri-indah-inn-kaliurang-yogyakarta
Melipir Sejenak Dari Rutinitas di Puri Indah Inn Kaliurang Yogyakarta
Melipir Sejenak Dari Rutinitas di Puri Indah Inn Kaliurang Yogyakarta

Melipir sejenak dari rutinitas di Puri Indah Inn Kaliurang Yogyakarta | Travel, Featured & Hotel Review | Januari 2026

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengajukan permohonan sebagai awardee dari sebuah pelatihan menulis yang dibimbing oleh Okky Madasari. Salah satu mentor menulis yang juga adalah founder dari OM Institute. Salah satu komunitas yang mengajak para penulis untuk kerap bertumbuh dari waktu ke waktu dan mengijinkan saya berada di dalam nya

Tak berapa lama pengumuman para penerima awardee di sosialisasikan dan saya tak henti mengucap syukur karena nama saya ada di dalamnya. Alhamdulillah.

Dari pengumuman ini tertera jelas bahwa acara pelatihan dengan tema writing retreat, akan diadakan di Puri Indah Inn yang berada di Kaliurang Yogyakarta. Hati ini tentu saja senang luar biasa. Bukan hanya tentang kesempatan belajar dan bertemu kembali di Okky Madasari tapi juga karena Yogyakarta sudah “tinggal” dengan apiknya di hati saya belakangan tahun. Ada satu asa saya yang terpapar di daerah istimewa ini dan selalu membuat saya rindu untuk kembali, kembali, dan kembali.

Skema teknis pun disampaikan. Semua peserta diminta untuk datang di H-1 pelaksanaan pelatihan. Karena saat tiba di Yogyakarta waktu check in masih beberapa jam lagi, saya memutuskan untuk mampir ke sebuah pameran buku, menikmati makan siang yang umami bersama seorang sahabat, sebelum akhirnya memesan taxi on-line untuk menggapai kawasan Kaliurang. Tempat di mana kesejukan udara, adem, dan lingkungan senyap, masih dapat kita rasakan.

Saya mendadak punya harapan tinggi akan keberadaan Puri Indah Inn. Karena ini bakal jadi kali pertama saya menginap di Kaliurang.

Dalam perjalanan, pak supir yang mengantarkan saya ke Kaliurang menyampaikan informasi yang cukup membuat saya berpikir (ekstra). Menurut beliau, menimbang letak Puri Indah Inn yang cukup tinggi (baca: di dataran yang paling tinggi dalam kawasan Kaliurang), mobil sewaan biasanya hanya melayani pengantaran tamu maksimum sampai pkl. 20.00 WIB saja. Jarang ada yang berani jalan lebih dari waktu tersebut. Kenapa? Faktor keamanan dan kenyamanan lah yang jadi sorotan. Khususnya saat supir menyusur jalan pulang.

Saya tidak menduga akan menerima informasi seperti ini. Karena bagi saya untuk sebuah daerah tujuan wisata populer dan humanis seperti Yogyakarta, isu keamanan dan kenyamanan adalah dua faktor yang wajib dijaga dan dimiliki. Bukan hanya dijamin oleh pemerintah setempat tapi juga oleh rakyat dan lingkungan di mana destinasi wisata itu berada. Pewisata pun berhak mendapatkan dua hal tersebut tanpa terkecuali.

Dan hei bukankah Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang begitu menjaga kehormatan, kenyamanan, dan keamanan tamu yang datang?

Tapi baiklah. Kita tinggalkan dulu masalah ini ya. Panjang nanti ceritanya.

Tempat Istirahat yang Lapang

Di sore hari saat saya tiba, ternyata Puri Indah Inn bukanlah tempat yang menjorok dan jauh dari mana-mana. Bukan pula tempat yang butuh perjuangan ekstra untuk digapai. Memang mobil yang saya tumpangi harus menanjak lumayan tinggi. Tapi saya tetap merasa nyaman karena pernah merasakan mobil nge-ngas menanjak dengan posisi yang lebih tinggi dan lebih sulit dari Kaliurang.

Tadi, jalan yang saya lewati tidaklah semenakutkan seperti yang diceritakan. Semua, bagi saya, oke-oke aja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sepanjang perjalanan saya malah bertemu berbagai tempat wisata kuliner yang sudah populer di media sosial. Salah satunya adalah Warung Kopi Klotok yang menyajikan masakan rumahan dan dihidangkan secara buffet. Antriannya mengular terutama di waktu-waktu makan di akhir pekan. Salah dua masakan yang diincar di tempat ini adalah sayur lodeh dan tempe mendoannya. Saya pernah ke sini dua kali tahunan yang lalu. Tempat yang menurut saya selain menjual masakan enak juga membangun suasana berbeda. Nuansa pedesaan, lingkungan kampung sederhana lengkap dengan sawah, dan berbagai hal yang mengingatkan kita akan rumah nenek.

Ah mendadak jadi ngiler dan ingat rumah panggung kayu nenek saya di Pagaralam, Sumatera Selatan.

Tiba di Puri Indah Inn sekitar pkl. 15.00 WIB, penginapan ini tampak begitu sepi dan lengang. Yang langsung terlihat adalah sebuah kompleks penginapan (baca: perumahan mini) dengan sebuah rumah kayu besar yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi. Kemudian ada sebuah rumah kecil dengan fasad yang bertuliskan Puri Indah Inn dalam huruf-huruf yang berukuran besar.

Mobil yang saya tumpangi masuk dan parkir persis di depan rumah kecil yang ternyata berfungsi sebagai ruang kerja penerimaan tamu dan work station bagi para petugas hotel.

Tidak ada seorang petugas pun saat saya datang. Jadi setelah semua barang diturunkan dari mobil, saya memutuskan untuk berkeliling. Saya kemudian bertemu dengan tukang taman yang akhirnya memanggil seorang petugas penerima tamu. Proses administrasi berjalan lancar hingga kemudian datang petugas tambahan untuk membawakan koper saya menuju kamar.

Melewati rumah yang besar di tengah tadi, saya sengaja berjalan pelan sembari menikmati kebersihan dan penataan rapi yang mampir ke netra. Rumput dan pohon bertumbuh subur dengan banyak jalan setapak yang bisa kita injak tanpa harus mengganggu tanaman yang ada di sekitar langkah kita. Sekilas saya mengintip lewat vitrase tipis yang terbuka, rumah besar ini tampak seperti unit suite yang bisa diinapi oleh keluarga besar. Lengkap dengan dapur, ruang keluarga, ruang tidur, dan teras depan yang tampak lapang untuk berkumpul dan bercengkrama.

Kamar Lama yang Sederhana

Kamar untuk saya ternyata ada di balik rumah besar tadi. Ada sekitar tujuh unit kamar dengan tipe yang sama. Berjejer dalam ukuran yang sama seperti kontrakan di daerah industri. Setiap kamar memiliki teras dengan dua buah bangku dan meja bulat. Semua terbuat dari kayu. Nyaman untuk duduk-duduk. Saya bahkan berulang kali ngobrol dan berdiskusi dengan teman-teman sesama peserta pelatihan hingga berjam-jam di teras ini.

Petugas yang mengantarkan saya membukakan pintu dengan menggunakan kunci manual model lama. Tapi sebelum masuk tadi, saya menyadari bahwa semua kamar yang sejajar dengan saya tampak sepi dan hening. Belum ada satu pun tamu yang datang. Menurut petugas, semua kamar nanti akan terisi oleh tamu yang akan menghadiri pelatihan yang saya ikuti. Cuma ada satu tamu perempuan Malaysia yang sudah check-in tapi kamarnya tidak di bagian ini.

Belakangan saya jadi (sangat) akrab dengan peserta dari Malaysia ini. Rafidah namanya. Kami bahkan menghabiskan waktu bersama saat writing retreat selesai. Saya mengajak Raf berkeliling kota Yogyakarta, menikmati bermangkuk-mangkuk Ramen lezat, dan menginap bersama di hotel yang sudah saya booking, sebelum akhirnya saya mengantarkan dia ke stasiun Tugu, naik KRL ke bandara YIA lalu terbang kembali ke Malaysia.

Baiklah. Saya akhirnya memutuskan untuk masuk dan istirahat sejenak. Sekalian memotret fasilitas yang ada di dalam.

Seperti tampak di sisi luarnya, kamar standard ini tampil sederhana saja. Ada kasur tipe queen dengan warna natural yang dilengkapi oleh sebuah bed runner tanpa motif. Seandainya menggunakan batik pasti lebih cakep deh. Ada sebuah lukisan di salah satu sisi dinding. Ada meja bulat beralaskan kaca dan tempat duduk kayu persis seperti di luar. Bisalah untuk menaruh barang bawaan atau bekerja. Saya memutuskan untuk menggunakan meja kursi ini sebagai ruang kerja mini. Meski sangat terbatas. Tapi setidaknya saya bisa mengerjakan tugas-tugas pelatihan di meja ini.

Di seberang kasur ada sebuah TV flat dan di bawahnya tersedia meja panjang dengan satu kursi lagi. TV nya tidak berfungsi dengan baik. Begitu pun dengan remote nya. Jadi kalau saya mau menyalakan TV dan mengganti program, berarti harus memencet tombol samping secara manual. Pernah terjadi di satu malam, saat saya sudah mengantuk dan terlalu malas untuk mematikan TV, akhirnya itu TV menyala terus sampai pagi. Astaga.

Di sisi belakang kamar ada sebuah lemari/buffet hitam yang lumayan fungsional. Saya naruh koper kecil dan menggantung pakaian di sini. Lalu ada cangkir, penanak air, dan gelas serta berbagai compliment sehari-hari. Karena stok nya tidak banyak, saya usulkan teman-teman membawa teh dan kopi sachet tambahan ya. Beberapa Pop-mie berkuah juga kayaknya jadi usulan yang bagus. Berasa banget butuhnya saat udara dingin menusuk dan keheningan begitu tercipta, sementara lambung suka minta diisi tanpa mengenal waktu. Sulit pula untuk mencari petugas yang siap 1x24jam untuk menanggapi kebutuhan (mendadak) kita.

Jadi untuk kedamaian dan keamanan “kampung tengah” sangat saya anjurkan untuk belanja berbagai ransum dulu di mini market dalam perjalanan menuju Puri Indah Inn. Jika pun ada warung, kita butuh tenaga ekstra untuk jalan kaki. Lumayan jauh sih menurut saya.

Satu yang kudu atau seharusnya disediakan juga oleh pihak hotel adalah room slipper. Berpengaruh sih buat saya yang gak kuat dengan dinginnya lantai dan gampang masuk angin kalau menginjak tegel. Apalagi di tempat yang udaranya sejuk seperti di Kaliurang dan shower air panasnya lebih sering tidak berfungsi. Lumayan menggigil meski saya tipe penghobi udara dan suasana dingin. Untungnya di dalam koper saya selalu ada stok slipper yang saya pungut dari setiap hotel yang saya inapi. Beneran membantu.

Di depan kamar ada sebuah tanah lapang yang cukup luas dengan rumput gajah yang tumbuh subur. Persis di seberang kamar saya ada ruang terbuka dengan banyak tempat duduk untuk ngumpul-ngumpul. Saat sore, malam, dan sehabis subuh, biasanya tempat ini “dikuasai” oleh sekumpulan monyet yang memang hidup liar di hutan yang berada di seberang di depan area tersebut.

Petugas hotel sering berpesan agar tamu tidak meninggalkan/menaruh makanan di teras kamar karena itu akan mengundang sekawanan monyet untuk “bertamu.” Hampir tiap malam saya suka terkaget-kaget karena sekawanan binatang ini sering berlarian dan berkejar-kejaran di atas atap kamar. Derap langkah yang seru itu lumayan mengganggu waktu tidur. Apalagi jika ditambahi teriakan seru di antara mereka. Ya ampun dasar bocah. Pengen rasanya ikutan kejar-kejaran biar rame sekalian. Atau ngajak mereka main bola di halaman depan kamar.

Di hari esoknya, saat terselip jam istirahat di antara waktu pelatihan, saya menyempatkan diri melihat dan memotret beberapa fasilitas yang ada di Puri Indah Inn. Di gedung di mana ruang pelatihan berada, ada beberapa kamar lain di berbagai sisi bangunan. Yang cukup menarik perhatian saya adalah sederetan kamar yang langsung berhadapan dengan sebuah area serbaguna tanpa atap. Di area ini bisa digunakan untuk acara berkelompok dan makan bersama. Dan ini saya lihat saat di satu malam ada acara seperti ini. Pihak hotel menyediakan sajian makanan buffet, sound system, tempat duduk beserta meja, dan acara hiburan lainnya.

Karena masih ada waktu lowong, saya memutuskan untuk menyusur sekeliling hotel sembari mencari tempat ngopi, nongkrong, dan menikmati kudapan. Membunuh waktu yang ada sebelum acara refreshing and opening writing retreat diadakan.

Berjalan pelan, saya menemukan sebuah angkringan dengan ukuran luas persis di samping hotel. Tadi saat dilewati parkirannya penuh banget. Ternyata tambah penuh saat saya datang. Pinggiran jalan padat oleh puluhan sepeda motor yang rapi ditunggui oleh seorang petugas.

Angkringan ini punya dua tempat. Satu seperti rumah pohon dengan teras belakang yang menghadap ke hutan, sementara satu lagi di sebuah tanah lapang yang jauh lebih besar dengan bangunan resto yang cukup megah.

Saya memesan setangkup roti bakar keju dan secangkir kopi hitam. Karena tempatnya terbatas dan setiap meja dan kursi sudah penuh dengan tamu, saya akhirnya diundang sepasang suami istri untuk bergabung di meja mereka. Kami akhirnya malah asyik mengobrol berjam-jam. Lupa waktu. Saya malah tersadar harus balik ke hotel karena sebuah whatsapp dari panitia mampir di gawai. Acara perkenalan dan refreshing akan segera dimulai dalam 30 menit mendatang.

Saya akhirnya, di hari-hari berikutnya, jadi sering bolak-balik ke angkringan ini setelah acara writing retreat selesai atau di sela waktu istirahat. Menyenangkan sekali berjalan-jalan sebentar di tengah kesibukan menyelesaikan lembaran tulisan yang diarahkan oleh Okky Madasari. Setidaknya menyegarkan pandangan dan merasakan udara sejuk dan kabut yang sering datang di pagi dan sore hari.

Writing Retreat yang Merabuk Jiwa

Konsep melipir sejenak dari rutinitas begitu saya rasakan saat writing retreat berlangsung selama tiga hari. Setidaknya dengan mengikuti acara yang diorganisir oleh OM Institute ini, saya bisa berkenalan dengan banyak penulis baru dengan latar belakang yang beragam sembari waktu barang sejenak untuk meng-upgrade kemampuan menulis, belajar dari ahlinya.

Dari perkenalan awal, saya mencatat bahwa para peserta beranjak dari profesi yang berbeda-beda. Ada yang masih mahasiswa, pekerja seni, dosen, pegawai swasta, mantan ASN, penulis naskah, penggiat budaya dan lingkungan, pengacara (pengangguran banyak acara) seperti saya, dan masih banyak lagi. Keberagaman ini justru menjadikan writing retreat ini penuh warna. Dan itu terbukti saat masing-masing dari kami diminta untuk menulis sebuah artikel singkat yang berangkat dari pengalaman pribadi atau topik yang menarik minat kami. Cara penulisan yang tentu saja mengikuti arahan teori yang sudah diberikan oleh Okky Madasari, sebagai pelatih di event ini.

Sosiolog dan kini aktif berbicara di banyak kesempatan atau podcast tentang politik praktis di tanah air ini, tak hanya menyampaikan teori tentang menyusun tulisan yang “matang” tapi juga membuat para peserta berlatih langsung kemudian menghadirkannya di hadapan semua yang hadir.

Setiap essay yang dibacakan langsung mendapatkan masukan, penyegaran, dan kritik membangun dari Okky. Writing tutor yang meraih gelar doktor di salah satu universitas bergengsi di Singapura ini, bahkan memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk menyampaikan pendapat atas essay yang dibacakan.

Sebagai orang yang senang mendapatkan fresh idea dan sudut pandang yang berbeda dari pihak yang berkompeten, saya sangat menikmati waktu-waktu seperti ini. Bagi saya kritikan atau masukan tentunya akan membuat “mata kita” lebih terbuka dan responsif atas sudut pandang orang lain. Jadi saya tidak menutup akses untuk apa pun yang bisa menjadikan tulisan kita lebih baik.

Yang juga begitu saya rasakan adalah rasa akrab yang terbangun di antara peserta. Saya jadi (kembali) mengenal beragam profesi yang jika ditelusuri punya kemampuan menulis yang tidak kaleng-kaleng. Jika pun mendapatkan masukan dari Okky, untaian kalimat berbobot itu juga didengarkan oleh yang lain. Di sinilah kesempatan saya mencuri kesempatan untuk turut menyimak dan turut memahami hal yang diolah pada saat itu, untuk diri saya pribadi.

Selama masa pelatihan berlangsung, saya berkenalan dengan beberapa anggota OM Institute yang mengawal terlaksananya acara ini. Mas Kukuh yang menjadi pembawa acara dan luwes memberikan arahan. Keberadaan Mas Kukuh dan candaannya membuat suasana jadi lebih hidup serta cerah ceria.

Lalu ada Ray (Raymizard Alifian) yang membantu mengkoordinir event ini dengan pihak Puri Indah Inn. Ray juga lah yang menjamin kelancaran sambungan internet selama kami berlatih agar bisa menggali berbagai informasi untuk tulisan yang dihadirkan. Dari obrolan berjam-jam di beberapa kesempatan, ternyata saat skripsi dia melakukan penelitian kepustakaan (studi pustaka) tentang Ternate dan Tidore. Ray sendiri belum pernah menginjakkan kaki di kedua kota di timur Maluku ini. Tapi pengetahuannya cukup luas untuk diajak berdiskusi banyak hal tentang Ternate dan Tidore. Khususnya dari sisi sejarah yang terkupas dan seru untuk kami bahas. Saya dan Ray bahkan terlibat tukar pendapat dan informasi hingga lewat tengah malam. Saking asyiknya.

Ray pun begitu antusias mendengarkan saat saya membaca materi tulisan saya. Kala itu saya membahas tentang Puta Dino Kayangan. Jenama wastra Tidore yang sempat hilang selama ratusan tahun lamanya. Satu brand kenamaan dan kebanggaan Tidore yang sekarang menjejak popularitas dan prestasi yang terus mendunia.

Writing retreat kemudian ditutup dengan ulasan panjang dan sebuah kesimpulan yang memompa semangat saya untuk terus menggali ilmu di bidang kepenulisan. Apalagi saat ini saya sudah “tercebur” jauh ke dalam dengan terlibat secara aktif di sebuah indie publisher bernama Annie Nugraha Mediatama.

Semoga dengan semangat yang dibawa dari writing retreat bersama OM Institute ini, saya bisa lebih banyak menyumbangkan pemikiran dan berfungsi sebagai technical operation director yang lebih mumpuni sembari – tentu saja – tetap menulis, menghasilkan karya tulis yang bisa dibaca oleh orang banyak dan menjadi manfaat bagi para pecinta dunia literasi di mana pun mereka berada.

Harapan saya, di kota dengan minat pembaca tertinggi di Indonesia ini, saya bisa membangun sebuah perpustakaan yang bisa diakses oleh orang banyak, menjadi pusat kegiatan menulis, wadah untuk berkreasi dan meng-upgrade diri, serta memberikan kesempatan kepada banyak penulis baru untuk bisa tampil, berkembang, dan berkarya bersama Annie Nugraha Mediatama.

Saat meninggalkan Puri Indah Inn menuju kota Yogyakarta, saya menanamkan tekad kuat di dalam hati untuk konsisten di dunia kepenulisan, penerbitan buku, dan semua hal yang menjadi sinergi untuk kedua hal ini.

Saya dan Rafidah bahkan sempat membahas tentang hal ini saat semalam kami menginap di tempat yang sama. Di hotel di kawasan Malioboro dan walking distance dengan Stasiun Tugu inilah suntikan dorongan dan semangat disampaikan oleh sang penulis skenario ini. Bahkan Rafidah sempat berjanji bahwa jika perpustakaan yang saya impikan tersebut terwujud, dia akan menjadi salah seorang yang pertama menginjakkan kaki di sana. Dia sangat ingin kembali ke Yogyakarta lebih lama dan kembali menyaksikan bahwa daerah istimewa di NKRI ini kembali memecut semangat untuk tetap menjadi daerah dengan tingkat minat membaca tertinggi di Indonesia.

Mata saya berkaca-kaca. Tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali dukungan semangat yang datang dari mereka yang ada di sekitar kita.

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Exit mobile version